Masih Ada Dunia Yang Lebih Baik

Leanika Tanjung

Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita, Muhammad Yunus, Gramedia Pustaka Utama, 280 halaman, Juni 2008

Peringkat : *****

Berbeda dengan buku pertama, Banker to the Poor, yang merupakan dokumentasi perjalanan hidup Muhammad Yunus hingga membangun Grameen Bank – Bank Desa, dalam “Creating a World Without Poverty,” pemenang Nobel Perdamaian 2006 ini melangkah lebih jauh. Ia bicara tentang bisnis sosial.

Di buka dengan cerita undangan Franck Riboud, CEO Group Danone, perusahaan makanan multinasional asal Perancis. Penjual susu dan produk susu terbesar ketiga didunia. Undangan yang datang sebelum Yunus mendapat Nobel Perdamaian, merupakan cikal bakal bagi Yunus mewujudkan sebuah bisnis sosial.

Bisnis sosial, sebuah model yang ditawarkan Yunus untuk melengkapi sistem kapitalisme. Jika kapitalisme memunculkan hanya satu dimensi dari sisi manusia, yaitu mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, bisnis sosial mengakui multi-dimensi manusia yang juga punya emosi dan jiwa sosial.

Ini sudah menjadi cita-cita lama Yunus. Ia sudah merintis dengan mendirikan rumah sakit perawatan mata. “Tapi, Grameen Danone akan jadi model baru yang kuat.” Sebuah bisnis sosial perusahaan multinasional pertama di dunia, yang dirancang dengan sengaja.

Kapitalisme, Globalisasi dan Kemiskinan

Selama tiga abad terakhir, sejak kapitalisme mendominasi dunia, banyak yang melihat kelemahan dan kekurangan sistem ini. Kritik terhadap pasar bebas dan globalisasi muncul setelah makin meningkatnya jumlah orang miskin.

Pendapatan global menunjukkan 94 persen pendapatan dunia dinikmati 40 persen manusia, sisanya enam persen diperebutkan 60 persen penduduk dunia. Separoh penduduk dunia hidup hanya dengan dua dolar sehari dan hampir satu miliar hidup di bawah satu dolar sehari. Tragis.

Globalisasi punya dua wajah (Stiglizt, Making Globalization Work, 2006) : Membuat kesejahteraan tinggi di Eropa sebelah Barat dan Amerika Utara, memunculkan inovasi teknologi, temuan ilmiah dan kemajuan pendidikan dan sosial. Globalisasi membuat jutaan orang di Cina keluar dari kemiskinan.

Tapi, Afrika tereksploitasi akibat globalisasi. Belakangan, Amerika Latin dan Rusia kecewa dengan globalisasi. Mereka membuka pasar, tapi globalisasi tidak memberi bukti nyata, terutama bagi rakyat miskin.

Ekspresimen Grameen

Yunus bukan penentang globalisasi dan pasar bebas. Dia mengakui, banyak hal luar biasa yang dilakukan pasar bebas dengan amat baik. Tapi, globalisasi harus dikawal dan tidak bisa dibiarkan berjalan begitu saja. Cina berhasil karena menyikapi globalisasi dengan hati-hati. Mereka membatasi impor dan tidak mengijinkan uang panas masuk.

Yunus muncul untuk menyempurnakan globalisasi. Ia menyadari pasar bebas yang sudah sangat mendunia tidak bisa dilawan. Salah satu caranya adalah “berkawan” dengan pemuja pasar bebas dan mengambil manfaat sebesar-besarnya untuk kemaslahatan orang miskin.

Dari pergulatan selama 30 tahun sejak mendirikan Grameen Bank, Ia tiba pada satu titik : mendirikan bisnis sosial yang dalam buku ini tak hanya sekadar konsep, tapi diwujudkan dalam sejumlah bisnis sosial. Setidaknya, ada 25 kegiatan usaha dalam kelompok bisnis Grameen Bank.

Beberapa adalah perusahaan nirlaba, sedangkan yang lainnya mengejar laba meski tetap mengutamakan kepentingan orang miskin. Dimulai dengan layanan keuangan melalui Grameen Bank, bisnis lainnya muncul seperti pelatihan keuangan, pelatihan pertanian, budidaya ikan, rumah sakit, makanan bergizi untuk orang miskin sampai telekomunikasi untuk orang miskin. Puncaknya ketika ia berhasil mendirikan Grameen Danone, tahun 2007.

Menaruh Kemiskinan dalam Museum

Cita-cita Yunus berikutnya adalah menaruh kemiskinan dalam museum. “Kemiskinan disebabkan kegagalan di tingkat konseptual, bukan ketidakmampuan manusia”. Berdasarkan ini, ia yakin sekali suatu saat, murid-murid sekolah harus ke museum untuk melihat apa itu miskin. Mereka akan terpengarah melihat kesengsaraan dan kehinaan yang dialami sebagian manusia.

Ia menyitir sejumlah yayasan yang didirikan orang paling kaya dunia seperti John D Rockefeller, Henry Ford, Andrew Carnegie untuk membantu sejumlah orang miskin di dunia melalui berbagai proyek amal.

Tahun 2000, pendiri Microsoft dan isterinya, mendirikan Bill dan Melinda Gates Foundation yang sumbangannya sampai Maret 2007 sudah mencapai US$ 33,4 miliar atau sekitar Rp 301 triliun. Ini jumlah terbesar yang pernah diberikan yayasan amal.

Juni 2006, Warren Buffet bersama Gates mengumumkan rencana menyumbangkan US$ 37 miliar dari kekayaan pribadi pada Gates Foundation.

Yunus yakin, para filantropis dunia masa depan akan tertarik pada bisnis sosial. Mereka bisa meniru apa yang dilakukan Franck Riboud. Keyakinan itu karena mereka akan paham bawah dolar untuk bisnis sosial akan lebih tangguh ketimbang dolar untuk amal. Dolar amal hanya bisa dipakai sekali, sedangkan dolar bisnis sosial bisa didaur ulang. Toh, mereka juga tidak mengharapkan adanya pengembalian keuntungan.

Ketua Jurusan Ekonomi Universitas Chittagong, Bangladesh ini menyarankan Warren Buffet menggunakan sebagian uangnya mendirikan bisnis sosial asuransi kesehatan berkualitas tinggi terjangkau bagi 47 juta warga AS yang belum memilikinya. Jika Buffet ikut mendesain bisnis sosial itu, perusahaan itu akan sukses karena Warren Buffet adalah genius dalam industri asuransi.

Kata-kata yang memberi inspirasi kemanusiaan:

* Akses sekecil apapun, punya pengaruh transformatif pada kehidupan manusia.
* Orang miskin paling miskin layak mendapat kredit
* Karena mereka manusia, adalah fakta penting untuk percaya pada mereka

*) Untuk Diskusi Klub Buku dan Film SCTV, 7 Agustus 2008

3 Responses to “Masih Ada Dunia Yang Lebih Baik”

  1. arya nasoetion Says:

    Kayaknya satu lagi buku wajib beli..

  2. Edy Says:

    Murid sekolah didaerah tak perlulah kemuseum untuk melihat kemiskinan sebab setiap hari mereka bergelimang dengan kemiskinan itu sendiri, jadi mungkin hanya orang kota yg kaya…jadi saran saya museumnya ditaruh didaerah yg elit…?..he..he cuma canda doang ya…salut buat M. Yunus…semoga sukses selalu…dalam berkarya……

  3. toro Says:

    waduh… salut deh buat para pembela kaum terbelakang seperti bapak yang satu ini. layak untuk menjadi inspirasi buat semua orang tak terkecuali org kaya. orang miskin juga bisa jadi inspirasi buat banyak orang apabila dirinya punya manfaat dan arti bagi orang di sekelilingnya.kapan ya saya bisa seperti beliau(mhd Yunus.red)?tanya -kan kenapa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: