the road less traveled by

January 6, 2009 by klubbukusctv

Yus Ariyanto

I.

buku-celli1Rizal Mallarangeng gemar mengutip frasa berikut: the road less traveled by. Itu dari penggalan salah satu sajak Robert Frost. Saya menemukan mereka di kedua bukunya: Mendobrak Sentralisme Ekonomi (2002) dan Dari Langit—buku yang terbit November silam dan “reportase” ringkas atasnya terhampar di paragraf-paragraf di bawah.

Ia memang penempuh “jalan sunyi.” Ketika banyak orang masih ragu untuk mendeklarasikan diri sebagai orang liberal ke publik, lelaki kelahiran Makassar itu lantang menyatakan diri sebagai penganut liberalisme. “Di UGM, pada tahun-tahun awal, saya termasuk aktivis mahasiswa kiri. Tetapi menjelang lulus, saya semakin menempuh the road less traveled by dalam konteks pergerakan kemahasiswaan saat itu: saya semakin bergerak ke kanan,” tulisnya pada Pak Bill dalam Hidup Saya yang termuat (lagi) di Dari Langit. Read the rest of this entry »

Eat, Pray, Love

December 15, 2008 by klubbukusctv

eat2

Sondang Sirait

Dal centro della mia vita venne una grande Fontana…
“From the center of my life, there came a great fountain…”
—“Eat, Pray, Love” by Elizabeth Gilbert, p. 39

(taken from a poem by Louise Glück)

Penulis: Elizabeth Gilbert
Penerbit: Viking Adult, 2006

Empat bulan berada di Italia, Elizabeth Gilbert mulai menemukan kekuatan dalam dirinya untuk bangkit dari reruntuhan jiwanya: pascaperceraian dan kebangkrutan. Di Italia, Gilbert bukan turis biasa. Negeri itu baginya merupakan tempat pelarian, awal sesuatu yang baru, yang dapat menghidupkan kembali seorang perempuan usia 30-an, yang sedang kehilangan kendali hidup. Lewat pendalaman bahasa asing yang eksotis, perkenalan dengan orang-orang Eropa yang penuh kehangatan, serta piring demi piring pizza dan pasta nan lezat, penulis asal New York itu kembali menemukan alasan berdamai dengan dirinya.

Tapi tak semudah itu berdamai dengan Jiwa yang terus dirongrong Depresi dan Kesepian. Meninggalkan keramaian Italia, ia pergi mencari ketenangan India. Di sana, ia menetap sebagai murid dan pelayan sebuah ashram. Sebagai murid, ia belajar meditasi dan membangun hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Sebagai pelayan, ia bekerja bagi Guru dan sesama penghuni ashram. Di India pula, ia belajar makna ajaran kitab Bhagavad Gita, bahwa lebih baik menjalani nasib sendiri secara tidak sempurna daripada meniru hidup orang lain secara sempurna. Episode di India bagi Gilbert adalah Episode Pencerahan Spiritual. Read the rest of this entry »

Undangan Diskusi Buku “Bencana Finansial”

November 12, 2008 by klubbukusctv

Klub Buku dan Film SCTV bekerja sama dengan Penerbit Kompas
menggelar diskusi buku:

“Bencana Finansial”
karya A. Prasetyantoko

Dunia tak pernah sepi dari sejumlah krisis. Apalagi pada periode pasca liberisasi sektor finansial yang terjadi pada 1980-an yang memunculkan hegemoni finansial. Tiga arus besar, yaitu liberisasi finansial di tingkat global, deregulasi pada level nasional, serta inovasi produk-produk finansial pada level korporasi, berujung pada tingginya instabilitas finansial. Karena itu, stabilitas finansial menjadi hal teramat penting.

Buku ini mengulas berbagai fenomena krisis di dunia. Mulai dari krisis “Tulip Mania” (1636-1637), Depresi Besar (1930), Krisis di Asia (1997-1998), hingga Krisis Subprime Mortgage di AS (2007-2008). Dampak dan nilai pembelajarannya bagi Indonesia diuraikan di sana.

Pembicara:
A. Prasetyantoko (penulis dan staf pengajar Universitas Atma Jaya Jakarta)
M. Ikhsan Modjo (INDEF)
Arianto Patunru (LPEM Universitas Indonesia)

Fab Cafe, Grand Indonesia, Lantai 3
Jl MH Thamrin Jakarta Pusat
Jumat, 14 November 2008
Pukul 16.00 WIB – Selesai

FPI: Hitam, Putih atawa…

November 7, 2008 by klubbukusctv

fpi

Moh Samsul Arifin

Judul Buku: Hitam Putih FPI
Penulis: Andri Rosadi
Penerbit: Nun Publisher, Jakarta
Cetakan: Juli 2008
Tebal: 237 Halaman

Indonesia pasca-Soeharto tak bisa dilepaskan dari kiprah Front Pembela Islam (FPI) di layar publik. Tapi, citra organisasi masyarakat yang dipimpin Habib Rizieq Shihab itu berselimut jelaga hitam. Publik mengidentikkannya dengan kekerasan. Fakta-fakta aksi kekerasan itu begitu mudah dideretkan, tak lebih sulit dari menata papan catur.

Sebutlah penutupan bandar judi, penyerangan ke kantor Majalah Playboy, penutupan kampus Ahmadiyah di Parung, perusakan Kedubes AS, hingga yang paling anyar kerusuhan di Monas Jakarta, 1 Juni lalu. Read the rest of this entry »

Yang Menderita yang Bertendens

August 29, 2008 by klubbukusctv

Mendedah novel abad 19 adalah sebentuk upaya licin, pada mulanya, guna mengumpulkan serpihan penafsiran. Dari sini konteks dan relevansi bisa dibayangkan untuk lalu dibenturkan pada isi dan bentuk novel. Inilah yang terjadi dalam seri diskusi Klub Buku dan Film SCTV, 21 Agustus lalu, di ruang rapat redaksi Liputan 6 SCTV, yang membahas novel Victor Hugo, Les Miserables (Yang Menderita).

“Ini novel yang membingungkan, menghanyutkan, dan menggetarkan, “ kata Miko Toro yang hari itu mendapat giliran sebagai pendedah. Hadir Leanika Tanjung, Eko Wahyu, Billy Soemawisastra, Henry Sianipar, Aryo Ardi, Dwi Nindyas, Mauluddin Anwar, Moh. Samsul Arifin, Geong Rusdianto, Slamet Widodo, dan Iskandar Siahaan.

Novel yang ditulis Hugo ketika usianya sudah agak lanjut (60 tahun) ini, pertama kali terbit pada 1862 tapi dalam waktu bersamaan juga diterbitkan dalam sembilan bahasa di luar bahasa Prancis sebagai bahasa ibu Hugo. Bercerita tentang transformasi seorang tokoh bernama Jean Valjean yang terpaksa mencuri sepotong roti demi membebaskan tujuh keponakannya dari ancaman kelaparan, novel ini memang mudah jatuh ke genre melodrama. Read the rest of this entry »

Les Miserables

August 23, 2008 by klubbukusctv

Victor Hugo, Bentang Pustaka, 2007, 616 halaman

Miko Toro

Sudah lama saya dengar nama besar Les Miserables karya Victor Hugo. Tapi tak pernah saya tergerak menyentuh karya ini. Pikir saya, apa sih menariknya? Peninggalan abad 19, pasti ketinggalan zaman, dan tidak lagi relevan.

Tapi saya salah besar. Saya temukan, Les Miserables relevan untuk zaman ini, dan mungkin untuk semua zaman. Saya temukan, Victor Hugo memang bukan nama kosong. Membaca Les Miserables (Yang Menderita) membuat saya betul-betul menderita. Membuat saya ingin berhenti membaca, sekaligus meneruskan membaca. Membingungkan, menghanyutkan, dan menggetarkan.

Tapi sekali lagi, kenapa kita tiba-tiba perlu membaca karya ini? Kenapa sekarang? Harus saya akui, memang tak ada alasan khusus untuk itu, selain bahwa karya ini sekarang tersedia dalam bahasa Indonesia, dari penerbit Bentang. Hanya saya percaya, karya-karya tertentu, seperti Les ini, layak dinikmati kapan saja.

****

Les Miserables selesai ditulis saat Victor Hugo berusia 60 tahun. Saya duga, Hugo berupaya menuangkan aneka renungan hidupnya, melalui buku ini. Di salah satu bagian, misalnya, Hugo menulis, “Hanya ada satu pemandangan yang lebih luas daripada samudra, yaitu langit. Akan tetapi, ada pemandangan yang lebih luas daripada langit, yaitu ruang batin manusia…” Begitulah. Read the rest of this entry »

Upaya Menaklukkan Kemiskinan

August 18, 2008 by klubbukusctv

“Saya berangkat dengan kekaguman terhadap Muhammad Yunus”, kata Leanika tanjung memulai diskusi dua mingguan klub buku dan film sctv (07/08). Lea memang didapuk sebagai pembicara membahas buku Muhammad Yunus berjudul Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan: Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita (Gramedia, 2008).

Menurut Lea, berbeda dengan buku pertama, Banker to the Poor, yang merupakan dokumentasi perjalanan hidup Muhammad Yunus hingga membangun Grameen Bank–Bank Desa, dalam “Creating a World Without Poverty,” pemenang Nobel Perdamaian 2006 ini melangkah lebih jauh. Ia bicara tentang bisnis sosial. Read the rest of this entry »

Masih Ada Dunia Yang Lebih Baik

August 14, 2008 by klubbukusctv

Leanika Tanjung

Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita, Muhammad Yunus, Gramedia Pustaka Utama, 280 halaman, Juni 2008

Peringkat : *****

Berbeda dengan buku pertama, Banker to the Poor, yang merupakan dokumentasi perjalanan hidup Muhammad Yunus hingga membangun Grameen Bank – Bank Desa, dalam “Creating a World Without Poverty,” pemenang Nobel Perdamaian 2006 ini melangkah lebih jauh. Ia bicara tentang bisnis sosial.

Di buka dengan cerita undangan Franck Riboud, CEO Group Danone, perusahaan makanan multinasional asal Perancis. Penjual susu dan produk susu terbesar ketiga didunia. Undangan yang datang sebelum Yunus mendapat Nobel Perdamaian, merupakan cikal bakal bagi Yunus mewujudkan sebuah bisnis sosial. Read the rest of this entry »

Dilema Kemanusiaan dan Profesionalisme

August 5, 2008 by klubbukusctv

Dua pekan berlalu, diskusi digelar kembali. Kini, giliran The Hunting Party yang dibedah. Zaenal Bhakti didapuk untuk memberikan pengantar diskusi.

Menurut Zaenal, secara keseluruhan film ini, menarik ditonton dan sangat logis. Karakter yang dibangun cukup kuat menyakinkan bahwa apa yang terjadi memang nyata. Selain ketegangan-ketegangan perang dan perburuan The Fox, film ini juga berhasil membangun suasana lucu yang tidak dibuat-buat. Tidak salah jika diawal film sutradara telah menulis kalimat ”Only the most ridiculous parts of this story are true”. Hanya bagian-bagian konyol saja yang merupakan cerita sesungguhnya. Read the rest of this entry »

Benarkah Islam Klop dengan Demokrasi?

July 31, 2008 by klubbukusctv

Didahului makan siang yang dibandari Eko Wahyu Tawantoro, diskusi buku karya Saiful Mujani, Muslim Demokrat, digelar di ruang rapat Lantai 9 SCTV Tower, Kamis, 10 Juli 2008.

Kali ini, Andy Budiman yang kebagian menjadi panelis. Menurut Andy, buku ini berkontribusi penting dalam diskusi soal kompatibilitas Islam dan demokrasi. Indonesia menjadi ujian, benarkah Islam dan demokrasi kompatibel? Di Timur Tengah, harapan itu bisa dibilang telah sirna. Lihat saja, kehadiran rezim-rezim otoriter di sana. Di Afrika, kaum muslim masih disibukkan dengan konflik-konflik komunal dan keterbelakangan ekonomi yang parah. Read the rest of this entry »