Potret Keyakinan Seorang Che Guevara

cheAnton Bahtiar Rifa’i

Judul Film : Che Guevara

Sutradara : Josh Evans

Produksi : Beachwood Cottage Film and Music

Ke manakah sejatinya arah pencarian jati diri seorang manusia? “Ia harus menjadi diri sendiri atau menjadi sosok yang diinginkan,” begitu keyakinan Ernesto Guevara de La Serna. Dan, tokoh yang kemudan dikenal sebagai Che Guevara itu rupanya lebih memilih menjadi “sosok yang diinginkan”. Maka, dokter muda kelahiran Rosario, Argentina, itu pun melepas segala bentuk kehidupan mapan yang melekat pada dirinya. Istri dan anak pun ia tinggalkan, demi sebuah tujuan hidup: revolusi! Namun, di manakah revolusi beralamat? Bagi Che Guevara, revolusi tak mengenal batas-batas geografis. Semangat revolusi ada di setiap penderitaan rakyat. Revolusi akan muncul sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan kekuasaan.

Film “Che Guevara”, garapan sutradara Josh Evans, mencoba menampilkan transisi kehidupan seorang Che Guevara, dari sosok “manusia biasa” menjadi tokoh revolusioner. Tokoh Che Guevara diperankan aktor Eduardo Noriega. Tergambar dalam film ini, pada mulanya sosok seorang Che jauh dari kesan kepahlawanan. Ia selalu didera penyakit asma yang dideritanya sejak usia dua tahun. Bahkan ia tak berdaya ketika menghadapi mabuk laut. Ia juga merasa ciut saat melihat orang terbunuh. Namun niat dan keyakinan, yang dibakar semangat revolusi, membawanya menjadi tokoh yang oleh banyak orang dianggap sebagai pahlawan. Bahkan menjadi ikon revolusi.

Fase terpenting dari perjuangan revolusi seorang Che Guevara adalah saat ia bergabung bersama Fidel Castro dan Raúl Castro di Kuba, untuk menggulingkan sang diktator Batista. Maka film ini pun lebih banyak mengisahkan keterlibatan Che dalam gerilya di Kuba, serta kedekatannya dengan Fidel Castro yang diperankan Enrico Lo Verso. Che Guevara bergabung bersama para pengikut Fidel Castro di hutan dan di rumah-rumah petani. Dari seorang tenaga medis, ia kemudian menjadi komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia menjadi pemimpin yang tegas, yang tak segan menembak mati orang-orang yang tak disiplin, apalagi berhianat. Karena film ini merupakan kisah nyata, maka alur film tak lepas dari garis catatan sejarah. Maka cerita pun bergulir pada kisah kemenangan revolusi, yang kemudian menjadikan Fidel Castro sebagai pemimpin Kuba. Juga kisah kematian Che Guevara setelah ditangkap tentara Bolivia pada 8 Oktober 1967.

Lantas, apa yang ingin ditekankan film ini dari cerita seorang Che Guevara? Ketika kisah seperti ini diangkat dalam film, tentu si pembuat film akan dihadapkan pada dua pilihan: penekanan pada cerita revolusi atau kisah hidup seorang Che Guevara. Rupanya, sutradara Josh Evans lebih memilih menekankan pada kisah seorang Che Guevara. Karena pilihan itu, maka penonton pun tidak akan mendapat gambaran gegap gempita kemenangan revolusi di Kuba. Penggambaran kemenangan revolusi dalam film ini terlampau sederhana. Demikian halnya saat Che tertangkap tentara Bolivia.

Meski menekankan pada kisah hidup Che Guevara, namun film ini memilih untuk tidak terlalu menampilkan banyak warna dari sosok seorang Che. Film ini lebih memotret transisi Che Guevara menjadi tokoh revolusioner. Tentu saja lengkap dengan keyakinan-keyakinan Che dalam berjuang. Misalnya, keyakinan Che tentang kesetaraan, tergambar dalam suatu adegan berdebatan mengenai kebijakan pertanahan untuk rakyat. Atau, saat Che berkata dengan sinis, “Ketika rakyat kelaparan, penguasa lebih memilih mengendarai Mercedez.” Dengan pilihan cerita seperti itu, maka film ini tidak akan terlalu banyak menjawab pertanyaan tentang siapa sesungguhnya Che. Film ini lebih fokus pada: bagaimana keyakinan seorang Che terhadap revolusi. Terlepas dari itu, sebagai tontonan, cerita film ini tetap menarik untuk disimak.

2 Responses to “Potret Keyakinan Seorang Che Guevara”

  1. kustipia Says:

    i think that a gut idea 2 xpouse. . .

    bravo !

  2. sofwan.kalipaksi Says:

    Empat puluh dua tahun silam, 9 Oktober 1967, Che Guevara tertangkap. Ia dieksekusi secara diam-diam oleh seorang sersan Bolivia, Mario Teran. Pria Argentina berdarah campuran Irlandia dan Basque itu gugur, di tempat ia ditembak secara tidak jantan, di sebuah ruang kelas sekolah berdinding tanah liat. Apa pesan terakhir Che Guevara sebelum ia gugur?

    Kalo nggak keberatan klik aja deh link ini:
    http://kalipaksi.com/2009/10/08/che-guevara-di-antara-kita-yang-ambigu/

    Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: