Eat, Pray, Love

eat2

Sondang Sirait

Dal centro della mia vita venne una grande Fontana…
“From the center of my life, there came a great fountain…”
—“Eat, Pray, Love” by Elizabeth Gilbert, p. 39

(taken from a poem by Louise Glück)

Penulis: Elizabeth Gilbert
Penerbit: Viking Adult, 2006

Empat bulan berada di Italia, Elizabeth Gilbert mulai menemukan kekuatan dalam dirinya untuk bangkit dari reruntuhan jiwanya: pascaperceraian dan kebangkrutan. Di Italia, Gilbert bukan turis biasa. Negeri itu baginya merupakan tempat pelarian, awal sesuatu yang baru, yang dapat menghidupkan kembali seorang perempuan usia 30-an, yang sedang kehilangan kendali hidup. Lewat pendalaman bahasa asing yang eksotis, perkenalan dengan orang-orang Eropa yang penuh kehangatan, serta piring demi piring pizza dan pasta nan lezat, penulis asal New York itu kembali menemukan alasan berdamai dengan dirinya.

Tapi tak semudah itu berdamai dengan Jiwa yang terus dirongrong Depresi dan Kesepian. Meninggalkan keramaian Italia, ia pergi mencari ketenangan India. Di sana, ia menetap sebagai murid dan pelayan sebuah ashram. Sebagai murid, ia belajar meditasi dan membangun hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Sebagai pelayan, ia bekerja bagi Guru dan sesama penghuni ashram. Di India pula, ia belajar makna ajaran kitab Bhagavad Gita, bahwa lebih baik menjalani nasib sendiri secara tidak sempurna daripada meniru hidup orang lain secara sempurna. Episode di India bagi Gilbert adalah Episode Pencerahan Spiritual.

Pencerahan inilah yang ia terjemahkan ke dalam sikap hidup yang tenang dan positif, sesuatu yang diterapkan Gilbert di Pulau Bali, melalui interaksi dengan teman-teman barunya, dan kemudian dengan Si Pria Brazil Idaman. Maka lengkap sudah perjalanannya yang memakan satu tahun. Mission accomplished.

Kisah Gilbert bukan fiksi. Ini pemberontakan pribadi, terbungkus dalam upaya eksplorasi spiritual. Walau terkesan impulsif, tapi keberaniannya perlu diacungi jempol. Dalam hidup modern yang menuntut keseragaman perspektif akan cara menggapai kebahagiaan dan kesuksesan, sungguh menyegarkan melihat masih ada orang seperti Gilbert. Petualangannya mungkin dapat membuka wawasan bagi kita, tanpa harus menjalani apa yang ia lalui.

By the way, salah satu hal yang menarik dari Gilbert adalah ide untuk selalu mencari sebuah kata yang identik dengan diri atau kota yang kita diami. Baginya, kata itu adalah antevasin, berasal dari bahasa Sansekerta, berarti “orang yang hidup di perbatasan.” Ini menjelaskan mengapa ia tak pernah nyaman dalam zona tertentu, dan selalu berusaha melakukan eksplorasi, secara fisik maupun spiritual.

Kita tak mesti setuju dengan cara Gilbert, tapi mungkin menarik untuk memikirkan apa “kata” yang cocok menggambarkan kepribadian atau identitas diri masing-masing.

*) dipresentasikan dalam pertemuan Klub Buku dan Film SCTV, 4 Desember 2008

12 Responses to “Eat, Pray, Love”

  1. liza Chandra Says:

    Pengalaman yang dia lami penulis ngak beda jauh yang dirasakan saya sendiri, Okt 2007 pas usia saya menginjak 25 tahun, saya mengalami guncangan hebat dalam hidup saya mengenai hubungan sejenis yang telah 1 tahun saya jalani, posisi puncak disebuah Radio saya tinggalkan , pacar saya tinggaklkan, saya terus mencari diri saya, saya keliling pulau jawa, namun gejolak di hati saya tidak kunjung reda,saya sulit menerima takdir saya sebagai Homoseks, bahkan saya terus berlari tanpa tujuan, akhirnya pada bulan Okt 2008 saya putuskan pulang ke daerah asal saya di Jambi, saya berdamai dengan diri saya, saya mengizinkan pacar sejenis saya menikah dengan perempuan pilihanya, saya putuskan bersahabat denganya, dan saya pergi lagi pada bulan November keArab, bekerja di hotel, dan mencari ketenangan… hari hari saya.. saya habiskan dengan bekerja, membaca, dan beribadah…saya tidak tahu sampai kapan gairah saya kembali hidup..yang jelas pada saat ini tujuan saya cuma satu pergi Haji..dan terus mencari diri saya…dan alhamdulilah saya sedikit tenang disini…

  2. POEM SIANTAR MAN Says:

    Buat orang yang kehilangan jiwa tetapi masih mempunyai kesempatan memperbaiki karena masih oke secara materi bukanlah persoalan yang serius dan sulit, yang sulit adalah ketika kita dianggap nothing dan tak mempunyai sesuatu untuk menebusnya
    Di Indonesia hampir tiap hari berita di koran memuat KDRT, dan yang menjadi korbannya adalah orang orang yang tidak mampu secara kejiwaan dan ekonomi. Kalau misalnya terjadi pada selebritis, dia tinggal panggil pengacara untuk menyelesaikan kasusnya, dan dia akan happy hepi aja untuk melanjutkan kariernya, seraya dia menganggap tak ada masalah dengan pribadi dan keluarganya.
    So, yang paling sulit adalah melepaskan diri dari jerat ketidakmampuan menguasai diri akibat keserakahan diri baik karena egosentris dan kebiasaan hidup sombong.
    Mau seperti Gilbert, ya banyak banyak aja ngumpulin duit, kalaupun ada masalah tinggal hepi aja jalan jalan ke mana suka.

  3. arqu3fiq Says:

    Kayaknya bagus bukunya. Penuh dengan petualangan.

  4. akhasy Says:

    Hidup itu memang sebuah perjuangan,
    untuk itu kita harus selalu mempersiapkan diri kita untuk segala kemungkinan yg akan terjadi. pencarian jati diri mungkin suatu pase yg akan dialami oleh setiap manusia. pada intinya, kita jangan pernah menyerah dengan keadaan.
    tetap bersemangat dalam menjalani hidup, yakin bahwa tuhan selalu akan memberikan pertolongan jika kita memohon kepadaNya.

  5. ade Says:

    hidup memang sebuah perjuangan benar kata Akhasy, tapi sebelum perjuangan di mulai kita wajib dan harus menyiapkan mental kita jika suatu saat kita mengalami kekalahan, kekalahan bukan akhir dari perjuangan justru itu adalah awal dari sebuah perjuangan,karena Allah Swt memberikan banyak kesempatan untuk kita uamat manusia berjuang untuk hidup kita dan kita harus siap jika suatu saat angin menjatuhkan kita ke tengah laut kita harus siap untuk menepi, jika angin menjatuhkan kita ke gurun kita harus siap berjalan menuju tempat air tersedia, jika kita dijatuhkan angin ke tengah hutan kita juga harus siap keluar dan berjuang dari ganasnya hutan. Maka dari itu jika seseorang mau berubah dan berjuang untuk dirinya dan menerima apa yang telah di takdirkan Tuhan untuk kita dengan ikhlas maka semua kesulitan dan keruwetan yang kita hadapi pasti segera berakhir. Sebab Orang yang memiliki semangat maka orang itu akan mencintai semua yang dihadapinya.

  6. agus Says:

    perjalanan dalam buku ini sangat dramatis. dari melakukannya sebagai pelarian dari kesalahan menjadi penemuan sebuah kebutuhan akan kedamaian. pertemeuan dengan area spiritual yang memang sangat penting dalam kehidupan. tapi dari ringkasan diatas, saya menangkap kalimat di ending bahwa dia menetap di bali. apakah benar? dan apakah ini fakta atau fiksi semata? menarik untuk dimiliki dan dikoleksi.

  7. martha Says:

    kata kunci untuk menemukan diri adalah , HENING…mencoba untuk selalu hening, menerima, tenang…..masuk kedalam….pelarian yang tiada ujung hanya membuat kita semakin jauh, dan keluar. HATI…

  8. disavela Says:

    very complicated, dalam memaknai hidup

  9. disavela Says:

    sangat sulit dalam memahami hidup ini, bahkan untuk mengenal diri sendiripun begitu berat,

  10. miss_eliot Says:

    berdamai dengan diri sendiri adalah sebuah pencarian yang sulit, namun itu harus dilakukan…

  11. Nonsenses Says:

    Bila anda mampu secara moril dan materi,maka pasti akan sedikit susah tuk berdamai!! ya ga???
    tapi bila anda tdk mampu secara moril and materi,he3X….maka disana anda akan sedikit lunak!!!
    banyak orang bilang bahwa dia susah tuk mengenali dirinya sendiri…
    ach,yang bener aza! egonya tuch yang ngomong!!

  12. Lady Amelia Adam Says:

    menurut ku, hidup yang tidak seimbang, baik hubungan terhadap sesama manusia, terhadap alam, maupun terhadap pencipta (Tuhan), memang terasa tidak tenang hidup nya. Karena pada dasar nya, fitrah nya manusia itu menjalani garis2 kehidupan sesuai norma2 yg berlaku di dlm masyarakat. Bila hidup nya ada yg sedikit saja melenceng dari garis tsb, nurani nya akan terketuk dan mencari jawaban yang dapat menenangkan kembali jiwa nya yg terusik tsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: