Upaya Menaklukkan Kemiskinan

“Saya berangkat dengan kekaguman terhadap Muhammad Yunus”, kata Leanika tanjung memulai diskusi dua mingguan klub buku dan film sctv (07/08). Lea memang didapuk sebagai pembicara membahas buku Muhammad Yunus berjudul Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan: Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita (Gramedia, 2008).

Menurut Lea, berbeda dengan buku pertama, Banker to the Poor, yang merupakan dokumentasi perjalanan hidup Muhammad Yunus hingga membangun Grameen Bank–Bank Desa, dalam “Creating a World Without Poverty,” pemenang Nobel Perdamaian 2006 ini melangkah lebih jauh. Ia bicara tentang bisnis sosial.

Bisnis sosial, sebuah model yang ditawarkan Yunus untuk melengkapi sistem kapitalisme. Jika kapitalisme memunculkan hanya satu dimensi dari sisi manusia, yaitu mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, bisnis sosial mengakui multi-dimensi manusia yang juga punya emosi dan jiwa sosial.

Yunus bukan penentang globalisasi dan pasar bebas. Dia mengakui, banyak hal luar biasa yang dilakukan pasar bebas dengan amat baik. Tapi, globalisasi harus dikawal dan tidak bisa dibiarkan berjalan begitu saja. Cina berhasil karena menyikapi globalisasi dengan hati-hati. Mereka membatasi impor dan tidak mengijinkan uang panas masuk. Salah satu caranya adalah “berkawan” dengan pemuja pasar bebas dan mengambil manfaat sebesar-besarnya untuk kemaslahatan orang miskin.

“Saya memberi bintang lima sebagai peringkat buku ini”, kata Lea menutup pemaparannya.

Diskusi kemudian bergulir dengan A. Rahman Mangunsara, yang mengatakan bahwa M. Yunus tidak membuat teori baru. Ia hanya bermain pada tataran teori kapitalisme dalam arti hanya mencoba memperbaiki borok-borok yang terjadi dalam teori kapitalisme. Dengan demikian Yunus tidak melakukan perombakan total hanya mengukuti arus pemikiran yang sudah ada, sehingga tidak ada grand teori yang dapat ditarik dari M. Yunus.

Yus Ariyanto menyeruak dengan pendapat bahwa M. Yunus memang tidak hendak bepretensi melawan paradigma kapitalisme, ia justru bergerak dan berjalan seiirng dengan kapitalisme, itu sebabnya ia tetap mempercayai kapitalisme dan globalisasinya, namun disis lain Yunus mencoba mencari celah bagaimana kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh kapitalisme dan globalisasi dapat diatasi.

Inilah yang kemudian dibilang Miko Toro sebagai visioner. Yunus, begitu Miko, menyakini bahwa manusia tidak satu dimensi (sebagaimana diyakini oleh penganut kapitalis) tapi bergama dimensi. Itu sebabnya yunus percaya bahwa antara mencari kekayaan dengan jiwa sosial dapat dipadukan demi kemaslahatan orng miskin.

Sementara Iskandar Siahaan, menyatakan, apa yang dilakukan Yunus dengan perusahaan Danone di Bangladesh seperti yang terurai dalam buku tersebut, adalah bentuk lain dari aksi-aksi kapitalisme. Sejatinya , danone tidak sedang beramal, tapi seperti layaknya perusahaan kapitalis lainnya, Danone jutru tengah mengupayakan untuk mengambil keuntungan dikemudian hari, dengan berlaku sebagai dewa penolong. Pemahaman seperti ini, menurut Iskandar Siahaan, seharusnya sudah paham tentang hal ini, “Entah kenapa Yunus tetap bekerjasama dengan Danone..” cetus Iskandar.

Apa yang berhasil dilakukan oleh Yunus di bangladesh, tidak dapat berhasil dilakukan ditempat lain, seperti di Indonesia. Menurut Agus Hidayat, hal ini karena budaya yang sangat jauh berbeda. Di Bangladesh, masyarakatnya tidak se-konsumtif masyarakat Indonesia, jadi uang memang digunakan untuk hal-hal yang memang perlu.

Namun, menurut Erdi Taufik, soal budaya tidak terlalu tepat. karena apa yang dilakukan oleh Yunus adalah sebuah aksi langsung untuk menyadarkan orang-orang dari kemiskinan. Yunus menggunakan pola duplikasi, artinya, upaya mengangkat orang dari kemiskinan dilkukan dalam skal kecil terlebi dahulu, setelah berhasil di skala ini, maka pola ini kemudian diduplikasi ke kelompok yang lebih besar.

Dalam konteks ini, boleh jadi memang diperlukan figur kuat, seperti dikatakan oleh Samsul Arifin. Menurut Symasul dalam melakukan terobosan dicelah kapitalisme meang dibutuhkan figur yang kuat agar program yang dipilih berhasil dijalankan. apa yang dilakukan M. Yunus, demikian Eko Wahyu Tawantoro, adalah praktek ekonomi yang memang dilakukan untuk membantu orang miskin di bangladesh. Yunus memang tak hendak melahirkan Teori baru. Itu sebabnya Yunus diganjar penghargaan Nobel untuk bidang perdamaian bukan bidang ekonomi.(ZB)

Diskusi akhirnya ditutup dengan kesepakatan, bahwa dikusi berikutnya akan mengangkat buku novel klasik karya Victor Hugo “Les Miserables”, yang akan dibawakan oleh Miko Toro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: