Che, Tokoh yang Dipinggirkan

Revolusi tak mengenal batas geografis. Ini gambaran paling menarik dari seorang Che Guevara. Seorang dokter muda, kelahiran Argentina yang melepaskan kemapanan. Meninggalkan isteri dan anaknya, untuk sebuah revolusi. Baginya, semangat revolusi ada pada tiap penderitaan rakyat.

Anton Bachtiar – selanjutnya disebut Anton – memulai diskusi yang kali ini membahas film Che Guevara, sutradara Josh Evans, yang diproduksi tahun 2005, yang jauh dari unsur komersial. Menurut Anton. visualisasi seorang Che yang penuh drama, mulai dari seorang anak kecil berpenyakit asma, kisah cinta, sampai akhirnya menjadi tokoh revolusioner menjadikan ada tiga film yang dibuat tentang dirinya.

Josh menggambarkan salah satu dari sisi kehidupan Che yang gelisah terhadap sistem negara dan kesejahteraan rakyat. Dari seorang petugas medis sampai pemimpin gerilya. Yeah..ini adalah film tentang metamorposis seorang Che yang sangat menekankan perjuangan harus selalu berpihak pada rakyat.

Hanya saja, menurut Anton, kisah Che dalam film semi dokumenter ini, dan satu yang lainnya- yang lebih banyak ditonton peserta diskusi- dibuat terlalu sederhana, baik dari sisi gambar maupun penggambaran cerita.

Tak ada gegap gempita kemenangan revolusi di Kuba. Atau, kisah penangkapannya, penjara, apalagi kematiannya. Sutradara Josh, kelihatannya terlalu berhati-hati menggambarkan Che sehingga yang kesan yang muncul adalah Che yang humanis, romantis, dan moralis, tanpa cacat seujung upil pun.

Rahman Andi Mangussara, yang akrabb dipanggi Daeng, yang menonton film perjuangan Che ketika di hutan, mengatakan dua film itu kayaknya memang harus ditonton, karena saling melengkapi. Setali tiga uang dengan Anton, Daeng juga tidak puas dengan gambar yang terlalu sederhana, dan penggambaran Che yang tidak terlalu kuat. Misalnya, tidak dijelaskan darimana Che mendapat keyakinan bahwa sosialis adalah sistem yang paling cocok bagi Amerika Latin.

Dari sebuah buku tentang Che, Daeng mendapat sisi lain dokter muda ini. Rupanya, nah ini dia yang seru, hidupnya bergejolak setelah cintanya ditolak seorang perempuan yang membuat dia memutuskan berkelana menggunakan sepeda motor. Perjalanannya selama berbulan-bulan dengan sepeda motor ini juga difilmkan.

Nama Che sendiri didapatnya ketika menumpang tidur di sebuah penginapan dalam satu caban perjalanannya. Karena orang tak tahu namanya, dia dipanggil CHE yang artinya anak kecil dalam bahasa Spanyol.

Tidak tergambarkan juga Che yang sebenarnya lebih besar dari Fidel Castro dan Raul Castro.Che misalnya menjadi jurubicara sosialisme di berbagai negara. Dia pergi ke berbagai negara, dan berbicara di badan PBB, sementara Fidel dan Raul hanya di Kuba. Ia juga berperan mendamaikan konflik Rusia dan Cina. Afrika pun dia sambangi. Che juga yang member landasan bahwa dalam sosialisme, industri juga harus jalan. Layanan kesehatan harus menjadi yang utama. Ajarannya memberi hasil dimana Kuba tercatat sebagai negara nomor tiga terbaik di dunia dalam pelayanan kesehatan.

Bagi Daeng, Che lebih besar peranannya ketimbang Fidel dan Raul Castro. Pertentangan yang terjadi di antara mereka, membuat Che yang idealis memilih untuk lebih banyak pergi ke berbagai negara. Anton menambahkan buat Che, revolusi memang tak pernah selesai. Itu yang membuat dia tak pernah bisa diam. Ketika Fidel dan Raul Castro memilih kekuasaan, memimpin Kuba, Che memilih mengurus Bank Sentral Kuba dan pada akhirnya ia berkeliling ke berbagai negara, menyuarakan sosialisme.

Sosok Che yang jutaan fotonya dicetak di berbagai negara, menjadi gambar kaos, topi dan berbagai spanduk, apakah merupakan gambaran Che yang sesungguhnya? Benarkah dia begitu sempurna? Ini pertanyaan Miko Toro yang melihat Che dalam film itu, Miko menonton versi film yang sama dengan Daeng, digambarkan begitu hebatnya. “Dia begitu hebat,” kata Miko dengan idealisme sangat kuat, memilih tinggal di hutan dan menghardik anak buahnya yang menggunakan mobil Mercedes. Miko mempertanyakan, apakah Che memang tak punya cela sedikitpun?

Daeng mengatakan Che memang penuh warna. Perjalanannya selama lebih kurang setahun dengan sepeda motor setelah ditampik pacarnya, membuat dia mempunyai banyak jaringan di luar negaranya.

Ketika masih tinggal di Argentina, dokter muda yang melankolis ini pernah menolak ketika diminta ikut demo. Dan, setengah dari perjalanannya dengan sepeda motor adalah perjalanan hura-hura. Sisanya, baru dibalut sosialisme ketika dia melihat betapa banyaknya rakyat menderita.

Mauluddin Anwar atau Awan mencoba membandingkan Che dengan tokoh Indonesia. Dua nama yaitu Tan Malaka dan Soekarno, coba disandingkan Awan dengan Che. Dia melihat Tan Malaka juga berkeliling ke berbagai negara. Soekarno juga bukan seorang penganut sosialisme yang sempit.

Iskandar Siahaan melihat ada perbedaan antara mereka. Che bukan tokoh organisasi sosialisme Amerika Latin, sedangkan Tan Malaka sebaliknya. Perjalanan Tan Malaka lebih karena melarikan diri agar tak ditangkap lawan politiknya. Sedang, Che menyebar virus revolusi. Diskusi makin menarik ketika sampai pada pertanyaan : Apakah seorang pemimpin dilahirkan atau lahir sendiri? Atau, hanya rekonstruksi manusia yang membutuhkan tokoh atau pahlawan untuk menggerakkan tindakan, demi mencapai tujuan tertentu.

Menurut Iskandar, soal ini belum terjawab dan masih menjadi debat panjang : studi sejarah masih berkutat pada apakah seorang pemimpin adalah agen atau lahir dari struktur sosial.

Raymond Kaya mencoba menganalisis soal ini. Menurutnya, revolusi lahir di tempat dimana rakyatnya banyak menderita. Amerika Latin adalah gudang penderitaan rakyat dengan konsep tuan tanahnya yang menjadi ladang subur revolusi. Satu yang menarik adalah ketika pernah ke Kuba, Raymond tidak menemukan nama Che Guevara dijadikan nama bandara, tempat bersejarah, atau jalan besar di negara itu.

Anton memperkirakan itu karena Che adalah orang Argentina, bukan Kuba. Daeng melihat kemungkinan Che memang sengaja dipinggirkan karena tidak mungkin ada dua matahari memimpin sebuah negara. Itu sebabnya Che hanya diberi kuasa mengurus bank, dan tidak diperbolehkan memasuki dunia militer. Itu sebabnya pula, dia pergi berperang sampai ke Afrika.

Bisa jadi, sampai saat ini, peranan Che yang besar sengaja ditutupi pemerintah Kuba sekarang. Siapa tahu, jika pemerintahan Fidel Castro berakhir suatu saat nanti, sejarah Che Guevara yang sebenarnya akan terungkap. Rasanya tak sabar menunggu sejarah baru seorang Che Guevara : Apakah dia seorang tokoh revolusi atau pecundang? (LT)

One Response to “Che, Tokoh yang Dipinggirkan”

  1. irfan Says:

    mampir, numpang baca2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: