the road less traveled by

Yus Ariyanto

I.

buku-celli1Rizal Mallarangeng gemar mengutip frasa berikut: the road less traveled by. Itu dari penggalan salah satu sajak Robert Frost. Saya menemukan mereka di kedua bukunya: Mendobrak Sentralisme Ekonomi (2002) dan Dari Langit—buku yang terbit November silam dan “reportase” ringkas atasnya terhampar di paragraf-paragraf di bawah.

Ia memang penempuh “jalan sunyi.” Ketika banyak orang masih ragu untuk mendeklarasikan diri sebagai orang liberal ke publik, lelaki kelahiran Makassar itu lantang menyatakan diri sebagai penganut liberalisme. “Di UGM, pada tahun-tahun awal, saya termasuk aktivis mahasiswa kiri. Tetapi menjelang lulus, saya semakin menempuh the road less traveled by dalam konteks pergerakan kemahasiswaan saat itu: saya semakin bergerak ke kanan,” tulisnya pada Pak Bill dalam Hidup Saya yang termuat (lagi) di Dari Langit. “Pak Bill” yang dimaksud adalah Raymond William Liddle atau Bill Liddle, Indonesianis tersohor yang menjadi guru Rizal di The Ohio State University. Di sana, migrasi intelektualnya kian mantap. Ia menjalani konversi ideologi. Dan, ia memang menggandrungi dunia gagasan/ide. “…saya lebih tertarik mengikuti dunia gagasan. Kalau mengambil kelas politik, saya umumnya memilih kelas yang lebih memberi tekanan pada teori dan sejarah pemikiran politik,” tulis Rizal dalam prakata Mendobrak Sentralisme Ekonomi, buku yang semula merupakan disertasinya di kampus Columbus, Ohio, itu.

II.

Berbeda dengan Mendobrak Sentralisme Ekonomi, Dari Langit bukan sebuah buku utuh. Ini sebuah antologi. Terdiri dari 93 esai yang dibuat antara 1993-2008, Dari Langit menyodorkan seutas benang merah: kepercayaan besar pada ide liberalisme.

Maka, hadir ulasan atas pikiran-pikiran Isaiah Berlin, Richard Nozick, Francis Fukuyama, atau Peter L. Berger. Pemikiran sosok terakhir ini, sebagai contoh, didedahkan terkait perpindahannya, seperti juga Rizal, ke lajur kanan jagat gagasan. Pada 1974, Berger merilis Pyramids of Sacrifice. Pada kitab itu, Berger menulis bahwa kapitalis dan sosialisme sama-sama menimbulkan korban manusia yang besar di Dunia Ketiga. Posisinya netral: sosialisme dan kapitalisme bisa ditolak. Atau, diterapkan jika “kalkulus penderitaan” dan “kalkulus makna” diperhitungkan.

Dua belas tahun kemudian, sosiolog itu menyusun Capitalist Revolution. Di sini, posisi Berger telah bergeser. Ia bilang, secara moral, kapitalisme merupakan pertaruhan yang lebih aman buat Dunia Ketiga. Berger memaparkan bagaimana kapitalisme menghasilkan kekuatan produktif terbesar dalam sejarah manusia dan bagaimana kisah sukses kapitalisme di Eropa Timur merupakan kabar buruk bagi Marxisme.

Nah, kabar baiknya adalah kapitalisme ternyata gampang bersekutu dengan demokrasi. Sebuah perekonomian kapitalis, juga yang dihadang aneka regulasi, menciptakan zona sosial sendiri yang relatif otonom dari jamahan tangan-tangan negara. Kendati, selalu ada anomali ketika kapitalisme bergandeng tangan dengan otoritarianisme dalam sejumlah kasus.

Sebaliknya, sosialisme justru semakin memperkuat kekuasaan negara lantaran membiarkannya menjadi pengontrol sebagian besar perekonomian. Semakin besar negara diberi kans untuk mengontrol perekonomian, semakin kecil kemungkinan demokrasi untuk berjalan.

Gagasan-gagasan utama Karl Marx, hulu dari sosialisme, bukan hanya cacat, melainkan juga berbahaya. Marx mendorong penghapusan hak milik. Masalahnya, ketika hak milik ditiadakan, peluang hidup secara mandiri ikut sirna. Hak milik niscaya memungkinkan pemisahan antara kekuasaan ekonomi dan kekuasaan politik. Jadi, tulis Rizal dalam Nabi yang Gagal, “Jika kita menghapuskan hak milik pribadi atas sarana-sarana produksi, kita menghancurkan dasar demokrasi.”

Lengkap sudah “keimanan” Rizal pada kapitalisme. Ketika kini kapitalisme terhuyung-huyung diterjang krisis ekonomi global, maka energi dialokasikan dalam isu pokok terkait perlu-tidaknya peran pemerintah diperbesar dalam menjalankan pengawasan. Semua dilakukan di bawah payung kapitalisme, bukan menjenguk sistem lain. Menurut adik Andi A. Mallarangeng itu, perdebatannya bakal mirip diskusi John Maynard Keynes dengan Friedrich Hayek di era 1930-an ketika mencari jalan keluar dari Depresi Besar.

III.

Jadi, apa artinya menjadi liberal dalam lini ekonomi? Yang utama adalah mengakui motif individual. Contoh klasik Adam Smith masih relevan. Anda butuh roti dan ada penjual roti yang menyediakan. Apakah tukang roti itu tergerak menjual karena kasihan pada Anda yang kelaparan? Tidak. Ia menjual didorong motifnya mencari keuntungan. Semua orang mencari keuntungan masing-masing. Tapi, berkat itu, kebutuhan semua orang tercukupi. Hukum pasar: ada permintaan, ada penawaran. Pasar tak peduli soal agama, kesukuan, atau kewarganegaraan. Jika harga cocok, transaksi terjadi. Titik.

Jika ada yang teriak-teriak “Saya melakukan ini demi khalayak ramai, demi kepentingan nasional” justru yang bersangkutan mesti dicurigai; jangan-jangan itu dalih belaka padahal sejatinya ia sedang berikhtiar menghidupi dapurnya sendiri.

Tapi, Rizal pun bisa menjadi seorang “nasionalis.” Simak pandangannya soal keinginan referendum rakyat Aceh (sebelum perdamaian Helsinki diteken pada 2005). Rizal berpandangan, keutuhan teritorial Indonesia sudah final dan hak referendum bisa ditolak lantaran bukan bagian dari hak asasi. “Tuntutan kebebasan manusia berbeda secara mendasar dengan tuntutan pembentukan negara. Yang pertama adalah hak yang secara hakiki melekat pada manusia secara individu. Yang kedua adalah adalah hak yang lebih bersifat konvensional, dan karena itu sangat bergantung pada konteks politik, sejarah, dan keseimbangan kekuatan di mana tuntutan itu dilontarkan,” tulis Rizal di Aceh, Ujian Pertama dan Terakhir.

Alasan kedua, dan lebih penting, adalah jika Aceh lepas maka tak ada lagi tersisa argumen ketika daerah-daerah lain meminta hal serupa. Dalam soal keutuhan Indonesia, Aceh merupakan ujian pertama dan sekaligus terakhir. Tentu, pada saat bersamaan, keadilan dan kebebasan juga mesti dipersembahkan ke rakyat Serambi Mekkah itu.

IV.

Menurut saya, kekuatan utama buku ini adalah 24 artikel yang ditulis di antara 1993-1995 di Columbus. Rata-rata lebih panjang ketimbang artikel untuk koran, esai-esai itu agaknya merupakan tugas-tugas sekolah Rizal (Saya harus memasang kata “agaknya” lantaran nihil keterangan pasti soal peruntukannya, kecuali dua artikel yang disebut Rizal sebagai tugas kuliah. Di sana hanya disebut “ditulis di Columbus.”).

Dalam periode Columbus itu, Rizal menulis tentang perbandingan reformasi ekonomi di Cina dan Uni Soviet, keterkaitan demokrasi dan kapitalisme di Asia, telaah tentang kepolitikan Orde Baru, atau kajian mengenai otonomi negara. Sisa esai di luarnya pernah kita pergoki sebagai artikel di Kompas, TEMPO, FORUM Keadilan, atau GATRA. Peruntukan lain adalah kata pengantar buat sejumlah buku, artikel kontribusi untuk sejumlah antologi, dan terkait kampanye menjadi calon presiden.

Lantas, dari mana Rizal memetik judul “Dari Langit”? Ternyata, ia pernah menulis kolom di majalah TEMPO (September 2001) soal kepemimpinan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan judul tersebut. Saya melewatkannya kala itu. Di sini, Rizal memilih gaya percakapan. Kalimat-kalimat pembukanya: “Kamu kok memprotes dan mengeluhnya ke aku, Gus. Soal kompromi politik dan nasib kursi kekuasaan, itu urusanmu sendiri. Perkaranya kau sendiri yang bikin. Aku jangan diikut-ikutkan, dong.”

V.

Kita boleh tak sepakat dengan pikiran-pikirannya. Tapi, Indonesia membutuhkan sosok seperti Rizal. Berkat kehadirannya (plus rekan-rekan sehaluan di Freedom Institute), arena intelektual Tanah Air lebih semarak. Mestinya ia segera kembali melahirkan buku utuh. Ia pasti tak ingin terus-menerus menempuh the road less traveled by, ia pasti ingin kian banyak orang yang memilih jalan liberalisme. Lagipula, ia sudah tak disibukkan lagi dengan urusan kampanye untuk menjadi calon presiden, bukan?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: