Satir Amerika

Andy Budiman

burn_after_readingInilah komedi gelap ala Coen Brothers  (Joel & Ethan Coen). Sutradara yang dikenal sebagai Hollywood darling sekaligus kesayangan para juri Festival film ini muncul dengan film terbaru “Burn After Reading”.

“Burn After Reading” adalah film humor gelap Coen bersaudara yang bercerita tentang “kegilaan” Amerika dengan setting Washington DC.  Osbourne Cox (John Malkovich) adalah seorang agen CIA yang dipecat karena kebiasaannya menenggak minuman keras.

Karena dendam dan butuh uang, Osbourne berniat menulis memoar dirinya sebagai agen CIA. Ia pikir, pasti banyak orang yang akan tertarik membaca kisahnya sebagai agen intelijen. Pada saat bersamaan, sang istri Katie Cox (Tilda Swinton) yang bekerja sebagai  dokter anak berniat menceraikan Osbourne. Katie selama ini diam-diam berselingkuh dengan Harry Pfarrer (George Clooney), playboy yang bekerja di perusahaan investasi. Pengacara perceraian menyarankan Katie agar menjadi mata-mata dan mencuri seluruh informasi keuangan sang suami.  Tanpa sengaja, beberapa informasi soal intelijen juga ikut terambil.

Kekonyolan dimulai ketika tanpa sengaja resepsionis kantor pengacara perceraian meninggalkan disk berisi data Osbourne yang dicuri Katie itu di sebuah pusat kebugaran. Disk itulah yang tanpa sengaja ditemukan oleh pegawai kebugaran bernama Chad Feldheimer (Brad Pitt). Chad mengira data itu sebagai dokumen intelijen tingkat tinggi. Bersama kawannya Linda Litzke (Frances Mc. Dormand) yang sedang butuh uang untuk biaya bedah plastik, Chad berniat memeras Osbourne. Dari sanalah kegilaan demi kegilaan dimulai.

Kegilaan Amerika

Tak ada tokoh baik dalam film ini. Semua digambarkan gila, bodoh, idiot, serakah dan maniak. Osbourne Cox (John Malkovich) adalah seorang agen CIA yang punya masalah ketergantungan alkohol. Alumni Cambridge dengan karakter keras dan suka bicara kasar.  Saat sang rekan kerja menyebut alasan pemecatan, Osbourne bilang “Kamu Mormon, di dekatmu kami semua kelihatan punya masalah dengan alkohol”.

George Clooney bermain sebagai Harry Pfarrer seorang karyawan perusahaan investasi, yang menjalin affair dengan Katie Cox (Tilda Swinton) istri agen CIA Osbourne Cox (John Malkovich).  Harry adalah playboy kesepian yang sering ditinggal istrinya yang sibuk bertugas ke luar kota.  Harry adalah seorang maniak seks yang sedang mengerjakan sebuah proyek rahasia: kursi goyang dildo. Selingkuh dengan istri agen CIA membuat Harry paranoid karena selalu merasa dibuntuti intel.

Chad Feldheimer (Brad Pitt) adalah instruktur di pusat kebugaran. Ganteng, keren dengan tubuh prima tapi tak punya otak. Ketika ditawari memainkan karakter ini, Brad Pitt mengaku tak tahu apakah ia harus merasa tersanjung atau terhina oleh tawaran Coen bersaudara.

Humor dalam film ini terasa gelap. Mengejek Amerika yang saat ini sedang “sakit”. Coen memang dikenal suka membuat film dengan latar “krisis” di Amerika. CIA digambarkan sebagai kumpulan orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Para tokoh digambarkan punya obsesi pada tubuh yang sempurna. Linda Litzke (Frances McDormand) adalah pegawai Gym yang berniat menemukan kembali dirinya yang hilang dengan cara operasi plastik. Dengan wajah dan tubuhnya yang pas-pasan, Linda merasa tak cukup pantas untuk bekerja di sebuah pusat kebugaran.

Tak ada American family value: para tokoh digambarkan munafik, suka selingkuh dan rumah tangganya berantakan. Harry Pfarrer yang berselingkuh dengan Katie Cox di belakang juga menjalin affair dengan Linda Litzke. Sementara sang istri Harry yakni Sandy Pfarrer (Elizabeth Marvel) yang menjadi penulis cerita anak-anak diam-diam di belakang Harry juga berselingkuh.


Kewarasan Amerika

Inilah film yang secara cerdas melihat problem yang dihadapi masyarakat Amerika. Lembaga intelijen yang bobrok, orang-orang yang paranoid, pemujaan terhadap tubuh yang berlebihan, dan keserakahan.

Lewat film ini kita melihat Amerika yang gila sekaligus waras. Waras karena film ini membuktikan bahwa masih banyak akal sehat yang selalu bisa mengejek-ejek “ketidakwarasan” orang Amerika. Sutradara seperti Coen bersaudara atau Michael Moore hadir untuk menyampaikan kritik atas Amerika dan masyarakatnya dengan cara cerdas sekaligus jenaka. Konon itulah cara paling ampuh untuk menyampaikan kritik.

7 Responses to “Satir Amerika”

  1. gilasinema Says:

    ya nih film ini penuh ma sindiran dan kekacauan Semuanya bermuara ma intelegensia manusia

  2. maulana Says:

    bukan masalah intelegensia tetapi masalah tidak memakai hati dalam melakoni hidup
    jadi intinya YANG PENTING AKU ENAK, TERSERAH KAMU MAU GIMANA.

  3. Y.B. Agusnugroho Says:

    Saya melihat film ini justru adalah sebagai “the untold story of human life”. Dalam kehidupan nyata, banyak sekali kejadian-kejadian seperti ini, yang tidak terungkap. Kebodohan yang dibungkus dengan jabatan dan posisi politis, keserakahan yang dibalut dengan kecantikan dan kemolekan tubuh, keangkuhan dan arogansi didalam ketegasan dan upaya pencarian jati diri, semuanya sebenarnya adalah cerminan masyarakat umum, yang memang jarang diungkap.

  4. jamalsuteja Says:

    Dunia perfilman lebih tepat untuk mengungkapkan realita saat ini, kebobkrokan, kekeliruan, dan kebodohan pemerintahan, tak terkecuali di Amerika. Para sineas Indonesia patut meniru jangan cuma drama percintaan yang melankolis dan horor mulu….

  5. Must three Says:

    Sering kita terlalu memposisikan amrik diatas segalanya, shg si amrik jd congkak. Mulai sekarang, pandang dia, atau siapapun, sewajarnya saja…

  6. hnimrot Says:

    gue pernah lihat thriller nih film di berita malamnya salah satu tv swasta, gue lupa. tapi emang kayanya nih patut utk ditonton. gimanapun juga salut buat Coen yang berani mengangkat “sakit”nya negaranya ke dalam film komedi gelap spt Burn After Reading ini. dari judulnya aja udah provokatif. semakin penasaran nih. kalo ada novelnya bakal lebih bagus lagi. btw, Indonesia juga Burn After Reading ga yaa?!?? hahaha… ya syp tau, emangnya Amerika aja. hohoho… ^___^

  7. cipz Says:

    Film thriller yang digbung dengan efek komedi ini sebenarnya menunjukkan bahwa Amerika (AS) yang selalu menjadi “POLISI DUNIA” ini sebenarnya sering kecolongan dan ceroboh !!!
    Sebagai bukti selama kurang lebih 12 tahun Si “POLISI DUNIA” ini salah dalam mengungkap fakta bahwa di Irak ada senjata pemusnah masal, ternyata mplompong alias bullshit, betul tidak ??
    Terus kasus yang kemarin terjadi sang “SECRET SERVICE” kecolongan juga waktu sang majikan dilempar sepatu sampai dua kali lagi, apa nggak lucu tuh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: