Globalisasi atau Gombalisasi

Iskandar Siahaan

The World is Flat oleh Thomas L. Friedman. Jakarta: Dian Rakyat, 2006, xiv + 673 halaman.

Dua dekade terakhir, dunia kehidupan (life world) kita berubah cepat dan berbeda dari dekade-dekade sebelumnya. Keruntuhan tembok Berlin dan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi adalah dua sebab pemicunya. Tafsir kita atas fenomena ini pun berubah. Ada yang menyebutnya globalisasi, tapi ada juga yang tetap memaknainya sebagai internasionalisasi. Faktanya, ada sebagian tempat di dunia terkoneksi oleh teknologi internet dan peristiwa yang terjadi di bagian dunia tertentu mempengaruhi bagian dunia lain.

Thomas L. Friedman adalah satu dari sekian penulis yang meyakini bahwa yang sekarang terjadi adalah globalisasi. Bola dunia (global), menurut dia, kini tidak lagi bulat, juga tidak lagi sekadar makin kecil – tapi kian datar. Ada sepuluh kekuatan pendatar. Yakni, selain runtuhnya tembok Berlin, ialah internet, perangkat lunak alur kerja, uploading, outsourcing, offshoring, supply-chaining, insourching, informing, dan streoid. Intinya, dengan sepuluh kekuatan pendatar ini orang-orang di bagian dunia tertentu kini bisa bekerjasama dan ruang serta waktu tidak lagi menjadi persoalan.

Beberapa contoh diangkat oleh Friedman untuk membuktikan betapa dunia benar-benar datar. Sekelompok orang yang bekerja di Bengalor, India; di wilayah timur laut China, terutama di sekitar kota pelabuhan Dalian; dan di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat melayani orang di bagian dunia lain. Ini semua berkat jasa teknologi komunikasi dan informasi. Keadaan ini membuat dia menyimpulkan betapa globalisasi telah membuka peluang buat banyak orang untuk melakukan pekerjaan tanpa harus meninggalkan negeri tempatnya berada.

Friedman memang mengakui belum semua orang di dunia memiliki akses untuk masuk dan memanfaatkan teknologi ini. Ia juga mengakui ada yang menjadi pemenang, ada pula yang menjadi pecundang. Tapi, ia yakin ke depan ini akan menguntungkan lebih banyak orang. Karena itu, ujung-ujungnya ia sebenarnya ingin membuat kita yakin – karena itu harus mendukung – agar globalisasi ini makin nyata dan meluas menjangkau semakin banyak orang di semakin banyak bagian dunia.

Friedman adalah wartawan. Memulai karir di UPI, kini ia bekerja untuk The New York Times. Ini bukan buku pertamanya tentang globalisasi. Sebelum itu ia menulis Understanding Globalization: The Lexus and The Olive Tree (2000). Khas seorang wartawan, buku ini ia tulis memikat dengan alur cerita memesona dan kaya data. Tapi khas wartawan pula, kelemahan atau ketiadaan yang segera tampak adalah lemahnya bangunan teori yang mendasari dan sekaligus yang mungkin dibangun oleh paparannya. Konstruksi yang ia coba bangun segera mudah dipatahkan ketika pertanyaan bersinggungan dengan nilai. Misalnya, siapa yang diuntungkan oleh semua kemajuan teknologi komunikasi dan informasi ini?

Dia sempat mewawancari seorang kepala sekolah dekat Belangor. Ia mendengar kegundahan sang kepala sekolah. Tapi, Friedman tidak mengekplorasi lebih jauh tentang ini. Bisa dimaklumi karena pada akhirnya bisa melemahkan tesis yang justru hendak dibangunnya: globalisasi menguntungkan untuk kehidupan spsies manusia di muka bumi, karena itu perlu dan harus didukung!

Globalisasi sekarang memang nyaris bagai mantra. Hampir semua pemimpin politik dan bisnis menaburi pidato dan pernyataannya dengan kata ini, tak terkecuali di negara kita. Suka atau tidak, faktanya memang globalisasi sedang terjadi. Itu jika globalisasi didefinisikan sekadar terkoneksi, berkolaborasi, dan bersaingnya banyak orang di lapangan permainan baru. Dimensinya pun hampir mencakup semua bidang, dari politik, ekonomi, sosial, sampai budaya.Tapi, jika globalisasi didefinisikan sebagai kelanjutan dari persaingan mendapatkan sumber daya alam dan pasar baru yang dalam sejarah melahirkan perang, maka dukungan terhadapnya mestilah dengan reserve.

Globalisasi juga ditunggangi oleh ideologi. Buat orang seperti Friedman, dan banyak lainnya, globalisasi bisa berarti identik dengan neoliberalisasi. Dengan ini, individu diasumsikan sama dan memiliki kemampuan sama pula untuk meraih keuntungan dari terbukanya pasar dan tumbuhnya pembagian kerja baru. Di mata kaum Neolib, negara adalah kutuk, individu adalah berkah. Mereka percaya pasar bisa dan lebih ampuh memerintah ketimbang negara. Serahkan pada individu dan korporasi, semua kebutuhan dan keinginan manusia akan terpenuhi – begitu keyakinan mereka. Negara? Cukuplah menjaga ketertiban dan keamanan.

Akan berbeda pemahaman kita jika kita juga membaca buku-buku tentang globalisasi yang ditulis dari perspektif lain, terutama dari perspektif negara dan orang-orang yang tinggal di negara berkembang. Privatisasi, pencabutan subsidi, integrasi perekonomian negara dan pasar finansial yang pada pokoknya ingin membebaskan lalu-lintas barang, modal, dan orang pada kenyataannya menumpuk banyak orang menjadi korban. Gonjang-ganjing harga energi dan pangan yang kini melanda dunia bisa dirasakan oleh orang di Indonesia dan di banyak negara berkembang lainnya betapa menyakitkan apa yang coba ditawarkan oleh globalisasi.

Maka, saya termasuk orang yang tidak percaya pada globalisasi dalam definisi Friedman. Bagi saya, negara tetap hal yang utama dan harus menjadi kekuatan yang mengontrol pasar. Sejelek-jeleknya negara, yang menjalankannya kita pilih jika itu di bawah sistem demokrasi. Eksekutif yang memimpin korporasi multinasional? Kita tidak memilih mereka. Yang memilih mereka adalah pemilik modal dan uang. Diasumsikan kita punya kedaulatan sebagai konsumen untuk membeli atau tidak membeli barang dan jasa yang ditawarkan korporasi, tapi pada kenyataannya dengan kecanggihan ilmu pemasaran dan periklanan sesungguhnya kita tidak benar-benar berdaulat. Selera, keinginan, bahkan kebutuhan kita pun lebih dulu dibentuk oleh para eksekutif korporasi itu sebelum kita membeli.

Jadi, bacalah buku Friedman. Tapi jangan lupa menyandingkannya dengan buku lain yang ditulis dari perspektif lain pula. Karena dari buku lain itu, globalisasi tak lebih dari sekadar gombalisasi oleh orang-orang yang hidup dan terbiasa senang dan diuntungkan oleh fenomena yang kini ada dan mengitari dunia kehidupan kita.

One Response to “Globalisasi atau Gombalisasi”

  1. limpo50 Says:

    apapun bacaannya kita tetap dijajah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: