Tak Bisa Berhenti Mengingatmu, Hassan

Eko Wahyu Tawantoro

The Kite Runner karya Khaled Hosseini. Penerbit Qanita, Bandung, 2006, xiv + 616 halaman.

The Kite Runner, karya pertama novelis eksil kelahiran Afghanistan, Khaled Hosseini, sulit dipungkiri adalah fenomena. Sebuah cerita rekaan bisa bertahan selama 50 minggu sebagai best seller, dan telah diterjemahkan dalam 42 bahasa, tentu di dalamnya tersimpan alasan kuat. Muskil rasanya, karya yang diklaim sukses secara komersial ini, menawarkan kisah biasa-biasa saja. Secara intrinsik, sesungguhnya tidak ada kejutan yang istimewa. Plot dibangun dalam tatanan konvensional dan linier. Tidak ditemukan suspen yang menghentak. Lalu elemen apa yang menjadikan novel ini dibanjiri pujian dan digandrungi jutaan pembaca?

****

Menggunakan sudut penceritaan (point of view) orang pertama, novel ini mengisahkan relasi tiga laki-laki Amir-Hassan-Baba, dengan masing-masing tokoh memanggul luka bathinnya sendiri. Untuk waktu yang lama, luka itu mereka rahasiakan dan coba dikubur dalam-dalam. Alih-alih luka itu hilang, semakin kuat hasrat mereka untuk memendamnya, luka itu malah menganga untuk kemudian menjelma mimpi buruk yang tak habis-habisnya.

Dikisahkan, Amir adalah anak satu-satunya Baba, seorang laki-laki terpandang dari suku Pashtun. Amir sudah menjadi piatu sejak menghirup udara dunia, karena ibunya meninggal saat ia dilahirkan. Keluarga ini mempunyai pelayan bernama Ali, seorang Hazara. Sudah menjadi garis nasib, Hazara adalah suku yang dipandang rendah, setidaknya dalam perspektif seorang Pashtun. Ali memiliki anak bernama Hassan. Ibunya, Sanaubar, hengkang meninggalkan Hassan ketika ia masih orok, belum genap berumur 5 hari.

Amir dan Hassan kemudian tumbuh bersama, menjelma sebagai dua karib tak terpisah. Kemana pun Amir pergi, di situ ada Hassan. Dua sahabat cilik ini mengarungi hari-hari dengan penuh gembira, meskipun dalam strata sosial yang berlaku di Afghanistan, kedudukan keduanya sangat jauh berbeda. Hassan bukan saja sahabat yang sangat setia, tetapi juga seorang pembantu yang kelewat patuh. Hassan mengerjakan perintah apapun dari majikannya tanpa bertanya, tanpa mengeluh.

Berbeda dengan Hassan, Amir tumbuh menjadi lelaki yang di kepalanya berkecamuk cemburu, iri dan kecewa kepada Baba, lantaran di mata Amir, Baba lebih menyayangi Hassan ketimbang dirinya. Amir juga kecewa terhadap dirinya sendiri, yang tak pernah mampu memenangkan hati Baba agar ia menjadi laki-laki sebagaimana Baba menginginkannya.

Kecamuk ini, pada gilirannya mempengaruhi banyak tindakan buruk Amir terhadap Hassan. Culas dan khianat, itulah balasan Amir kepada Hassan –sahabat yang selama ini melindungi dan meladeni apa pun keperluan Amir.

Semula saya menduga, hubungan antara Amir dengan Hassan, adalah relasi yang rapuh dan bersifat sepihak, satu arah. Dalam banyak peristiwa, sangat nyata digambarkan betapa tandas kesetiaan Hassan kepada Amir. Kesetiaan tanpa reserve. Seluruh sikap dan tindakan Hassan, sulit dibantah, adalah ekstrimitas penghambaan seorang sahaya kepada tuannya. Kesetiaan Hassan adalah sebentuk penghambaan yang aneh, sedemikian rupa sehingga hampir tidak bisa dipahami; bagaimana mungkin ada seorang anak manusia yang demikian total menyerahkan kesetiaan-diri kepada manusia lain. Alasan apa yang bisa dikatakan untuk membenarkan itu? Apakah hanya karena Hassan yang Hazara, dan Amir kebetulan Pasthun?

Tetapi dugaan itu pada akhirnya terbukti salah. Secara lahir, tindakan Amir memang seperti tak memandang sebelah mata kepada Hassan. Dalam diri Amir bersemayam gumpalan iri –sangat mungkin juga kebencian tersembunyi— terhadap Hassan, pesuruh berbibir sumbing yang dalam banyak hal sering mendapat tempat di hati Baba ketimbang Amir sendiri. Namun di relung bathinnya yang paling gelap, setelah bertahun-tahun berlalu, Amir ternyata tidak benar-benar bisa mengingkari ingatannya akan Hassan. Hantu Hassan, terus saja mengikuti kehidupan Amir, bahkan ketika ia sudah hijrah ribuan kilometer dari tanah airnya.

Konflik batin yang diidap Hassan ini menjadi tema sentral, untuk kemudian mengembang menjadi jalinan kisah yang mengharukan, tragis sekaligus mendebarkan.

****

Barangkali bisa disepakati, dalam novel ini Khaled Hosseini memang tidak hanya piawai merangkai detail dan menyajikan latar Afghanistan secara meyakinkan. Lebih dari itu, Hosseini nyatanya juga pintar memilin-milin emosi pembacanya dengan mengeksplorasi konflik kemanusiaan yang sudah berlangsung sepanjang masa: kesetiaan dan pengkhianatan, harga diri dan kebencian, keputus-asaan dan harapan, juga luka bathin yang menuntut penebusan.

Eksplorasi tema semacam ini, mungkin sudah tak terhitung jumlahnya. Tetapi melalui Hosseini, tema universal itu mewujud sebagai problem kemanusiaan yang tidak hanya menjadi persoalan orang-orang Afghan. Ini adalah problem semua orang, melintasi batas geografi, dan bisa menyergap siapa saja. Dalam ungkapan berbeda: boleh saja latar cerita berada di Afghanistan, tetapi persoalan yang dihadapi para tokohnya, adalah persoalan manusia keseluruhan.

Saya meyakini, inilah yang menjadi kekuatan The Kite Runner sehingga karya ini mampu mendunia. Tetapi pasti masih butuh waktu, apakah novel ini kelak akan dikenang sebagai kanon sastra dunia, atau sebaliknya, segera pupus pamornya digerus oleh karya-karya baru yang bakal lahir kemudian. Faktanya, hari ini The Kite Runner belum sepi ditinjau dan diperbincangkan.

10 Responses to “Tak Bisa Berhenti Mengingatmu, Hassan”

  1. dobleh yang malang Says:

    wah makasih banget tlah kasih sedikit buku lain yg mesti aku baca. lam kenal ya?

  2. pak dhe Says:

    wk wk wk wk, semoga saya bisa bercermin dengan seorang khaled hosseini. kedua jempol ini ikut menyertai keindahan The Kite Runner

  3. andre Says:

    Justru dari kebersahajaan cerita ini menjadi daya tarik yang luar biasa .yang amat sangat hanyak dijumpai dalam keseharian.bukan melulu kisah hitam putih belaka.salut buat penulis

  4. oechie Says:

    Ebatt………banget nih Omzz Eko wahyu Tawantoro……..kata2 nya apik.gw gi ngeburu buku itu tapi lom ketemu….cayo lah buat si Omzz

  5. syelviapoe3 Says:

    Bukunya sudah ada di Gramedia gak, ya ?
    Hm…perburuan buku tampaknya sudah dimulai…😀

  6. Tiang ilalang Says:

    ga ada komentar apapa, cuma mau gabung di-blog ini…..
    info apa aja yang boleh saya tulis disini?
    makasih ya.

  7. Echa_cUte Says:

    Kyakna bUKU nya keren jg twuh!Tp,ak blum punya!!
    Mw beli ah!

  8. anggun rara Says:

    bener2 karya yang banyak mengyras air mata….

  9. miss_eliot Says:

    bisa jadi refrensi bacaan lagi ni,, ayo berburu buku

  10. socrates leao Says:

    semoga bukunya keren dan bisa tambah inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: