Kata Hati

Diskusi Klub Buku & Film, di ruang rapat redaksi, pekan pertama Desember 2008, berlangsung seru. Sondang Sirait, membahas buku ‘Eat, Pray, Love’, karya Elizabeth Gilbert.

Sondang menyampaikan, ‘Eat’ adalah cerita seorang wanita muda cantik, yang menceraikan suami, meninggalkan segala harta benda, demi mengejar impian hati. Bagi Sondang, kisah Gilbert merupakan ‘Pemberontakan pribadi, terbungkus eksplorasi spiritual’. Sondang bersimpati pada keputusan Gilbert, dengan menyatakan ‘Walau terkesan impulsif, keberanian Gilbert patut diacungi jempol’. Pro dan kontra langsung merebak, begitu Sondang usai presentasi. 

Bagi Iskandar Siahaan, seorang manusia yang mendengar kata hati, kemudian bertindak sesuai kata hati itu, adalah insan luar biasa. Banyak manusia lain, terus menekan kata hati. Seiring dengan Iskandar, menurut Sondang, manusia sangat terdefinisikan oleh lingkungan sosial. Padahal tidak harus begitu. Gilbert adalah contoh manusia yang bisa meruntuhkan tembok definisi itu.

Geong Rusdianto mengakui keberanian Gilbert. Kasus Gilbert bisa jadi semacam latihan, dalam hal pengambilan keputusan. Sama kagumnya dengan Geong, Mauluddin Anwar merasa mendapat semangat pindah dari kemapanan, melalui kisah Gilbert. Sementara Arvan Yap Bano beranggapan, pencarian diri ala Gilbert, wajar dan bisa diteladani.

Sementara itu, Rahman Andi Mangussara, biasa dipanggil Daeng, mempertanyakan keputusan Gilbert. Apakah kata hati selalu benar? Bagaimana jadinya dunia ini, kalau semua orang mengikuti kata hati? Bagi Daeng, sistem sosial dibangun atas dasar kerja sama antar individu. Bila semua orang melaksanakan kata hati, bisa jadi, hasilnya perang dimana-mana. Daeng menilai, tindakan Gilbert adalah pendewaan ego. Gilbert tak mampu berdamai dengan egonya. Be yourself, bagi Daeng, seperti be egoist. Mirip dengan Daeng, Ariyo Ardi menilai, tindakan Gilbert adalah ketidakadilan untuk sang suami. Kenapa harus cerai? Dimana janji setia itu?

Tanggapan Sondang: karena itulah perjuangan Gilbert untuk berdamai dengan jiwanya sendiri, tidak mudah. Gilbert telah merenungkan berbagai hal. Misalnya, Gilbert menolak punya anak, karena tak ingin sang anak menanggung masalah-masalah orangtuanya. Untuk Sondang, hidup adalah proses. Dan kita selalu bisa mengubah keputusan, yang kita anggap keliru.

Iskandar menambahkan, memang seharusnya tak ada paksaan, dalam hubungan. Bila suatu hubungan tidak membuahkan kebahagian, kenapa dipertahankan? Suami Gilbert, punya hak sama untuk mewujudkan keinginannya sendiri. Dia tidak usah menghalangi impian Gilbert.

Bagi Iskandar, tak perlu ada kekhawatiran, kata hati akan selalu merugikan orang lain. Tiap manusia akan menyadari, dia adalah mahluk sosial. Keputusan dan tindakannya, memiliki konsekuensi di tengah masyarakat. Ada perangkat hukum, yang akan mencegah manusia dengan mudah merugikan orang lain.

Tapi Samsul Arifin bertanya, sampai dimana kata hati harus diikuti? Kapan hidup itu jadi tenang? Karena akhirnya, Gilbert menyakiti hati orang lain. Geong Rusdianto menanggapi, memang agak sulit melihat kata hati secara jernih. Kata hati ideal, seharusnya bersih dan bulat. Tapi sering sekali, ada ego hadir disana. Karena itu, mewujudkan kata hati, harus melibatkan diskusi. Untuk Geong, kunci meraih kata hati asli, adalah cinta. Geong bercerita, ada kasus-kasus cinta luarbiasa, ketika manusia siap berkorban bagi orang lain. Cinta seperti itu, mampu menembus masalah kata hati.

Sementara bagi Eko Wahyu Tawantoro, kunci meraih kata hati, adalah syukur. Melalui syukur, kita merasa puas, enak dan enteng. Eko juga mengingatkan, kisah Gilbert toh sebetulnya belum selesai. Masih dalam proses. Eko percaya, pada akhirnya, kata hati tiap orang, selalu benar. Setuju dengan Eko Wahyu, Leanika Tanjung menambahkan, kata hati sebagai wakil suara Tuhan, selalu benar dan bersifat universal. Untuk Lea, kata hati merupakan bantuan untuk mengambil keputusan penting. Masalahnya, dalam kehidupan keseharian, kadang kita tidak tahu, mana suara hati yang benar.

Menanggapi Lea, Eko Wahyu menyatakan, walau bisa diyakini, bukan berarti kata hati bersifat universal. Karena tiap orang bisa sampai pada kata hati yang berbeda. Hati siapa? Hati selalu individual, tidak ada hati universal. Mauluddin Anwar, senada dengan Eko Wahyu, melihat kemiripan kata hati dengan agama: beragam, banyak tafsir, dan sangat dipengaruhi lingkungan.

Terlepas dari nilai-nilainya, apakah buku Gilbert ini istimewa? Daeng berpendapat, kisah hidup Gilbert sebetulnya tidak luar biasa. Cita-cita Gilbert tidak istimewa. Lepas dari suami pertama, Gilbert jatuh ke pelukan lelaki lain. Maka Gilbert bukan kritikus lembaga perkawinan. Dorongan Gilbert, mungkin hanya ego belaka. Dodit menyebut, tindakan Gilbert hanyalah petualangan seorang wanita, mencari kesenangan.

Mayoritas yang hadir akhirnya memberi buku ini dua bintang. Iskandar Siahaan menyampaikan apresiasi dengan tiga bintang. Sang pembahas, Sondang, memberikan empat bintang. Saya sendiri, mendapat hiburan yang menyenangkan dengan membaca cerita ini, setuju dengan empat bintang. (MT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: