Archive for the ‘Uncategorized’ Category

The Lost Symbol

October 9, 2009

symbol

Miko Toro

Sebetulnya, Lost Symbol tidak masuk dalam daftar buku, yang akan saya baca dalam waktu dekat. Tapi, seorang wanita yang telah mencuri hati saya tiba-tiba memberi tahu, “Mungkin kamu tertarik dengan Lost Symbol. Ada unsur ilmiah bercampur mistis di dalamnya…”

Oh ya?

Terlepas dari ketertarikan saya pada si pemberi rekomendasi, saya memang suka hal-hal berbau mistis ilmiah. Bagi saya, hal-hal itu adalah final frontier. Harus dijelajahi. Jadi, saya langsung beli buku itu.

Jalan cerita Lost Symbol, tentu tidak akan saya ceritakan disini, agar kenikmatan Anda membaca nantinya, tidak berkurang. Hanya, sebagai perkenalan akan isinya: Lost Symbol tidak jauh beda dengan karya-karya Dan Brown sebelumnya. Penuh ketegangan. Diselang-seling aneka kejutan. Khusus Lost Symbol, itu semua bercampur dengan berbagai informasi menarik tentang sejarah Amerika Serikat, kota Washington DC, organisasi setengah rahasia Freemasonry dan Noetic Sciences

(more…)

Al Chaidar: “Ini Bukan Pengajian Biasa, Tapi Korporasi Jihad yang Mencengangkan”

August 28, 2009

Cover_NII_Antara Fitnah dan RealitaJihad tak harus selalu diurus dengan  muka serius dan urat tegang.  Dia bisa lucu dan jenaka karena bagi mereka : jihad adalah juga wisata umat, yang di dalamnya, terkadang, ada banyak pernikahan.

Dua belas tahun lalu, Al Chaidar sedang menyiapkan tesis akhirnya di Jurusan Antropologi. Dosennya, Profesor Parsudi Suparlan Almarhum, waktu itu meminta tiap mahasiswanya meneliti suku terasing.  Sebagai orang Aceh, Chaidar berpikir meneliti suku sendiri, yang kemudian urung karena melihat Aceh sudah sangat kosmopolit.

Dalam pencariannya, Chaidar bertemu dengan sebuah kelompok kecil di Musholla Fisip UI, yang belakangan dikenal adalah bagian dari kelompok Darul Islam.   Kelompok tersebut dikenal inferior. Beberapa temannya sempat mengingatkannya agar tidak berteman apalagi mengikuti kegiatan kelompok tersebut.  Tapi, penelitian mengharuskannya terlibat jauh.  “Ini kelompok DI/NII, saya berkenalan dengan mereka dan sempat ikut ke Afghanistan dan Mindanao untuk menulis dan meneliti.”

Yang terkejut dengan hasil penelitiannya adalah Profesor Parsudi. “Mereka akan jadi teroris,” kata Parsudi waktu itu. Konsep dan pemikiran kelompok tersebut tentang negara, target dan cara mereka mencapai tujuan itu, menjadi patokan kesimpulan itu.  Mereka bukan sekadar gerakan tapi sebuah aktifivitas radikal.  Yang paling mengejutkan adalah mereka begitu mudahnya menilai nyawa mereka dan juga “lawan”nya sebagai sesuatu yang murah. (more…)

Ayu Utami: “Kenapa Agama Tak Membuat Orang Lebih Baik?”

August 7, 2009

Bilangan FuPerempuan ini melihat moralitas berlebihan, bahkan sampai ke soal bahasa. Karena itu, novelnya ingin mendobrak tiga hal: seks, kegilaan, dan agama.

Ayu Utami, novelis yang sudah menelurkan tiga novel tersebut menemukan benang merah itu pada tiga novelnya. “Ternyata, tulisanku selalu bicara tentang tiga hal itu. Seks, kegilaan, dan agama.” Ayu, Rabu (5/8) siang, ada SCTV. Dia datang atas undangan Klub Buku dan Film SCTV, yang ingin mendengar dari Ayu sendiri, soal pikiran, renungan, dan proses kreatif ketiga novelnya.

Saman, yang diluncurkan pada 1998 sempat membuat heboh dunia sastra Indonesia. Di novel itu, Ayu dianggap terlalu berani. Dia mendobrak norma dan bicara hal yang masih tabu bagi sebagian besar orang Indonesia. Di novel itu, Ayu Utami bicara amat terbuka soal seks. Tak hanya berhenti di situ. Ayu masih terus menggebrak kemapanan di novel berikutnya, Larung dan Bilangan Fu. (more…)

Garuda di Dadaku

June 30, 2009

Leanika Tanjunggaruda1

Ini film anak-anak loh…

Pertama kali mendengar judulnya, aku bilang ke temanku film apa ya itu. Judulnya terlalu berat, sepertinya tidak layak tonton, apalagi diliput. “Ini tentang anak kecil yang punya ambisi besar jadi pemain sepak bola,” jawabnya.

Aku mulai tertarik. “Anak itu harus melakukan berbagai cara agar bisa masuk tim nasional karena ditentang kakeknya,” lanjutnya.

Hhmmm … Aku makin tertarik. Aku penasaran bagaimana seorang sutradara Indonesia memfilmkan sebuah ambisi, sebuah motivasi dan keinginan. Aku teringat film Iran, Children of Heaven, yang bercerita tentang seorang anak di Iran, yang saking miskinnya, harus berganti sepatu dengan adiknya, tiap kali ke sekolah.

Ambisinya sederhana : punya sepatu. Ali, sang kakak, divisualkan sutradara film ini Majid Majidi berlatih keras agar bisa mengikuti pertandingan lari. Juara pertama tak diincarnya, karena hadiah kedua lebih menarik : sepasang sepatu. Majid berhasil membuat sebuah film sederhana yang menyentuh, tidak cengeng dan juga tidak minta dikasihani.

(more…)

Battle In Seattle; Menggempur Pasar Bebas di Kandang Kapitalisme

June 29, 2009

images1

Rahman Andi Mangussara

“…Perdagangan bebas dan hubungan seksual bebas akan lebih berguna ketimbang cara lain dalam mengembangkan peradaban…”

James Wilson, seorang pendukung setia perdagangan bebas di Inggris, mengatakan kutipan di atas pada tahun 1843. Begitu kuatnya kepercayaan Wilson akan argumen Adam Smith tentang perdagangan bebas, ia pun menerbitkan majalan The Economist yang didedikasikan untuk perdagangan dan pasar bebas. Dari Inggris, setelah negara ini siap betul bertarung di pasar bebas, perdagangan bebas dikumandangkan ke seantero bumi.

Kini, kata-kata Wilson itu seperti menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hubungan seksual bebasnya yang saya maksud  (tidak jelas kenapa Wilson mengatakan hubungan seksual bebas dalam satu tarikan nafas dengan perdagangan bebas) melainkan perdagangan dan pasar bebasnya yang nyaris tak terbendung.  Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bersama dua lembaga yang dibentuk setelah perang dunia ke dua: Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia — yang oleh penentangnya sering diolok-olok sebagai trinitas tak suci — bersama-sama mempromosikan perdagangan dan pasar bebas. Hasilnya, ya.. itu tadi, hampir tak terbendung. Bahkan negara atau organisasi pemerintah yang relatif kuat sekali pun tak berkutik dibuatnya. Siapa yang tak mengikuti garis yang dibuat oleh tiga lembaga tadi dianggap sebagai lawan yang harus dimusuhi.

(more…)

Che, Tokoh yang Dipinggirkan

March 15, 2009

Revolusi tak mengenal batas geografis. Ini gambaran paling menarik dari seorang Che Guevara. Seorang dokter muda, kelahiran Argentina yang melepaskan kemapanan. Meninggalkan isteri dan anaknya, untuk sebuah revolusi. Baginya, semangat revolusi ada pada tiap penderitaan rakyat.

Anton Bachtiar – selanjutnya disebut Anton – memulai diskusi yang kali ini membahas film Che Guevara, sutradara Josh Evans, yang diproduksi tahun 2005, yang jauh dari unsur komersial. Menurut Anton. visualisasi seorang Che yang penuh drama, mulai dari seorang anak kecil berpenyakit asma, kisah cinta, sampai akhirnya menjadi tokoh revolusioner menjadikan ada tiga film yang dibuat tentang dirinya.

(more…)

Buku Rekomendasi Klub Buku & Film SCTV

February 24, 2009

cina

Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina

Penerbit: Komunitas Bambu

Penuis : Onghokam

Tahun 2008

200 halaman

Persentuhan dengan para Cokin, sebutan bagi orang Cina di Medan atau juga tempat lainnya, membuat saya ingin membaca buku ini. Saya ingin tahu sejarah orang Cina di Indonesia, dan Medan tentunya. Sebabnya, saya menemukan perbedaan besar antara Cina Medan, Cina Jawa dan Cina Kalimantan. Ketika saya tinggal di Jawa, saya bertemu Cina yang fasih berbahasa Jawa, lengkap dengan medoknya. Di Kalimantan, orang Cina-nya mirip Cokin Medan. Wajah dan gaya berpakaian, juga potongan rambut dengan poni lurus menancap. Berada di angkutan kota atau pertokoan Kalimantan, tak ubahnya seperti di pecinan Medan.

Buku Onghokam, kumpulan tulisan sejak tahun 1933 sampai 2007, menjawab perbedaan itu. Orang Cina migrasi ke Pulau Jawa secara perorangan atau kelompok kecil. Interaksi dengan masyarakat setempat membuat mereka kehilangan bahasa ibunya, setelah dua generasi.

(more…)

Buku Rekomendasi Klub Buku & Film SCTV

February 19, 2009

Judul: Keberanian Bernama Munir

Penulis: Meicky Shoreamanis Panggabean

Penerbit: Mizan, Desember 2008, 289 halaman

buku-munirMeicky Shoreamanis Panggabean terbilang beruntung. Kakaknya, Ezki Suyanto, dan ibunya, Ade Roslina Sitompul, akrab dengan Munir, sang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) yang tewas diracun itu. Ketika Meicky mengutarakan niat untuk membuat buku tentangnya via Ezki, Munir langsung setuju. Padahal, Munir tahu, Meicky adalah seorang penulis pemula. Selain itu, Meicky tahu, sebelumnya Munir pernah menolak dengan halus permintaan wawancara untuk bahan penulisan sebuah buku tentangnya. Ia memang mengenal Munir secara pribadi, tapi tak sedekat kakak atau ibunya.

Maka, dari yang personal tersebut, lahirlah Keberanian Bernama Munir: Mengenal Sisi-sisi Personal Munir. Inilah sebuah buku yang memperkaya pemahaman kita soal pria asal Malang, Jawa Timur, itu. Jika buku-buku terdahulu lebih banyak menyoroti sisi perjuangan dan akhir hidup Munir, buku ini lebih “ringan”—sebagaimana tecermin dari subjudulnya.

(more…)

Semua Kita adalah Pelacur

February 19, 2009

pelacurKearifan Pelacur

Penulis: Elizabeth Pisani

Penerbit: Serambi

Tahun : 2008

Tebal: 600 halaman

Geong Rusdianto

“Untuk bisa ke Rawa Malang,Jakarta Utara,beloklah ke kanan setelah kompleks pelabuhan Jakarta yang luas dan bergabunglah dengan antrean truk container.Belok kekiri menelusuri pinggiran sungai berair hitam yang berbau kotoran manusia ,bensin dan bebauan kehidupan rawa pada umumnya.Begitu anda pikir tidak mungkin ada kesenangan di tengah rawa yang kumuh,namun tiba tiba menjelma dipenuhi gubuk dan perumahan yang berdiri di bekas kuburan tua,turunilah bantaran kali dan anda sudah berada di Rawa Malang…….Setelah mengaet pelanggan ,pelacur sudah dapat menyelipkan ke dalam kutang uang Rp 50.000,Tiga puluh ribu tetap akan tinggal di dalam kutang, sedangkan dua puluh ribu berpindah tangan ke Penjaga bordil,’’

(more…)

Buku Rekomendasi Klub Buku & Film SCTV

February 19, 2009

timor4Ujian terbesar bagi profesi jurnalis adalah tatkala ia bertugas
meliput daerah konflik. Jika lulus dari wilayah (katakanlah terra
incognita) itu, sudah pasti ia bakal mulus tatkala meliput di medan
lain. Dan jika kredo ini diberlakukan untuk CM Rien Kuntari, boleh
dikatakan ia telah lulus cumlaude karena telah melewati serangkaian
peliputan di medan perang Teluk, Rwanda, Referendum Irak hingga proses
perdamaian di Kamboja.

Buku ini jadi semacam pengukuhan Rien Kuntari sebagai wartawan perang
yang rajin memburu informasi di medan-medan sulit. Sayangnya Timor
Timur menjadi batu ujian yang membuatnya getir. Di tanah airnya,
provinsi paling bontot itu, Rien Kuntari adalah saksi mata lepasnya
wilayah itu dari koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(more…)