Buku Rekomendasi Klub Buku & Film SCTV

Judul: Keberanian Bernama Munir

Penulis: Meicky Shoreamanis Panggabean

Penerbit: Mizan, Desember 2008, 289 halaman

buku-munirMeicky Shoreamanis Panggabean terbilang beruntung. Kakaknya, Ezki Suyanto, dan ibunya, Ade Roslina Sitompul, akrab dengan Munir, sang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) yang tewas diracun itu. Ketika Meicky mengutarakan niat untuk membuat buku tentangnya via Ezki, Munir langsung setuju. Padahal, Munir tahu, Meicky adalah seorang penulis pemula. Selain itu, Meicky tahu, sebelumnya Munir pernah menolak dengan halus permintaan wawancara untuk bahan penulisan sebuah buku tentangnya. Ia memang mengenal Munir secara pribadi, tapi tak sedekat kakak atau ibunya.

Maka, dari yang personal tersebut, lahirlah Keberanian Bernama Munir: Mengenal Sisi-sisi Personal Munir. Inilah sebuah buku yang memperkaya pemahaman kita soal pria asal Malang, Jawa Timur, itu. Jika buku-buku terdahulu lebih banyak menyoroti sisi perjuangan dan akhir hidup Munir, buku ini lebih “ringan”—sebagaimana tecermin dari subjudulnya.

Salah satu yang paling menarik adalah masa lalu Munir sebagai seorang pro-Soeharto ketika di awal-awal kuliah. “…aku bergabung dengan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)…da HMI itu mainstream-nya pro –Soeharto. Zaman itu aku militan, militan sekali pro-Soeharto…Musuhku anak-anak gerakan, sampe aku bersenjata lho. Aku bersenjata, bawa clurit ke kampus…,” tutur Munir ke Meicky. Itu semua juga dipengaruhi sikap “fundamentalisme”-nya dalam beragama.

Menjelang akhir 1980-an, Munir berubah. Seorang aktivis menjadi teman debat dan mengubah perspektifnya dalam banyak hal. Munir mulai tertarik dengan isu-isu perburuhan. Sikap keberagamaannya juga melunak. Salah satu pemicu perubahan adalah pernyataan dari dosennya, Malik Fadjar (yang sempat menjadi Menteri Pendidikan Nasional). Malik berkata kepada Munir, “Saya tidak pernah mengetahui seorang pemuda sebodoh Anda, yang kemana-mana membawa semangat untuk berperang dengan instrumen agama, demi menguasai orang lain.”

Bukan hanya tertarik dengan bacaan-bacaan seputar isu buruh, ia juga terjun langsung ke kehidupan mereka. Pada 1988-1996, Munir mengaku, hidupnya selama 24 jam untuk para buruh. Kuliahnya, meski tak sampai drop out, lumayan berantakan. ”Aku nggak peduli dengan kuliahku…Waktu itu pilihanku sudah jelas: ijazah ini tak akan membuatku…Jadi sampe aku lulus, ada mata kuliah yang D, aku nggak peduli.”

Cerita tentu tak cuma berkutat di sana. Sisi-sisi manusiawi Munir lain juga didedahkan. Sebagai cara pandang lain menatap Munir, buku ini berharga. Akan kian berharga jika pengemasannya lebih terorganisasi. Saya, misalnya, menemukan sejumlah repetisi. Soal periode “fundamentalisme” Munir disajikan dua kali. Jika sang editor lebih “kejam,” repetisi semacam ini bisa ditiadakan, demi membuat tuturan lebih solid dan lancar. (Yus Ariyanto)

One Response to “Buku Rekomendasi Klub Buku & Film SCTV”

  1. caca Says:

    guruda apaan tu . . . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: