Berfilsafat Bersama Babi

Miko Toro

Tuhan bicara pada Sang Filsuf, “Akulah Tuhanmu. Sumber dari segala yang baik. Mengapa filsafat moralmu, mengabaikan Aku?”

Sang Filsuf menanggapi, “Sebelum menjawab, perkenankanlah hamba bertanya. Engkau perintahkan kami, untuk melakukan hal-hal ‘baik’. Pertanyaan hamba, apakah ‘baik’ itu? Apakah karena Kau perintahkan suatu hal, maka hal itu jadi baik? Ataukah Kau perintahkan suatu hal, karena hal itu memang baik?”

Jawab Tuhan, “Tentu saja, Aku perintahkan suatu hal, maka hal itu menjadi hal yang baik…”

“Pasti itu keliru, Yang Maha Kuasa! Kalau seperti itu, bisa saja, dengan perintah-Mu, maka menyiksa bayi jadi hal yang baik. Padahal, tidak begitu kan?”

“Tentu saja tidak!” jawab Tuhan, “Ha..ha..ha. Aku hanya mengujimu, dan jawabanmu memuaskan.”

“Berarti, Kau perintahkan suatu hal, karena hal itu memang baik. Tapi Tuhanku, bukankah itu menunjukkan, rasa kebaikan tidak tergantung pada-Mu? Kami manusia, tidak perlu Tuhan, untuk mengetahui nilai-nilai kebaikan!”

“Ah jangan begitu,” kata Tuhan, “Bagaimanapun, kitab-kitab-Ku tetap menarik untuk dibaca, kan…?”

Demikianlah, salah satu dialog dalam buku The Pig that Wants to be Eaten (Babi yang Ingin Dimakan), karya filsuf asal Inggris, Julian Baggini. Mungkin ada yang menilai, dialog tersebut ‘kurang ajar’. Tapi mohon dimaafkan. Baggini tidak bermaksud menyinggung siapapun, termasuk para ‘pembela Tuhan’. Isi buku Baggini, hanyalah ‘percobaan pikiran’, dirancang untuk memberi ilustrasi, atau menghidupkan suatu gagasan. Buku ‘The Pig’, yang sempat jadi best seller di Inggris, memuat seratus gagasan sejenis. Baggini mengumpulkan gagasan-gagasan itu dari berbagai sumber, terutama dari tulisan para filsuf besar. Dialog pembuka diatas misalnya, disadur dari Euthyphro, karya Plato (427 – 347 SM).

Boleh dikata, membaca The Pig seolah sama dengan berwisata mengunjungi aneka ide filsafat. The Pig mengajak pembaca merenungi berbagai hal, mulai dari keberadaan Tuhan, nilai-nilai moral, nilai-nilai artistik, kehendak bebas, sampai apakah mesin bisa berpikir. Pendeknya, The Pig adalah ajakan untuk merenungkan pertanyaan yang memusingkan (atau menggairahkan) para filsuf sejak awal peradaban.

Buku ini tidak bersusah payah membahas latar belakang para filsuf, atau latar belakang tumbuhnya gagasan mereka. Tidak. The Pig langsung melompat, kepada gagasan-gagasan itu sendiri. Sesuai istilah Baggini sendiri, bukunya bukan bicara tentang filsafat, tapi ajakan untuk berfilsafat. Bukan mengutip pendapat para filsuf, tapi undangan untuk sejenak menjadi filsuf.

Sungguh, ini undangan wisata seru, ke sebuah petualangan mendebarkan. Sayangnya, undangan ini memang belum tersedia dalam bahasa Indonesia. Padahal saya yakin, undangan seperti ini, akan disambut baik di Indonesia. Wisata ide filosofis ala Baggini, bagi saya, mirip dengan wisata spiritual yang sudah lebih dulu populer disini, ala Romo de Mello. Karya-karya almarhum Pastor Jesuit Anthony de Mello, seperti Sejenak Bijak dan Doa Sang Katak (terbitan Kanisius) sudah tidak asing di antara pecinta buku di Indonesia.

Memang, sudut pandang karya de Mello, beda dengan karya Baggini. Hanya saja saya melihat, dari sisi perkenalan terhadap deretan gagasan yang kemudian harus direnungkan sendiri, dua penulis tersebut jadi mirip.

Saya menyebut Pastor de Mello disini, juga untuk mengutip pendapatnya tentang buku-bukunya sendiri. Menurut saya, pendapat de Mello juga harus diterapkan, saat membaca karya Baggini: buku ini jangan dibaca sekaligus. Dalam istilah de Mello, “Cerita-cerita ini harus dinikmati, cukup satu atau dua topik, sekali baca. Mengambil terlalu banyak akan menurunkan kadar kekuatannya.”

Demikianlah, The Pig memang ‘tidak mungkin’ dibaca sekaligus. Kalaupun itu dilakukan, tidak lagi akan menyenangkan. Wisata ide ini, sangat sayang bila hanya dilewati sambil lalu, sekedar beralih dari satu gagasan ke gagasan lain. Petualangan seru justru terjadi, bila pembaca ikut terjun berkecimpung bersama tiap ide.

Sebagai pemandu wisata pikiran, Baggini Sang Doktor Filsafat tampil mumpuni dan menyenangkan. Bukan sekedar menunjukkan artefak karya pikiran filsuf sepanjang zaman, Baggini memberi polesan pada renungan-renungan tua itu. Sebagian di cat ulang. Sebagian direnovasi. Alhasil, sejumlah pertanyaan, yang sebetulnya telah berusia ribuan tahun, tampil baru dan segar.

Aktivitas sosial Baggini, mungkin memberi dia banyak ide, untuk membuat aneka masalah filsafat tampak tidak ketinggalan zaman. Selain aktif menulis aneka buku bertema filsafat (seperti “Atheism: A Very Short Introduction” dan “What’s It All About? Philosophy and the Meaning of Life”), Baggini mengasuh majalah filsafat ‘The Philosopher Magazine’ dan menjadi anggota organisasi yang didedikasikan untuk berpikir kritis, seperti Committee for the Scientific Examination of Religion.

Dari sisi kemudahan dibaca dan keindahan materi, dalam skala lima bintang, saya merasa ‘The Pig’ layak mendapat setidaknya empat bintang. Bila dicari-cari kekurangannya, saya hanya bisa menyebut, beberapa topik yang mirip-mirip, seperti nilai moral, mungkin terlalu banyak dibahas. Sementara topik filsafat populer lainnya, seperti ‘waktu’ atau ‘mesin berpikir’ misalnya, hanya sedikit dibahas.

Sebagai penutup, untuk memberi ilustrasi seberapa efektif Baggini membawa pembaca bergulat dengan pertanyaan, silakan ikuti salah satu topik dalam The Pig berjudul ‘Perintah Tuhan’ (Divine Command) berikut ini:

Tuhan berkata pada Sang Filsuf, “Akulah Tuhanmu. Aku perintahkan engkau untuk membunuh dan mengorbankan satu-satunya anakmu.”

Sang Filsuf menjawab, “Tunggu, ada sesuatu yang keliru disini. Bukankah Engkau sendiri yang memerintahkan: jangan membunuh?”

“Aku yang membuat aturan, Aku juga yang mencabut aturan itu!” jawab Tuhan.

“Tapi, bagaimana aku tahu Engkau memang Tuhan?” Sang Filsuf berkeras, “Perintah-Mu begitu buruk! Jangan-jangan Engkau adalah Setan, yang menyamar jadi Tuhan!”

“Kamu harus punya iman,” jawab Tuhan.

“Iman? Tapi ini gila! Bukankah mungkin saja, ini semua ilusi pikiranku sendiri? Atau mungkin, Kau sedang mengujiku? Engkau ingin melihat, apakah aku punya cukup moral, untuk menolak perintah yang jelas-jelas berupa kejahatan membunuh anak? Hanya saja, perintah ini datang dengan suara bergemuruh, hingga tampak mengesankan?”

“Apakah engkau mengatakan,” jawab Tuhan, “akalmu bisa menolak perintah-Ku?”

“Saya kira begitu,” jawab Sang Filsuf, “Karena Kau sama sekali tidak memberiku alasan, untuk mengubah pendirianku…”

Tentu saja, percakapan imajiner diatas, yang disadur dari karya filsuf Denmark Soren Kierkegaard (1813-1855), bisa terdengar ‘usil’. Namun intinya, Baggini hanya kembali mengajak kita ke salah satu tempat wisatanya.

Sama seperti pada topik-topik lainnya, pada topik terakhir itupun, Baggini tidak berupaya memberi jawaban. Usahanya, berhenti pada tahap ‘memperkenalkan pertanyaan’ lalu melepaskan diri dari kesimpulan.

Tapi sebagai pemandu, Baggini menawarkan alur pikirannya, guna menanggapi percakapan khayal itu. Baggini menulis, “Misalkan Sang Filsuf betul-betul merasa mendapat perintah membunuh anaknya sendiri. Apa yang bisa disimpulkan dari kondisi semacam itu?”

Bagi Baggini, kesimpulan paling mungkin dari situasi itu: Kemungkinan pertama, bukan Tuhan yang bicara, melainkan Setan yang menyamar jadi Tuhan. Kemungkinan kedua, bila yang bicara memang Tuhan, itu merupakan ujian, untuk melihat apakah Sang Filsuf akan menolak. Kemungkinan ketiga, ada gangguan pada sistem saraf Sang Filsuf, hingga dia merasa mengalami percakapan tersebut.

Selanjutnya menurut Baggini, bila Sang Filsuf ternyata betul-betul melaksanakan perintah itu, bisa disimpulkan, dia… Hmm, baiklah, mungkin sebaiknya Anda baca sendiri kelanjutannya di buku The Pig. Oh, tentu ada yang berpendapat, masalah ‘Tuhan’ tidak berada dalam jangkauan pikiran manusia. Karena otak manusia toh kecil sekali, dan sangat terbatas. Mungkin betul. Tapi Baggini juga punya pembahasannya, untuk Anda. Jadi, silakan menikmati wisata filosofis ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: