Benarkah Islam Klop dengan Demokrasi?

Didahului makan siang yang dibandari Eko Wahyu Tawantoro, diskusi buku karya Saiful Mujani, Muslim Demokrat, digelar di ruang rapat Lantai 9 SCTV Tower, Kamis, 10 Juli 2008.

Kali ini, Andy Budiman yang kebagian menjadi panelis. Menurut Andy, buku ini berkontribusi penting dalam diskusi soal kompatibilitas Islam dan demokrasi. Indonesia menjadi ujian, benarkah Islam dan demokrasi kompatibel? Di Timur Tengah, harapan itu bisa dibilang telah sirna. Lihat saja, kehadiran rezim-rezim otoriter di sana. Di Afrika, kaum muslim masih disibukkan dengan konflik-konflik komunal dan keterbelakangan ekonomi yang parah.

Kedua, menurut Andy, buku ini menyajikan pendekatan baru dalam ilmu politik. Selama ini, dunia ilmu politik Indonesia didominasi pendekatan historis, sosiologis atau antropologis. Pendekatan antropologis ala Clifford Geertz melalui buku Religion of Java, membawa pengaruh besar bagi kajian politik di Indonesia. Penelitian tentang politik di Indonesia banyak dipengaruhi Geertz. Saiful bisa disebut sebagai orang pertama yang memperkenalkan pendekatan empiris dalam dunia politik yang sebetulnya sudah berkembang sejak tahun 1960-an di Amerika Serikat.

Meski memberikan sumbangan sangat penting, bukan berarti buku ini sepi dari kritik. Kritik pertama, kata Andy, datang atas pendekatan metodologis yang dipilih Saiful. Bukan rahasia umum, bahwa para peneliti politik dari aras lain (terutama kiri), mencibir model pendekatan empiris. Argumentasinya, bagaimana mungkin manusia bisa dipilah-pilah dan dikerangkeng dalam kategori yang ketat untuk kemudian ditundukkan?!

Kritik kedua, terkait pendekatan budaya yang dipakai Saiful Mujani. Pendekatan model ini banyak dikritik oleh para ahli yang mengkaji masalah demokrasi. Alih-alih menjelaskan, pendekatan ini justru dianggap kerap mengaburkan.

Terakhir, penelitian Saiful Mujani yang dibuat antara tahun 2001 dan 2002 ini, dilakukan pada saat terjadinya perubahan drastis di dunia muslim Tanah Air. Pasca reformasi, kita menyaksikan bangkit dan menguatnya ke-Islam-an. Partai politik dan organisasi agama berbasis Islam muncul. Fenomena terorisme, perusakan tempat ibadah dan sejumlah peristiwa intoleransi lain mengindikasikan menguatnya konservatisme.

Seperti tak sabar, begitu moderator mempersilakan, Zaenal Bhakti langsung angkat bicara. Ia mengatakan, Islam Indonesia tak punya persoalan dengan demokrasi, klop alias “match.” Ia menunjuk pengalaman Piagam Jakarta sebagai penyelesaian yang elegan. Di sana, demokrasi terlihat jelas.

Namun, jika ditarik ke skala global, kesimpulan Saiful bisa berbahaya. Karena, praktik Islam berbeda-beda. Sebut saja, Islam di Indonesia jelas berbeda dengan Islam yang dilakoni di Rwanda, Afrika.

Dari aras berbeda, Iskandar Siahaan juga mencoba kritis. Menurutnya, jika Islam memang kompatibel dengan demokrasi, bagaimana kita bisa menjelaskan otoritarianisme Soeharto yang bisa bertahan 30 tahun lebih? Bagaimana kita bisa menjelaskan adanya Demokrasi Terpimpin.

Poin kedua, disertasi ini ditulis di tengah kecaman para pakar Barat terhadap Islam pasca insiden 11 September di New York. Ada orkestrasi yang menyatakan bahwa Islam sangat dekat, jika tak bisa dibilang identik, dengan laku terorisme. Nah, menurut Iskandar, Saiful cerdas memilih momentum sehingga membuat karyanya menjadi kontekstual.

Soal metodologi juga diulas Iskandar. Meski baru, tapi pendekatan empiris tidak bisa diharapkan untuk melahirkan teori baru. Ini jelas berbeda dengan kerja penelitian yang dilakukan sosok seperti Clifford Geertz yang akhirnya “menciptakan” tesis tersohor “Islam, Santri, dan Abangan.”

Terkait dengan pandangan miring pakar Barat terhadap Islam, Eko Wahyu memaparkan bahwa memang sudah ada prasangka yang bercokol di kepala mereka. Padahal, Islam pada kenyatannya tidak homogen. Ada yang intoleran, tapi banyak pula yang sebaliknya. Jika ada pemahaman bahwa Islam itu heterogen, mestinya gampang menjelaskan secara logis bahwa Islam kompatibel dengan demokrasi.

Leanika Tanjung mempertanyakan, jika ada pertentangan dengan demokrasi, itu lantaran faktor manusianya atau karena nilai-nilai instrinsik dalam Islam?

Menanggapi Leanika, Yus Ariyanto menyatakan, kesimpulan Saiful bisa ditarik jauh ke belakang. Menilik sejarah, Islam yang pertama kali datang ke Indonesia berasal dari Gujarat, India, bukan Timur Tengah. Islam jenis ini punya warak yang lebih toleran dan pluralis.

Itu juga yang membuat Islam gampang masuk ke Indonesia. Islam yang toleran itu punya kemampuan adaptasi yang tinggi. Tengok, misalnya, penggunaan media wayang untuk sarana penyebaran ajaran Islam. Pun, tetap dipertahankannya sejumlah praktik budaya lokal meski Islam sudah tersebar di masyarakat.

Yang membikin masalah, Iskandar menambahkan, ada gerakan Islam “pusat” yang coba berperan lebih jauh. Ini terlihat dari manuver kaum Wahabbi yang belakangan merembes ke banyak tempat di dunia. Jika wajah ini yang mengemuka, Islam memang sulit disandingkan dengan demokrasi.

Terakhir, M. Samsul Arifin menyoroti soal pemilihan responden. Kenapa yang dipilih sebagai responden hanya dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah saja? Pemilihan responden ini punya implikasi yang jauh. “Jika saja framing-nya bisa dibuat lebih terbuka, hasilnya mungkin berbeda, “ ujar Samsul.

Sore menjelang. Pekerjaan rutin telah menunggu. Akhirnya, diskusi harus dipungkasi. Jangan khawatir, diskusi-diskusi lain sudah di depan mata.(YUS)

4 Responses to “Benarkah Islam Klop dengan Demokrasi?”

  1. infogue Says:

    artikel anda :

    http://politik.infogue.com/
    http://politik.infogue.com/benarkah_islam_klop_dengan_demokrasi_

    promosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!

  2. fauzi Says:

    Benar Islam Indonesia tak punya persoalan dengan demokrasi, dan pengalaman Piagam Jakarta sebagai penyelesaian yang elegan. Di sana, demokrasi terlihat jelas. No comment a gain.

  3. azhari Says:

    Kalau kita lihat dari beberapa model pemerintahan negara-negara Islam terutama di wilayah Timur Tengah sepertinya demokrasi tidak pernah klop dengan Islam, tetapi itu kan bukan Al_quran atau Hadis
    Kalau kita ingin melihat demikrasi dlm agama islam boleh lihat dari hal yang seharusnya dijalankan oleh umat islam. Contohnya dalam menjalankan Shalat berjamaah, dimana dalam sholat berjamaah dipimpin oleh seorang pemimpin ( Imam ), dan rakyatnya adalah mak’mum. Dlm sholat berjamaan ada hak-hak pemimpin dan ada hak-hak mak’mum, ada hukum-hukumnya dimana makmum boleh bersuara memperingatkan sang imam jika terjadi kesalahan atau ke alpaan dan lain-lainnya.
    Disitu terlihat jelas bagaimana demokrasinya dllm islam.

  4. rang awam Says:

    Setuju banget, Islam klop banget dengan demokrasi, karena dalam Islam sendiri banyak terkandung nila-nilai demokrasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: