Buku Rekomendasi Klub Buku & Film SCTV

timor4Ujian terbesar bagi profesi jurnalis adalah tatkala ia bertugas
meliput daerah konflik. Jika lulus dari wilayah (katakanlah terra
incognita) itu, sudah pasti ia bakal mulus tatkala meliput di medan
lain. Dan jika kredo ini diberlakukan untuk CM Rien Kuntari, boleh
dikatakan ia telah lulus cumlaude karena telah melewati serangkaian
peliputan di medan perang Teluk, Rwanda, Referendum Irak hingga proses
perdamaian di Kamboja.

Buku ini jadi semacam pengukuhan Rien Kuntari sebagai wartawan perang
yang rajin memburu informasi di medan-medan sulit. Sayangnya Timor
Timur menjadi batu ujian yang membuatnya getir. Di tanah airnya,
provinsi paling bontot itu, Rien Kuntari adalah saksi mata lepasnya
wilayah itu dari koridor Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Buat saya momen getir itu terasa betul pada diri Rien. Kendatipun,
sebagai wartawan ia mencoba tetap objektif—menyampaikan fakta apa
adanya. Di benak Rien ada semacam “ketidakrelaan” Timor Timur lepas
dan sekarang menjadi salah satu negara miskin di Asia Tenggara. Maka
saya mafhum belaka jika di halaman-halaman awal bukunya, Rien langsung
membukanya dengan cerita latar belakang Presiden BJ Habibie yang
secara mengejutkan mengeluarkan opsi pilihan: melepaskan Timor Timur
alias merdeka.

Momen getir ini, tak hanya berlaku pada Rien, melainkan juga bagi
majoritas tentara dan eksponen Operasi Seroja 1975. Rien mengusut,
lepasnya Timor Timur berawal dari 25 Januari 1999. Di hari itu Habibie
mengumpulkan anggota kabinetnya. Di sinilah keputusan penting yang
diapresiasi para pembela HAM itu lahir.

Habibie, Ali Alatas dan sejumlah menteri hadir. Diplomat ulung semacam
Ali Alatas (alm) terkejut bukan kepalang atas keluarnya opsi Habibie
tersebut. Tapi, Ali Alatas tak bisa berbuat banyak. Sebagai anggota
kabinet, ia tunduk pada keputusan sang komandan (Habibie). Dengan
berat hati, 27 Januari 1999 ia mengadakan konferensi pers. Akhirnya
semua tahu: Pemerintah memutuskan digelar referendum dengan dua opsi:
menerima otonomi atau merdeka.

Seterusnya, Rien membuat reportase basah ihwal Timor-Timur sebelum dan
sesudah jajak pendapat. Ia mengupas dengan sangat baik jeroan eksponen
pro-integrasi dan pro-kemerdekaan. Bagaimana konflik merebak hingga
pelaksanaan jajak pendapat. Dengan jaringannya yang sangat luas atas
hampir sumber primer pada pihak terkait konflik, Rien nyaris menangkap
seluruh peristiwa dan menyuguhkannya secara kronologis. Tak pelak lagi
buku ini dokumen paling lengkap tentang Timor Timur di babak-babak
akhirnya dalam pelukan republik.

Moh Samsul Arifin/Anggota Klub Buku & Film SCTV

One Response to “Buku Rekomendasi Klub Buku & Film SCTV”

  1. cm.rien.k Says:

    Mas Samsul Arifin, terma kasih sekali atas ulasannya tentang buku saya. Entah mengapa baru sekarang saya menemukannya.. Sungguh saya terharu karena Anda benar-benar menangkap kegetiran dan ketidakrelaan saya sebagai pribadi dan bagian kecil dari bangsda Indonesia atas keputusan tersebut. Sekali lagi terima kasih, Mas. Sungguh saya merasa tersanjung. Salam hormat saya, cm rien k.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: