FPI: Hitam, Putih atawa…

fpi

Moh Samsul Arifin

Judul Buku: Hitam Putih FPI
Penulis: Andri Rosadi
Penerbit: Nun Publisher, Jakarta
Cetakan: Juli 2008
Tebal: 237 Halaman

Indonesia pasca-Soeharto tak bisa dilepaskan dari kiprah Front Pembela Islam (FPI) di layar publik. Tapi, citra organisasi masyarakat yang dipimpin Habib Rizieq Shihab itu berselimut jelaga hitam. Publik mengidentikkannya dengan kekerasan. Fakta-fakta aksi kekerasan itu begitu mudah dideretkan, tak lebih sulit dari menata papan catur.

Sebutlah penutupan bandar judi, penyerangan ke kantor Majalah Playboy, penutupan kampus Ahmadiyah di Parung, perusakan Kedubes AS, hingga yang paling anyar kerusuhan di Monas Jakarta, 1 Juni lalu.

Dalam aksinya, FPI bertindak bak aparat penegak hukum. Merazia bandar judi, lokalisasi atau menangkal kemaksiatan dan pornografi dilakoninya dengan menabrak tatanan hukum positif yang berlaku di ruang publik. Saat anggota atau Laskar FPI melakukan itu semua, kalangan pengkritiknya menilai sesungguhnya FPI telah menggantikan peran kepolisian –institusi yang otoritatif menegakkan hukum di tanah air. Sisi gelap ini menempatkan FPI sebagai ormas yang tidak toleran, dan menerbitkan ketakutan, bukan hanya pada sasaran-sasaran aksi mereka, tapi juga publik luas.

Buku Hitam Putih FPI ini ingin keluar dari stereotipe atau pelabelan yang menguras sisi gelap saja. Penulisnya, Andri Rosadi –jebolan Al Azhar Kairo, Mesir– memberanikan diri menyingkap FPI dari dekat,
langsung dari markas pusatnya di Petamburan, Jakarta. Dengan terjun ke markasnya dan terlibat intensif di pengajian-pengajian FPI serta mewawancarai pengikut, anggota, dan petinggi FPI, termasuk Habib Rizieq Shihab, Andri Rosadi menyediakan diri untuk menerima sisi hitam dan sekaligus sisi putih ormas berlambang ”dua pedang” ini.

Studi S-2 Andri Rosadi di UGM Jogjakarta ini mengisi kekosongan literatur mengenai FPI, apalagi menggunakan pendekatan antropologi. Kajian antropoligis ini penting karena kurangnya studi-studi kasus tentang komunitas muslim radikal secara partikular. Adapun datanya diambil lewat observasi partisipasi dan wawancara mendalam.

Kemunculan FPI pada 17 Agustus 1998 tak lepas dari lemahnya negara yang tidak mampu lagi menjalankan sebagian fungsinya seperti regulasi dan penegakan hukum. Ini menerbitkan kekecewaan di kalangan
masyarakat, yang disikapi dengan munculnya kelompok-kelompok independen semacam FPI yang berinisiatif menegakkan hukum menurut cara, pemahaman, dan kepentingan mereka (hlm. 134). Dengan demikian, FPI hanyalah reaksi dari merosotnya wibawa negara yang di zaman Orde Baru begitu kuat di hadapan masyarakat sipil. Begitu pula kehadiran FPI tak lantas memperkuat masyarakat sipil karena hakikatnya FPI memerosotkan citra keadaban yang seyogianya dijunjung tinggi unsur-unsur masyarakat sipil.

FPI membawa misi Islam sebagai solusi dan menempatkan amar makruf nahi munkar (menyeru pada yang baik dan mencegah kemungkaran) sebagaigagasan utama. Ini dikonkretkan dengan desakan untuk memberlakukan syariat Islam di Indonesia, sesuatu yang menghubungkannya dengan perjuangan Piagam Jakarta. Berbeda dengan Hizbut Tahrir Indonesia, FPI sebetulnya tak bermaksud mengubur hukum positif (warisan Belanda).

Tak pelak saat menyaksikan realitas sosial tak sesuai dengan nilai-nilai moral agama, FPI beraksi. Apa yang dilakukan FPI merupakan simbol dari ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan refleksi dari krisis moral di
masyarakat. Dapat dimaklumi jika dalam aksi-aksinya FPI selalu konfrontatif –seolah-olah negara (baca: alat-alat negara) mati ketika mereka bergerak. Persoalannya, bagaimana menerjang hukum positif yang
menjadi common platform kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Namun, menurut Andri Rosadi, apa yang dilakukan FPI bukan hanya aksi-reaksi semata. Sebab, sikap dan perilaku mereka juga dibimbing teks –dalam hal ini ayat-ayat yang menyeru pada amar makruf nahi
munkar. Sebagai majoritas kaum Sunni di tanah air, FPI juga menganut mazhab Syafii –sebuah mazhab yang menempatkan teks dan akal secara seimbang. Dalam sejarahnya, penganut Syafii selalu menjaga nuansa moderat dalam menilai dan menghukumi sesuatu. Hanya, dalam hal tertentu, pola keberagamaan pengikut FPI yang dibentuk Habib Rizieq terpengaruh Islam Petro (Wahabisme) yang berhulu di Arab Saudi.

Cirinya kaku, teks dominan, dan memahami akidah secara rigid, dan keras terhadap pelanggaran nilai-nilai agama (hlm. 92-93). FPI juga terpengaruh Sayyid Qutb, salah seorang ideolog Ikhwanul Muslimin.

Studi Andri Rosadi juga mendedahkan bagaimana organisasi FPI ditata dan dikelola, hubungan Habib Rizieq dengan pengikutnya, pola rekrutmen anggota hingga friksi serta intrik di tubuh FPI (hlm. 87-128). Salah satu pilar FPI justru berada pada sosok Habib Rizieq. Dia adalah sumber otoritas moral dan agama, pusat kuasa sekaligus manajer yang baik bagi organisasi.

Sejauh ini, FPI bisa bersatu di bawah Habib Rizieq yang dapat diterima kelompok-kelompok di ormas tersebut. Habib Rizieq otoritatif karena secara geneologis mengklaim punya garis keturunan Nabi Muhammad SAW.

Integritas Habib Rizieq dipandang mulia di kalangan pengikutnya. Suatu waktu, Habib Rizieq ditelepon Presiden Yudhoyono yang mengucapkan terima kasih atas kiprah anggota FPI menolong korban tsunami di Aceh. Presiden berniat memberinya Satyalencana. Tapi Habib Rizieq menolak dengan halus, dan mengusulkan agar penghargaan itu diberikan kepada 1.200 sukarelawan FPI yang berjibaku mengevakuasi 30 ribu lebih mayat di Serambi Mekkah (hlm. 121). Sisi putih FPI yang bederma pada kemanusiaan dengan menolong korban tsunami sambil meninggalkan pekerjaan serta keluarga itu kurang ditonjolkan oleh pers.

Kajian antropologis ini seharusnya menyumbang lebih banyak apabila Andri Rosadi menawarkan ”proposal” baru yang berpretensi meredam ”ideologi kekerasan” yang telanjur lekat pada FPI. Ada semacam permakluman bahwa negara lemah dan karena itu aparat negara sering absen ketika praktik kemaksiatan, kriminal, dan penodaan agama berpentas di ruang publik. Sungguh sangat disayang, ia tidak menggali sebanyak mungkin cara baru ala FPI untuk mewujudkan amar makruf nahi munkar.

18 Responses to “FPI: Hitam, Putih atawa…”

  1. eko Says:

    innalillahi, sungguh umat islam kini telah jauh dari ilmu yg benar. mereka menganggap apa yg mereka (amrozi cs) lakukan adlah benar (jihad), padahal itu adalah membuat kerusakan. bahkan para ulama salaf pun tidak ada yg setuju dengan bom yg mereka lakukan. maka sepantasnya kita kembali kepada ajaran muhammad dan para sahabat dalam menegakkan islam. bukan dengan nafsu belaka

  2. eko Says:

    innalillahi, sungguh umat islam kini telah jauh dari ilmu yg benar. mereka menganggap apa yg mereka (amrozi cs) lakukan adlah benar (jihad), padahal itu adalah membuat kerusakan. bahkan para ulama salaf pun tidak ada yg setuju dengan bom yg mereka lakukan. maka sepantasnya kita kembali kepada ajaran muhammad dan para sahabat dalam menegakkan islam. bukan dengan nafsu belaka.
    begitu juga dengan FPI. maksud mereka benar, tapi bukan dengan jalan merusak milik orang atau mengutamakan kekerasan. itulah keutamaan kesabaran.bahkan samai diri kita disiksa pun kita dituntut untuk bersabar. wallohu a’lam

  3. laziale Says:

    Di Negara yang ber-BHINEKA TUNGGAL IKA dan Ber-PANCASILA tentu apa yang dilakukan FPI ini sangat tidak masuk akal.
    Kalaupun FPI bertindak karena symbol ketidakpercayaan terhadap pemerintah itu sangat tidak logika dan hanya mengada-ada.
    Untuk apa kita memiliki pemerintah, untuk apa kita memiliki negara, kalau kita tidak bisa menunjukkan bagaimana menjalankan kehidupan yang positif.
    Apa yang dilakukan FPI saat ini sudah sangat meresahkan masyarakat secara umum, walaupun ada sebagian masyarakat yang mendukung aksi mereka.
    Ini hanyalah luapan emosi yang tidak berkembang secara positif.
    Secara logika, pemberian sanksi hanya berhak dilakukan oleh orang-orang yang ditunjuk resmi/ lembaga hukum yang sah. Kekerasan adalah bentuk ketidakmatangan emosional. Oleh karena itu perlu dilakukan instropeksi diri, apakah orang-orang yang melakukan kekerasan tersebut merupakan orang-orang yang tidak pernah melakukan kesalahan / sempurna?
    Tidak ada satu manusiapun yang sempurna di dunia ini.
    Wahai teman-teman FPI, hidup ini bak roda berputar, hanya Tuhan yang berhak mengadili manusia, bukan kita.
    Kalaupun ada orang-orang atau saudara-saudara kita yang melakukan tindakan yang menurut kita kurang benar, maka berikanlah contoh yang benar kepada mereka, bukan kekerasan…
    Karena kekerasan hanya akan menimbulkan rasa benci dan dendam.

  4. Shadow ekku5u Says:

    Ada sesuatu di balik maraknya kekerasan atas nama agama ini. Saudi arabia mencoba menghagemoni negeri2 muslim dengan paham wahabi-nya, setelah pakistan & afganistan, sekarang giliran Indonesia!

  5. netral Says:

    Upaya mengejar momentum komersil yang baik ini sangat disayangkan kalau harus menjual murah kehormatan intelektual. Tidak layak buku yang sekaligus merupakan karya ilmiah, ternyata membuat suatu metodologi penelitian yang sangat lemah. Bagaimana tidak ? Andri Rosadi sendiri mengatakan beberapa kali di dalam buku tersebut, antara lain di halaman 123, bahwa “FPI merupakan transformasi dari Habib Rizieq”, tapi tidak sekalipun ia melakukan wawancara dengan Habib Rizieq selaku Ketua Umum FPI. Akhirnya buku yang ternyata juga merupakan apalagi dijadikan bahan disertasi S2 Andri Rosadi di UGM, hanya berisi kesimpulan sang pengarang setelah melakukan studi pustaka dan hasil wawancara dengan laskar FPI, serta hasil pendengaran satu arah yang diperolehnya saat mendengar beberapa ceramah Habib. Ia tidak berbicara dengan nara sumber utama (ini menurut kesimpulan Andri sendiri) yang ia anggap sebagai “Core FPI” dan “pusat wacana FPI”, yaitu Habib Rizieq selaku pendiri utama dan Ketua Umum FPI.

    Andri memang berkilah bahwa sudah 2 kali berusaha membuat janji dengan Habib namun katanya ditolak. Irwan Arsidi, selaku sekretaris pribadi Habib Rizieq, dalam kesempatan tanya-jawab menyampaikan bahwa melalui seorang penjual Indomie rebus di warung sebelah Mesjid Al-Ishlah dekat rumah Habib, bahwa memang pernah ada seorang yang mengaku wartawan dan mengaku bernama Andri ingin bertemu dengan Habib untuk melakukan wawancara. Sayangnya pesan itu disampaikan melalui penjual mie instan, sehingga kurang tepat secara teknis.

    Sangat sulit dipercaya bahwa menemui Habib sulit. Karena setiap Rabu sehabis pengajian rutin, ia selalu menerima puluhan hingga ratusan tamu yang ingin berdialog atau sekedar bersilaturahim. Apalagi sejak dalam tahanan di Polda Metro Jaya, setiap hari rata-rata sekitar 30 sampai 50 orang datang menemui Habib, tak perlu pakai janji.
    Acara bedah buku “Hitam-Putih FPI” yang dihadiri sekitar 100 orang pengunjung dan belasan wartawan itu memang menarik untuk menjadi bahan berita dan membuat buku itu dicari orang. Namun usulan dari sekitar 5 orang tamu yang hadir dan berbicara hari itu, termasuk Adian Husaini, menyimpulkan bahwa, “buku ini tidak ilmiah dan berisi banyak fitnah, sehingga sebaiknya ditarik dari peredaran. Sungguh ini tak pantas disebut acara bedah buku, lebih tepat disebut acara bedah nurani ‘penulis’ buku yang berisi fitnah dan kebodohan metodologi. “

    http://www.fpi.or.id/artikel.asp?oy=ber-42

  6. netral Says:

    Ikhwan….

    terlepas dari semua ini, ada baiknya kita juga tidak melihat dari satu sisi saja tentang FPI, Islam itu cinta damai. yang kita dengar dan lihat soal FPI ini hanya sepotong sepotong, tidak dari sumbernya langsung, apalagi pembertiaan di pers yg sangat tidak seimbang tentang FPI, ini bisa anda buktikan/lihat sendiri bagaimana dialog antara Habib Riziq dengan Sodara kita yg nasrani di link berikut : http://www.youtube.com/watch?v=TG4Ssf85VTM&feature=related

    semoga kita bisa jujur dengan hati nurani kita menilai keberadaan FPI, terutama yg umat yg mengaku agamanya islam, karena sesungguh allah mencintai orang orang berfikir.

    manusia tempatnya salah, allah pemilik kebeneran…..

  7. Sigit Kristiantoro, SS.B.Th. Says:

    Saya bukan orang yang beragama Islam, tapi saya sangat senang dan bangga boleh mengenal Islam, paling tidak ketika saya kuliah Filsafat dan Teologi Islam. Sekian banyak para pemikir Islam turut memberi warna dan inspirasi filosofis bahkan teologis berkaitan dengan hidup dan kehidupan kita sebagai manusia. Mereka adalah orang-orang hebat, hebat karena mampu menterjemahkan iman dan keyakinan kepada Allah SWT dalam kedewasaan berpikir dan bertindak, menggunakan logika tanpa harus membutakan hati, mengabdi pada yang ilmiah sekaligus berbakti pada yang Ilahi. Akankah lahir para filsuf dan teolog baru dari FPI?

  8. rang awam Says:

    sebelum kita menilai mana yang benar dan salah, maka akan lebih bijak jika kita melihat akar permasalahannya terlebih dahulu. begitu juga dalam kasus FPI, kita sepakat bahwa kekerasan dan pengrusakan yang dilakukannya adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. namun saya yakon FPI tidak akan melakukan itu semua apabila tidak ada hal mendasar yang menurut mereka harus segera diselesaikan. Kongkretnya, tindakan kekerasan oleh FPI muncul karena adanya ketidak adilan pemerintah dalam memberikan kesempatan kepada pihak mayoritas untuk menjalankan kepercayaan yang dianut.

  9. arul Says:

    saya salut pada FPI disatu sisi. mereka berani melawan kemungkaran yang terkadang hanya bisa dihentikan dengan “ketegasan”. namun sisi yang lain juga merasa miris tatkala mereka menggunakan “ketegasan” untuk menyelesaikan persoalan yang bisa diselesaikan dengan soft approach

  10. andri Says:

    Trims atas review dan komentar buku ttg FPI. Terlepas dai pro kontra, ada beberapa hal yg ingin saya sampaikan. Pertama berkaitan dengan tuduhan bahwa saya penyusup. Saya sebenarya berkali2 kirim sms ke Irwan untuk jumpa dengan Habib, namun selalu ia tolak dengan alasan Habib sedang sibuk. Saya juga datang tiga kali secara langsung ke rumah Habib, diantar oleh dua orang teman (wartawan Tabloid Kontan). Dua kunjungan pertama, kami ditolak, dan yang menolak adalah orang yang mengatakan saya sebagai penyusup:Irwan. Saya bisa kontak lewat sms dengan Habib setelah mendapatkan no nya dari salah seorang pengurus pusat FPI (silakan rujuk dibuku, saya tulis ceritanya). Selanjutnya, pengurus FPI tersebut yg merekomendasi saya agar bisa massuk dan ikut pengajian. Dari situ, saya terus berusaha untuk memahami FPI.

    Pro dan kontra adalah hal lazim dalam dunia pemikiran. Satu hal yang saya junjung tinggi: saya tidak akan memalsukan data. Karena itu, saya katakan pada teman2 FPi yang pernah saya wawancara, jika apa yang anda katakan saya putar balikkan, silakan saya dituntut. Terlepas dari tuduhan bahwa saya menyebar fitnah, beberapa orang informan yg pernah saya wawancara malah mengatakan, “saya setuju dengan semua yang anda tulis, kecuali satu hal: kesimpulan anda yang mengatakan bahwa Habib terpengaruh Wahabi”.

    Yg jelas, tidak mungkin semua data akan saya ungkap, sebab saya harus menjaga keselamatan para informan tersebut, disamping saya juga telah berjanji tidak akan membukanya. Oleh sebab itu, tuduhan Irwan pada waktu acara peluncuran buku di kantor Gatra, bahwa saya adalah penyusup tidak saya tanggapi, walaupun saya punya data dan bukti untuk membantahnya pada saat itu.

    Terakhir, saya kira respons yang terbaik adalah tanggapi tulisan tersebut dengan tulisan juga. Saya akan senang sekali beradu argumentasi, tapi saya tidak akan menanggapi lagi tulisan yang hanya mengumbar tuduhan. Trims

  11. MAULANA, CONECTION Says:

    Al-hamdulillah akhirnya ada pula buku ini, sudah lama saya tunggu ini sebenarnya,jika masyarakat telah mengerti akan seluk beluk ISLAM dalam hitam putihnya FPI maka mayarakat pasti lebih mengerti yang mana seharusnya, dan dari suduy pandang mana harus kita perhatikan apa itu ……………………….ISLAM…………………………………..////

  12. deni Says:

    siapa sih penyandang dana FPI ?

  13. deni Says:

    Terima kasih untuk penulis….

  14. yudi Says:

    Ya sekarang kita lihat faktanya saja, mana yang dominan dilakukan oleh FPI? Banyak yang baik-baik, benar, berguna bagi banyak orang? Atau banyak yang merusak, arogan, merugikan orang lain, bahkan mematikan orang lain? Lambangnya saja PEDANG? Nalar saja, mau berbuat baik kok bawa pedang, pentungan, dsb? Mulutnya saja yang allahu’akbar?!

  15. nyoman Says:

    saya ingat tulisan dimajalah minggun TEMPO,yg menyajikan disampul depannya `BERIMAN GAK MESTI JADI PREMAN`yg menyentil aksi FPI yg jadi sorotan media & publik wkt itu.jargon FPI;memerangi maksiat,pornogarafi,dan tetek bengek segala macamnya.idiologinya TOP man….!tp,kenyataannya ,FPI gak lebih dr pengcut yg berlindung dlm jubah putih yg mengatas namakan agama islam,main hakim sendiri seperti SETAN kelaparan…..!dan dipersidangan ,habib riziq terbukti bersalah & dikamarnya ditemukan majalah PLAYBOY oleh polisi.ternyata seorang habib risiq,bisa KONAQ jg ya….haaaaa!!!malu iiiiihhh.

  16. SANS Says:

    Hidup FPI!!! Semoga trus lantang membrantas kemaksiatan!!Biar setan2 manusia calon penghuni neraka lari terbirit2…He.he.he

  17. ejanmuktapin Says:

    yang saya tanyakan sekarang @ apakah kita rela bumi persada ini dipenuhi dgn segala kemaksiatan, sehingga memaksa kita menerima dampaknya…………………………………………………………..
    mestinya kita sadar bahwa dengan adanya kemunkaran, ya mungkin memang menurut agama yg lain bahya perjudian pelacuran dsb itu biasa tapi tidak untuk agama islam yang telah menyelamatkan negara ini dari penjajah, coba saudara tanya.diwaktu jaman kesultanan DEMAK jawa bagaimana…………………………

  18. ejanmuktapin Says:

    http://www.youtube.com/watch?v=TG4Ssf85VTM&feature=related tak ada salahnya anda lihat realita percakapan ini biar jelas persoalannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: