Memburu Penjahat Perang Bosnia

Zaenal Bhakti

The Hunting Party (2007).

Richard Gere – Simon Hunt
Duck – Terrence Howard
Franklin – James Brolin
Benyamin – Jesse Eisenberg
Skenario – Richard Shepard
Sutradara – Richard Shepard

Entah kebetulan atau tidak. Saat menulis coretan ini, mantan Presiden Serbia, Radovan Karadzik, salah seorang penjahat perang Bosnia yang paling dicari ditangkap di Serbia. Pemerintah Serbia mengumumkan penangkapan itu, Selasa lalu (22/07).

Radovan Karadzic, bersama mantan presiden Yugoslavia, Slobodan Milosevic yang meninggal tahun 2006 sebelum pengadilan atas dirinya dimulai, dipersalahkan atas pembantaian 12 ribu orang selama 43 bulan pengepungan Sarajevo dan pembantaian delapan ribu Muslim di Srebrenica. Peristiwa pengepungan itu sendiri terjadi tahun 1995.

Kenapa kebetulan? Karena film The Hunting Party yang kita bicarakan hari ini, bercerita tentang perburuan wartawan perang terhadap salah seorang komandan pasukan milisi serbia yang secara kejam membantai warga sipil, dari kalangan muslim Bosnia.

Only the most ridiculous parts of this story are true.

Reporter Simon hunt (Richard Geere) dan Kamerawan Duck (Terrence Howard) adalah pasangan jurnalis televisi yang khusus meliput daerah konflik. Hampir semua medan perang telah mereka liput, mulai dari El Salvador, Perang Teluk 1, Jalur Gaza hingga Bosnia. Hubungan Hunt dan Duck, memang bukan semata reporter dan kamerawan, tapi hubungan itu telah menjadi “kawan sejati” dimana keduanya saling memahami satu sama lain. Hasil liputan mereka kemudian mendapat penghargaan dari kalangan wartawan Amerika, karena dinilai sangat aktual dan berani.

Titik balik hubungan keduanya terjadi justru ketika mereka meliput pembantain warga muslim di sebuah desa di bosnia. Simon Hunt, melaporkan peristiwa pembantaian itu dengan sangat emosional. Saat siaran langsung (live) Hunt melaporkan kekejaman itu dengan sumpah serapah, ia bahkan tanpa sungkan menenggak minuman keras sebelum master kontrol di stasiun pusat memutus gambarnya. Dengan menggunakan teknik flash back, penonton kemudian tahu, aksi mabuk simon hunt itu terjadi karena beberapa saat sebelum siaran langsung, kekasih Hunt, seorang wanita muslim yang tengah mengandung anak mereka jadi korban pembantaian di desa itu. Lebih perih lagi, saat itu, ia juga bertemu muka dengan komandan milisi yang memerintahkan pembantaian, yakni The Fox.

Akibatnya mudah ditebak. Seusai siaran langsung Hunt dipecat dari stasiun televisi dan Duck ditarik jadi koordinator kamerawan di kantor pusat. Sejak itu hubungan mereka terputus. Hunt menghilang dari jagat kewartawanan Amerika Serikat, meski tetap menjadi reporter perang untuk sejumlah stasiun televisi dari beberapa negara.

Lima tahun setelah perang berlalu. Duck bersama tim dari stasiun televisinya, presenter Franklin Harris (James Brolin) dan Reporter Benjamin Strauss (Jesse Eisenberg) kembali ke Bosnia. Mereka datang tidak untuk meliput perang, tapi peringatan perdamaian di Bosnia.

Cerita kembali bergulir, ketika Duck bertemu lagi dengan Simon Hunt, yang meyakinkan Duck bahwa ia mempunyai informasi tentang keberadaan The Fox, sang penjahat perang yang dinyatakan bersalah atas pemusnahan etnik saat perang dulu. Pemerintah Serbia telah mengeluarkan pengumuman yang berisi hadiah sebesar 5 juta Dollar Amerika, bagi siapa saja yang mengetahui keberadaan The Fox. Singkat cerita, Hunt berhasil menyakinkan Duck, untuk mencari The Fox.

Tidak hanya Duck, Benjamin, reporter muda yang juga anak wakil pemilik jaringan stasiun ikut dalam perburuan tersebut. Alasan kenapa keduanya menerima Benjamin, yang baru lulus Harvard dan belum punya pengalaman meliput konflik, semata karena benjamin dapat menjamin, bahwa hasil perburuan mereka ini akan ditayangkan di stasiun televisi mereka dan semua biaya akan ditanggung perusahaan.

Perburuan dimulai dari sebuah desa di Montenegro, yang diyakini dihuni oleh para pendukung The Fox. Di sini lah ketegangan demi ketegangan terus terjadi, apalagi masyarakat desa tersebut sangat menghormati dan melindungi The Fox, yang dianggap sebagai pahlawan perang mereka. Akhirnya mereka berjumpa dengan The Fox , tapi dalam kondisi ditawan. The Fox menganggap mereka agen CIA yang memang memburunya, ia tidak percaya penjelasan Hunt bahwa mereka adalah wartawan yang hanya ingin mewawancarainya. Disaat genting itu, sepasukan CIA menyerbu dan membebaskan mereka. Operasi ini berhasil menewaskan anak buah The Fox, namun sang buronan berhasil melarikan diri.

Pada saat pembebasan itulah, dialog menarik terjadi antara Hunt dengan komandan pasukan CIA. Hunt menyalahkan konspirasi semua lembaga kemanan seperti tentara serbia, NATO dan CIA yang dinilai sengaja tidak ingin menangkap penjahat perang itu. Iming-iming hadiah 5 Juta Dollar Amerika bagi mereka yang dapat menunjukkan keberadaan The Fox, hanya kebohongan belaka. “Bagaimana mungkin tentara serbia, NATO dan CIA tidak sanggup menemukan bajingan itu, sementara tiga orang wartawan berhasil menemukannya hanya dalam dua hari”. Begitu teriak Hunt.

Cerita terus berlanjut. Hunt, Duck, dan Benjamin, akhirnya memutuskan untuk menangkap sendiri The Fox. Mereka berhasil membekuknya saat berburu serigala, ditengah hutan Celebreci. Sebagai wartawan mereka tentu tidak mempunyai kewenangan menahan, maka jalan yang mereka tempuh adalah melepaskan The Fox di tengah-tengah warga muslim Bosnia, yang memang sangat membencinya. Inilah akhir film itu, sang penjahat perang dikejar-kejar oleh orang-orang yang menjadi korban pembantaian.

Secara keseluruhan Film ini, menarik ditonton dan sangat logis. Karakter yang dibangun cukup kuat menyakinkan bahwa apa yang terjadi memang nyata. Selain ketegangan-ketegangan perang dan perburuan the fox, film ini juga berhasil membangun suasana lucu yang tidak dibuat-buat. Tidak salah jika diawal film sutradara telah menulis kalimat ” Only the most ridiculous parts of this story are true”. Hanya bagian-bagian konyol saja yang merupakan cerita sesungguhnya.

Namun jika dikaitkan dengan lika-liku kehidupan jurnalis televisi, film ini tidak direkomendasikan. Sebab sejatinya film ini bercerita tentang dendam dan kenekatan seseorang yang kebetulan wartawan, sangat jauh jika dibandingkan dengan film The Insider (diperankan oleh Al Pacino) yang memang dari awal hingga akhir bercerita tentang konflik kepentingan seorang jurnalis televisi saat menjalankan profesinya.

Moral Film ini lebih pada soal kemunafikan lembaga-lembaga internasional, termasuk NATO maupun CIA, yang tidak serius menangkap penjahat perang. Meski sudah dinyatakan bersalah sebagai penjahat perang yang bertanggung jawab atas pembantaian ribuan muslim bosnia, namun baik CIA maupun NATO seolah tidak serius menangkap sang penjahat. Lagi-lagi dibalik sikap lembaga tersebut, adanya konspirasi tingkat tinggi, yang memang menghendaki The Fox tetap bebas.

Film ini mengingatkan kita tentang cerita penangkapan Karadzik seperti diulas diwal tulisan. Di media massa digambarkan, Karadzik ditangkap setelah 13 tahun dinyatakan sebagai penjahat perang oleh Mahkamah Internasional di Den Haag. Konon, kenapa baru kini karadzik ditangkap, itu karena Serbia akan bergabung menjadi anggota Uni-Eropa. Tentunya, masyarakat eropa tidak ingin ada penjahat perang yang berkeliaran bebas di wilayah mereka. Tapi bagaimana kalau Serbia belum atau tidak ingin bergabung ke Uni eropa? Bukan tak mungkin Karadzic masih bebas, nah pada kondisi itu, mungkin wartawan sekaliber Simon Hunt dapat dimintai bantuan untuk menangkapnya.

*) dipresentasikan di pertemuan Klub Buku dan Film SCTV, 24 Juli 2008.

About these ads

4 Responses to “Memburu Penjahat Perang Bosnia”

  1. saya Says:

    Cerita ini diangkat Richard Shepard ke layar lebar sebenarnya karena terinspirasi dari sebuah artikel panjang berjudul ”What I Did on My Summer Vacation” karya wartawan Scott Anderson. Artikel itu bercerita tentang Bosnia di tahun 2000. Ketika itu lima wartawan dari berbagai penjuru dunia nongkrong di sebuah bar dan saling berceloteh tentang masa lalu mereka soal neraka yang mereka alami selama perang berkecamuk di negara bekas Yugoslavia itu.

    Dalam keadaan setengah mabuk, kelima wartawan lantas saling menantang untuk bisa menemui (sekaligus mewawancarai, dan kalau mungkin menangkap) si penjagal terkemuka Radovan Karadzic. Selain alkohol, faktor pendorong kesintingan itu adalah gosip yang bertebaran di harian lokal yang mengatakan bahwa Karadzic tengah bersembunyi di Desa Celebici di Republik Srpska, dekat perbatasan Montenegro.

    Perburuan yang kemudian menghasilkan berbagai insiden—lucu ataupun konyol sekaligus menegangkan—memberikan kesimpulan bagi wartawan Scott Anderson dalam tulisan features di majalah Esquire: NATO, CIA, atau bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sama sekali tak berminat menangkap si penjagal itu. Bahkan ada beberapa insiden yang memperlihatkan upaya penangkapan itu disabotase. Inilah pemikiran utama dari artikel itu.

    Tentang pendapat Bang Zaenal bahwa film ini tidak direkomendasikan bagi mereka para jurnalis atau jurnalis televisi, saya kurang setuju. Benar bahwa apa yang dilakukan Simon Hunt berlatar dendam. Namun, roh film ini yang bisa ditangkap dari sisi jurnalisme adalah, pekerjaan seorang wartawan itu tak melulu hanya menulis berita di kantor atau menyuruh reporter ke lapangan.

    Sejatinya, liputan dari lapangan atau laporan langsung, bagi seorang wartawan adalah suatu hal yang penting. Apalagi jika dikaitkan dengan wartawan perang, arena peperangan itu adalah wilayah kerjanya. Intinya, pekerjaan seorang wartawan perang itu butuh nyali dan otak. Tanpa itu, biarkan dia menulis berita perang dengan imajinasi yang ada dari balik meja redaksi, tanpa pernah tahu bagaimana perang itu sesungguhnya. Benar atau tidaknya tentu kita bisa bertanya pada Bung Merdy dan Bung Awan yang telah mencicipi bau mesiu dari arena peperangan sesungguhnya.

  2. syelviapoe3 Says:

    Oh..saya baru tahu kalo ada film ini…
    Bagus juga resensinya…

  3. u2 Says:

    filmnya kerennnnnn….
    ya sih si tokoh richard gere nya ternyata nyimpan dendam coz pacar/istrinya yg lg ngandung anaknya tewas di bom ma tu penjahat.

  4. Hera Says:

    saya baru nonton film ini tadi siang

    langsung penasaran, apakah si Radoslav Bogdanovic yang di film itu maksudnya adalah Radovan Kardzic yang baru aja ditangkap..

    ternyata iya

    Filmnya bagus,
    cuma dialognya menurut saya terlalu “mudah” untuk dimengerti..
    pinginnya dibikin susah dikit, biar makin tegang filmnya kan udah bagus banget..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: