Di Ruang Sempit Itu, Layang-layang Diterbangkan

Kamis 19 Juni 2008. Matahari memancar penuh, menyepuh langit dengan warna terang yang silau. Memasuki pekan ketiga Juni ini, alam seperti memberi isyarat akan datangnya kemarau.

Di sebuah ruang 5 X 5 meter persegi, di lantai 3 mal mewah Senayan City, cuaca tak kalah pengapnya. Udara tipis yang mengalir dari sebuah mesin pendingin, pelan saja mendesir, membuat seluruh ruang yang kecil itu terasa semakin sumpek –serasa berteduh di gubuk nelayan di atas tanah berpasir.

Di ruang yang kurang memadai itu, selusin orang tengah memperbincangkan sebuah buku besutan novelis Amerika kelahiran Afghanistan, Khaled Hosseini.  Judulnya cukup puitis, The Kite Runner.

Siang itu para penggiat Klub Buku & Film SCTV memang tengah punya gawe, menunaikan tanggungjawab bersama untuk menghidup-hidupi diskusi reguler yang menjadi komitmen komunitas yang baru seumur jagung ini. Pertemuan kali ini adalah yang keempat digelar, sejak klub dibentuk awal Mei silam.

Tak seperti direncanakan sebelumnya, tempat diskusi terpaksa pindah dari ruang meeting redaksi Liputan-6 SCTV lantai 9 Senayan City ke smoking room gerai Hoka Hoka Bento. Apa boleh buat, lantai 9 saat itu kebetulan sedang digunakan untuk melakukan hajatan syukuran atas diraihnya sertifikat ISO 9001:2000 oleh Divisi Pemberitaan untuk ketiga kalinya.

Keterbatasan ruang tampaknya bukan kendala bagi penggiat klub ini. Buktinya, meski kadang harus berpeluh, keduabelas peserta diskusi tak surut minat atas buku yang sedang dibahas.

Tinjauan awal The Kite Runner dilakukan oleh Eko Wahyu, yang pada kesempatan itu lebih banyak membedahnya melalui analisis intrinsik; meliputi perkembangan karakter tokoh, penerapan plot, setting peristiwa, suspen dan konflik yang untuk selanjutnya menggerakkan jalan cerita menuju klimaks. Secara intrinsik, demikian Eko Wahyu berpendapat, karya sastra ini tidak menawarkan sesuatu yang baru. Unsur-unsur pembangun cerita, disajikan Khaled Hosseini dengan cara-cara konvensional. Dari sisi gaya penceritaan, tidak ada sesuatu yang mengejutkan. Seorang peserta diskusi, Iskandar Siahaan, mengamini pendapat ini. “Tidak ada yang istimewa. Tidak ditemukan ungkapan baru, pengucapan baru,” demikian Iskandar meningkahi.

Lalu mengapa novel ini begitu digemari dan memikat jutaan penikmat, sampai-sampai bertahan selama 50 minggu menjadi salah satu karya terlaris, dan diganjar sebagai buku terbaik versi San Fransisco Chronicles?

“Justru karena cara penuturannya yang sederhana, dan nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, yang menyebabkan novel ini indah,” sergah Yus Ariyanto, seorang partisipan diskusi yang mengaku telah menonton filmnya. Yus melihat, ketegangan terus-menerus antara suku Pasthun dan Hazara, adalah modal besar bagi novel ini dalam membangun jalinan peristiwa, untuk menuju klimaks yang mengharukan. Lebih dari itu,  dalam kisah ini para tokohnya mengusung problem-problem psikologis manusia pada umumnya. Luka batin atas perasaan bersalah yang menahun, dan upaya untuk menyembuhkannya, adalah salah satu contohnya.

Barangkali diskusi akan berlangsung adem, jika saja novel peraih anugerah Humanitarian Award 2006 ini, berhenti ditinjau dari sudut intrinsiknya belaka. Justru yang menghangatkan perdebatan adalah unsur ekstrinsiknya. Karena itu sebagian peserta lebih berminat menyoroti karya ini dari sisi politisnya. Setidaknya ada tiga peserta yang menyinggung The Kite Runner dari sudut pandang ini.

Secara kritis, Rahman Mangussara berpandangan, novel ini sarat propaganda. Di dalamnya bertabur persepsi Barat terhadap Afghanistan yang notabene sarang kaum Taliban. Ia mengutip ungkapan sarkastis totoh Baba berikut ini:

“Mereka tidak melakukan apapun kecuali menghitung butiran tasbih dan memamerkan hafalan isi kitab yang ditulis dalam bahasa yang tidak mereka faham. Kuharap Tuhan melindungi kita semua, jika suatu saat nanti Afghanistan jatuh ke tangan mereka.”

Pandangan senada juga dinyatakan Moh. Samsul Arifin dan Agus Hidayat. Samsul malah mencurigai, jangan-jangan Hosseini adalah agen yang memang ingin mengabarkan aspirasi Barat kepada dunia Timur –dalam konteks ini direpresentasikan melalaui Afghanistan yang identik Taliban. Barat tentu saja dipersepsi sebagai beradab, sementara Taliban adalah barbar dan wajah dari segala kebengisan. Sedangkan Agus meragukan otentisitas pengetahuan Hosseini soal detail latar Afghanistan, mengingat penulis ini tidak memiliki akar budaya Afghan yang kuat. Bukankah ia sudah sejak lama keluar dari negeri itu, bahkan sebelum Taliban benar-benar menguasai Afghanistan?

Khaled Hosseini yang kini bermukim di San Jose, California, adalah seorang anak diplomat. Ia dilahirkan di Kabul pada 1965. Saat ayahnya ditugaskan ke Paris pada 1976, Hosseini meninggalkan Afghanistan dan tak pernah bisa pulang lagi ke tanah kelahirannya, karena pada 1980 Rusia telah menduduki negeri itu. Keluarga Hosseini akhirnya mendapat suaka politik dari pemerintah Amerika Serikat, dan hingga kini ia menjadi seorang dokter.

Bagi sebagian besar peserta diskusi, mungkin sulit membayangkan seperti apa sesungguhnya potret Afghanistan beserta suku penduduknya. Nah, beruntung dalam diskusi kali ini berkesempatan hadir  seorang jurnalis Liputan 6, Nurul Amin, yang pernah menjejakkan kaki di bumi yang karut-marut dicabik perang itu. Pada 2002 dan 2005, ia sempat melakukan tugas jurnalistik ke sana. Berbekal foto-foto serta pengalaman liputan, Nurul seolah mengajak menapaki kembali tanah-tanah gersang Afghanistan.  Lokasi peristiwa, suasana perkampungan, profil warga Pasthun maupun Hazara, fasih digambarkan Nurul, sehingga setting yang ada di dalam The Kite Runner terasa tidak terlalu jauh berjarak.

Seolah turnamen adu layang-layang, suasana diskusi kali ini pun demikian. Beragam argumen diterbangkan, saling disambitkan, dan benang-benang alasan ditarik-ulur berlahan. Tapi semua tampaknya bergembira, karena tidak ada peserta yang harus merasa kalah. Tak ada layang-layang yang harus putus untuk kemudian rebah ke tanah.

****

Jika tidak ada halangan, Kamis 10 Juli nanti, komunitas ini kembali melanjutkan kiprah. Andy Budiman akan menjadi pemrasaran untuk membedah buku “Muslim Demokrat” karya Saiful Mujani.

Buku ini berisi kajian sistematis dan empiris mengenai Muslim Indonesia berdasarkan survei opini publik berskala nasional. Buku ini sekaligus semacam jawaban atas tuduhan para sarjana Barat   yang cenderung memandang Islam dan demokrasi sebagai dua entitas berbeda, dan keduanya berjalan sendiri-sendiri. Bahkan mereka mengklaim bahwa Islam bertanggung jawab atas kegagalan konsolidasi demokrasi di negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Semakin kuat Islam dalam suatu masyarakat, demokrasi semakin tidak mungkin tumbuh di masyarakat tersebut. Benarkah tuduhan para sarjana Barat itu? (EWT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: