Yang Rata Buat Friedman

Diskusi Klub Buku dan Film SCTV, Kamis  5 Juni lalu membahas buku Thomas L Friedman, The World is Flat. Dunia itu rata kata Thomas Friedman. Apa yang membuat Friedman sampai pada kesimpulan itu?  Secara geografis, kita pasti sudah paham betul kalau dunia ini bulat, yang berputar pada porosnya  mengelilingi matahari yang membuat adanya siang dan malam, kutub yang byurr sangat dingin, benua dengan empat musim, dan banyak beda lainnya.

Lalu apa yang rata bagi Friedman?

Bang Iskandar Sihahaan, selanjutnya disebut Bang Is, mencoba menganalisis buku ke 3 Thomas Friedman, Kolumnis New York Times, tentang globalisasi. Buku pertamanya tentang globalisasi adalah Lexus and Olive Tree dan kedua adalah Longitudes and Attitudes yang ditulis setelah serangan terhadap menara kembar World Trade Center pada 11 September 2001.

Setelah membaca buku ini dengan mood naik turun, Bang Is melihat buku ini ditulis dari sudut pandang seseorang yang hidup di negara maju yang sangat yakin dengan sistem Neoliberal.

Ekstrapolasi terhadap realita yang dia lihat sangat berlebihan. Dimulai ketika Friedman pergi ke Bangalore,  India Selatan.  Tinggal di Bangalore, kata Friedman tak ubahnya berada di negerinya sendiri, Amerika. Gedung-gedung perusahaan besar Amerika berdiri megah disana mulai dari IBM, Microsoft, Goldman Sachs, HP, dan Texas Instruments.

Dia juga pergi ke Pantai Timur Cina dan Salt Lake City di Utah. Kesan yan didapatnya kurang lebih sama.  Dengan semua itu, ia lalu  menyimpulkan dunia sudah rata.  Ada sepuluh kekuatan yang membuat dari abad-abad, dunia makin rata.  Salah satunya penemuan internet yang membuat dunia tak lagi berbatas wilayah dan negara.

Teknologi informasi berkembang memang menyentuh hampir setiap negara. Negara maju dengan infrastruktur jaringan informasi memadai tentu menikmati hasil pengembangan teknologi informasinya.

Bagaimana dengan negara berkembang? Negara berkembang akan merasakan penguasaan teknologi informasi yang masih setengah-setengah membuat  ketergantungan pada negara maju.  Akibatnya, kesempatan bersaing menjadi tidak optimal.

Di titik ini, akan terjadi pergeseran peran dimana negara tak lagi punya peranan penting dan digantikan dengan kekuatan perusahaan, yang berujung pada kekuatan individual. Di masa mendatang,  kata Friedman, banyak individu yang memilih tidak bergabung dengan perusahaan tetapi membangun bisnisnya sendiri.

Bang Is mengkritik buku ini karena prediksi itu belum tentu terjadi.  Ia mencontohkan revolusi industri ketika ditemukannya alat cetak pada abad 15.  Ketika itu diyakini, alat spektakuler itu akan membuat semua orang melek huruf.  Kenyataannya, sampai sekarang atau 6 abad kemudian, jumlah orang yang tidak bisa membaca masih cukup besar.

Satu kata yang tepat menggambarkan buku tersebut : buku ini sangat ELITIS. Friedman terlalu terburu-buru membuat kesimpulan.

Meski tak banyak yang hadir, diskusi kali ini cukup seru karena perbedaan pemikiran yang cukup tajam.  Andi Budiman dan Yus Ariyanto misalnya berpikir buku Thomas Friedman sangat cerdas menggambarkan dunia saat ini.  Globalisasi sebagai sesuatu yang tidak bisa dibendung dan harus diterima. Globalisasi membuat peradaban lebih maju dan memberi keuntungan bagi banyak orang.

Andi memberi contoh sisi positif globalisasi. Misalnya, perbedaan waktu antar negara bisa menjadi kekuatan di era tanpa batas wilayah dengan adanya internet.  Friedman bercerita  bagaimana sebuah Call Centre di Bangalore India yang karyawannya juga orang India, menyapa dan menjawab pertanyaan pelanggan dari seluruh penjuru bumi dengan beragam aksen. Mulai Amerika, Kanada, Inggris dan lain-lain.

Kemajuan teknologi informasi dengan hadirnya internet membuat dunia tak lagi berbatas. Perbedaan waktu menjadi sebuah peluang. Lihatlah call centre di India yang bisa melayani belahan dunia lain yang sudah memasuki malam, karena ketika itu di India masih pagi.

Yang lainnya, melihat globalisasi sebagai sesuatu yang tidak bisa dibendung tapi sangat menggelisahkan karena bisa berdampak buruk buat mereka yang tidak siap.  Patut diingat, seperti sudah disebut di atas tadi, globalisasi dengan bantuan teknologi internet “memaksa” individu atau kekuatan pasar bersaing tanpa peduli apakah lawannya punya kekuatan atau level yang sama.

Daeng Rahman punya contoh yang menunjukkan pentingnya peranan pemerintah di era globalisasi.  Bentuknya bukan monopoli atau proteksi tapi affirmative action yang memberdayakan seseorang atau Negara bisa “bersaing” di level yang sama.  Dengan kata lain, Daeng Rahman mau mengatakan peran pemerintah atau negara masih sangat penting agar orang atau negara yang belum siap bersaing bisa mempersiapkan diri,

Ia mencontohkan bagaimana sebuah warung tegal harus bersaing dengan restoran siap saji seperi KFC atau McDonald misalnya.  Dengan keterbatasan dana dan manajemen, tentu saja warung tegal akan mati kalau dibenturkan dengan restoran seperti itu.

Samsul punya pemikiran: globalisasi bukan sebuah keharusan. Ia sebuah pilihan yang tentu saja bisa ditolak. Karena itu, peran negara masih sangat penting untuk menentukan pilihan itu, apakah menerima atau tidak.  Negara juga masih sangat dibutuhkan perannya untuk menyiapkan masyarakatnya agar bisa bersaing dan menang.

Berbeda pikiran mengenai globalisasi dan dunia yang rata ala Friedman? Well, itu sah-sah saja. Mungkin akan makin menarik untuk dibicarakan, kalau buku baru Friedman, Hot, Flat and Crowded, sudah terbit.  Di buku itu, Indonesia menjadi bahan tulisannya setelah mengunjungi beberapa daerah di negeri ini.

Menurut Friedman, Indonesia bisa menjadi model bagi negara lain dalam peta era globalisasi.  Hmmm .. jadi tak sabar membaca Indonesia dan globalisasi di mata Friedman. Dan, pasti lebih seru membahasnya karena kita pasti lebih tahu jeroan Indonesia ketimbang si Friedman.

Diskusi selanjutnya, akan diadakan Kamis, 19 Juni 2008 di Ruang Rapat Redaksi, Lt, 9, membahas Film Kite Runner oleh Cak Eko Tawantoro. (LEA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: