Dilema Kemanusiaan dan Profesionalisme

Dua pekan berlalu, diskusi digelar kembali. Kini, giliran The Hunting Party yang dibedah. Zaenal Bhakti didapuk untuk memberikan pengantar diskusi.

Menurut Zaenal, secara keseluruhan film ini, menarik ditonton dan sangat logis. Karakter yang dibangun cukup kuat menyakinkan bahwa apa yang terjadi memang nyata. Selain ketegangan-ketegangan perang dan perburuan The Fox, film ini juga berhasil membangun suasana lucu yang tidak dibuat-buat. Tidak salah jika diawal film sutradara telah menulis kalimat ”Only the most ridiculous parts of this story are true”. Hanya bagian-bagian konyol saja yang merupakan cerita sesungguhnya.

Namun jika dikaitkan dengan lika-liku kehidupan jurnalis televisi, seperti diniatkan saat film ini diusulkan dibahas, film ini tidak direkomendasikan.  Sebab sejatinya film ini bercerita tentang dendam dan kenekatan seseorang yang kebetulan wartawan, sangat jauh jika dibandingkan dengan film The Insider (diperankan Al Pacino) yang memang dari awal hingga akhir bercerita tentang konflik kepentingan seorang jurnalis televisi saat menjalankan profesinya.

Iskandar Siahaan mendapat giliran pertama menanggapi. Menurut dia, dalam kehidupan seorang jurnalis, memang kerap terjadi tark-menarik antara kepentingan profesional dengan kepentingan subyektif. Akan selalu muncul pertanyaan, “Apakah kita harus tegas menarik batas antara menjadi seorang manusia dengan menjadi seorang jurnalis profesional, “ tambahnya.

Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Iskandar. Profesionalisme harus terus diupayakan. Simon Hunt, tokoh utama yang diperankan Richard Gere, dalam parameter profesionalisme jurnalis, harus disebut tidak profesional saat melakukan live report itu. “Oke, kita maklum bahwa ia punya keterkaitan dengan seorang perempuan yang menjadi salah satu korban The Fox. Tapi, selalu harus terus didorong agar setiap wartawan mengedepankan sisi profesionalisnya terlebih dulu, “ ujarnya.

Setelah Iskandar, Rahman A. Mangussara angkat bicara. Menurut Daeng, panggilan akrab Rahman, sebenarnya banyak hal yang bisa dipelajari para jurnalis dari film ini. “Lihat, Hunt dipancing untuk bertindak seperti itu, “ kata Daeng. Si anchor menyebut peristiwa itu sebagai “pertempuran,” sementara Hunt yang berada di lapangan menampiknya mentah-mentah. Itu bukan “pertempuran,” melainkan “pembantaian.”

Perbedaan diksi bukan sekadar masalah teknis bahasa. Tapi, di belakangnya, ada pemihakan terhadap pihak-pihak tertentu. Dalam kasus The Hunting Party, kaum Muslim Bosnia menjadi bulan-bulanan pihak Barat.

Intinya, selama masih terus tinggi intervensi pemodal dan penguasa dalam bisnis pers, jurnalis hanya sekrup kecil. Ia akan diombang-ambing oleh kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Daeng mencontohkan, mengutip sebuah buku yang pernah dibacanya, pasca-tragedi 11 September, video-video tentang Irak dan Afghanistan hanya mungkin ditayangkan di TV Amerika setelah melalui “proses seleksi” yang melibatkan para staf Gedung Putih.

Daeng juga menyoroti soal ini: apakah berita lebih berharga ketimbang nyawa? Dalam film itu, digambarkan betapa Hunt enteng saja masuk ke kancah baku tembak. Ia seperti tak punya problem kalaupun nyawanya melayang. Buat Daeng, ini agak konyol. Bagaimana pun nyawa sangat penting. Ketika nyawa melayang, selesai sudah “idealisme” sebagai jurnalis karena tak kuasa lagi membuat berita.

Tapi, kata Daeng, memang para jurnalis kerap abai pada persoalan bahaya. Ini juga yang digambarkan dalam film Mighty Heart. Si jurnalis Wall Street sudah diingatkan tentang bahaya jika menemui tokoh Al-Qaeda di Pakistan. Tapi, ia bersikeras. Hasilnya, ia dipancung.

Soal kenekatan jurnalis, berdasarkan pengalaman pribadi, Geyong Rusdianto mengatakan agak susah untuk mengerem naluri jurnalistik ketika sudah di lapanngan. Pasti ada perasaan cemas soal bahaya. Tapi, keinginan untuk memperoleh “berita/narasumber terbaik” kerap membuat wartawan agak abai soal bahaya yang mengancam.

Menyambung soal ini, Samsul Arifin mempertanyakan soal standard operational procedure (SOP) untuk para jurnalis di wilayah-wilayah berbahaya. Bukan hanya di wilayah konflik tapi juga lokasi kebakaran, misalnya.

Ketika diminta menanggapi, Eko Wahyu Tawantoro mengaku ekspektasinya terlampau tinggi. Satu contoh, misalnya, soal “kegilaan” Simon Hunt. Menyimak adegan-adegan di Hunting Party, ada sejumlah ketidakmasukalan. “Agak gak masuk akal ada orang yang bisa menikmati perang seperti dia,” kata Hunt.

Miko Toro lebih menyoroti soal “pesan” lain film ini: pihak Barat, diwakili NATO dan CIA, memang tak serius menangkap The Fox. Kalau serius, mestinya tak perlu bertahun-tahun memburu penjahat perang itu. “Dalam dua hari, aku sudah bisa ketemu The Fox,” kata Hunt di film itu seperti diingatkan Miko.

Hal ini juga mengingatkan dengan situasi di Aceh. Saat konflik masih berlangsung, jurnalis bisa dengan gampang mengontak para petinggi GAM via telepon. Dengan teknologi penyadapan, mestinya militer Indonesia bisa dengan mudah menemukan mereka. Pada kenyataannya, hal itu tidak terjadi.

Diskusi seharusnya terus. Tapi, waktu juga yang membatasi. Kamis ini, giliran buku pemenang Nobel Perdamaian Muhammad Yunus, Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan: Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita, untuk dibahas.(YUS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: