Nasionalisme Cap Burung Merak

Ada Nagabonar dan Lubuk Pakam di ruang redaksi Liputan 6 SCTV, Kamis (22 Mei) lalu. Tentu saja, Nagabonar tidak hadir secara fisik. Pasalnya, sebagai subjek ia memang tak pernah ada. Jenderal dari Lubuk Pakam ini hanyalah rekaan Asrul Sani—seorang yang bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan kumpulan sajak bertajuk “Tiga Menguak Takdir” tahun 1950 silam.

Siang itu Nagabonar mengawali kiprah “Klub Buku & Film SCTV”. Sebuah komunitas yang didapuk untuk mewadahi karyawan SCTV pecinta buku dan film. Film Nagabonar dibedah lantaran peraih citra di Film Festival Indonesia tahun 1987 itu dirilis kembali oleh Deddy Mizwar—aktor yang menjiwai betul tokoh Nagabonar. Maklum, Mei 2008 adalah momentum mengingat makna kebangkitan yang dipahat Boedi Oetomo seratus tahun lampau. Lewat Nagabonar “Klub Buku & Film SCTV” hendak merenungi apa yang disebut Benedict Anderson sebagai komunitas terbayang itu.

Tapi apa lacur, ternyata Nagabonar hanya menyediakan nasionalisme cap burung merak. “Dalam film itu, tokoh Nagabonar mandi pakai sabun cap burung merak sebelum bertemu pujaan hatinya–Kirana,” ujar Rahman Andi Mangussara, pembicara diskusi ini. Menurutnya, si pembuat film menganggap memakai produk dalam negeri (sabun cap burung merak) sebagai tindakan nasionalistik. “Nasionalisme yang hitam putih tentu saja. Dan karena itu tidak kontekstual,” imbuh Rahman.
Di era globalisasi saat ini, demikian Rahman, nasionalisme ala Nagabonar itu kurang relevan. Agar kontekstual, Rahman mengusulkan bangsa Indonesia mendefinisikan kembali nasionalismenya. Sebuah nasionalisme yang terbuka, lentur dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Diskusi tak berkutat pada nasionalisme semata. Rahman juga menyoal absennya tafsir baru pada film Nagabonar yang dirilis ulang tersebut. Ketiadaan tafsir baru menyebabkan pesan film ini tidak sampai pada generasi sekarang. “Anak-anak muda yang menonton pasti sulit paham, karena idiom-idiom yang dipakai sudah usang,” jelasnya. Tak dipungkiri Deddy Mizwar begitu saja melepas Nagabonar, tanpa mau berkeringat—kecuali men-dubbing ulang dialog. Tak ayal, mereka yang ingin menyaksikan sesuatu yang baru di Nagabonar kecele.

Ini memancing debat seru. Seorang peserta, Andy Budiman menyebut Nagabonar adalah film berhasil saat diputar tahun 1980-an. Menurut Andy, film ini bercerita tentang “hero yang anti-hero”. Bagaimana tidak, di bawah Orde Baru, militer adalah kekuatan politik yang tak tersentuh kritik. “Nagabonar berkisah tentang pangkat kemiliteran sambil menafikan bagaimana jabatan di dalam militer diperoleh,” kata Andy. Persoalannya, ketika militer sudah tak seperti di masa Orde Baru, Nagabonar menjadi kehilangan konteks.

Di film ini diceritakan, kelompok Nagabonar tinggal di sebuah wilayah di Lubuk Pakam. Mereka disatukan tekad mengusir Belanda dari tanah air. Akhirnya, kelompok sipil bersenjata itu mengorganisasi diri bak kesatuan militer. Dalam satu adegan ditonjolkan bagaimana begitu ringannya mereka membagi pangkat militer. Begitu sederhana, sehingga pembagian pangkat hanya berlangsung singkat satu kali rapat di gubuk Nagabonar. Kendati hidup di pedalaman Sumatra Utara, tak berarti mereka tak tahu bagaimana struktur militer di medan tempur. Adalah Lukman, yang notabene orang sekolahan di kelompok Nagabonar, dipercaya membagi pangkat tersebut. Nagabonar sendiri menolak diberi pangkat “Marsekal Medan”—pangkat tertinggi di medan tempur. Terpaksa Lukman memberinya pangkat “Jenderal”. Sedangkan Ujang, kawan terdekatnya yang menemani Nagabonar disegala kesempatan hanya diberi pangkat “Kopral”.

Seorang peserta lain, Zaenal Bhakti menegaskan tak begitu penting memberi konteks baru pada Nagabonar. Baginya, film Nagabonar ini dapat dinikmati kapan saja—semacam ensiklopedia yang terbuka dan tak lekang waktu. Ia yang menonton Nagabonar di setting waktu berbeda (baca: pemerintahan) tetap dapat memetik makna di film yang juga dibintangi Nurul Arifin tersebut. Nagabonar menyediakan cara pandang untuk melihat Indonesia.

Beda lagi Iskandar Siahaan. Sejak awal ia tak percaya jika Deddy Mizwar punya pemahaman ala sang pembuat film Nagabonar. Ia menyebut kepentingan bisnis belaka yang menjadi alasan Deddy Mizwar melempar kembali film ini ke pasar. Baginya, motif semacam ini tidaklah “haram”. Namun, merilis ulang begitu saja sebuah film yang lekat di benak banyak orang tanpa perubahan sedikit pun punya risiko. “Sebuah film mestinya memiliki pesan dan misi,” urai Iskandar. Tanpa itu, film tersebut akan gagal—sesuatu yang seyogyanya dihindari para sineas.

Lebih jauh Iskandar mendedah idiom “Apa Kata Dunia” yang sering diucapkan Jenderal Nagabonar. Ia sanksi idiom itu bisa dipahami seluruh anak bangsa yang berbeda etnis dengan setting film tersebut. Idiom ini sudah seperti “Darah itu Merah Jenderal!” dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI besutan Arifin C Noer. Sebagian besar peserta menyatakan, idiom itu justru merupakan daya tarik sendiri. Sekalipun tak begitu paham ketika pertama kali film itu diputar di bioskop tahun 1980-an lalu, mereka menarik kesan lucu pada idiom tersebut.

Tentu ada banyak lagi yang dikupas dalam diskusi berdurasi hampir dua jam tersebut. Di atas segalanya, diskusi pertama “Klub Buku & Film SCTV” merekomendasikan untuk menonton film ini. Film terbaik tahun 1987 ini memperoleh bintang dua hingga tiga. Artinya layak ditonton.

One Response to “Nasionalisme Cap Burung Merak”

  1. limpo50 Says:

    Film terbaik bagi YURI, bukanlah terbaik bagi yang bukan YURI. Maka pilih YURI yang mampu mewakili.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: