Dari Radikalisme Menuju Sufisme

matinya

Judul: Matinya Semangat Jihad, Catatan Perjalanan Seorang Islamis

Pengarang: Ed Husain

Penerbit: Alvabet

Jumlah Halaman: 389+X

Billy Soemawisastra

Ed Husain, adalah seorang pemuda keturunan India-Bangladesh, yang lahir di London pada penghujung 70-an. Keluarganya tergolong Muslim yang taat. Sejak kecil ia berguru pada seorang ulama Islam tradisional, yang ia anggap kakeknya sendiri. Ulama yang konon masih merupakan keturunan para Habaib dari Yaman. Sebagaimana umumnya anak-anak yang dibesarkan di tengah keluarga Muslim tradisional, Ed Husain, atau Mohamed Mahbub Husain, sejak kecil mendapat pelajaran mengaji Al-Quran, beribadah shalat fardlu dan sunat, diajari untuk selalu taat pada orangtua dan mengembangkan toleransi terhadap umat beragama lainnya.

Namun memasuki masa remaja, perjalanan keagamaan Ed menjadi tidak sesederhana itu. Ia berkenalan dengan kelompok-kelompok Islamis alias Islam politik, yang fahamnya sama sekali berbeda dengan faham yang diajarkan kakeknya. Bagi kelompok-kelompok Islamis, yang juga sering disebut sebagai Islam garis keras, soal-soal peribadatan atau hamblum-minallah, adalah urusan kesekian. Urusan utama yang harus didahulukan adalah membangun kekuatan politik Islam di negeri mana pun, dengan cita-cita perjuangan: mendirikan sebuah Darul-Islam, atau suatu wilayah di bawah pemerintahan Islam dengan landasan hukum Islam (tentu saja hukum Islam versi mereka).

Di Mesjid London Timur, tempat para Islamis ini berkiprah, Ed berkenalan dengan faham Islam yang disebarkan Ibnu Abdul Wahhab (Wahhabi), Abul A’la Maududi (Jamaat El-Islami atau Jamaah Al-Islamiyah yang berpusat di Pakistan, namun berbeda dengan Jamaah Al’Islamiyah yang merupakan organisasi teroris yang berbasis di Malaysia). Kemudian Sayid Qutb, Hassan Al-Banna (Ikhwanul Muslimin) dan pada akhirnya Taqi Nabbani, pendiri Hizbut Tahrir, yang mencita-citakan berdirinya Khilafah Islamiyah di seluruh dunia. Ed pun menjadi aktivis Hizbut Tahris.Bukan sekedar aktivis yang ikut-ikutan, melainkan aktivis utama yang cukup diandalkan.

Konflik dengan keluarganya pun tak bisa dihindari. Sejak awal, ayah dan kakeknya menentang keras keterlibatan Ed Husain di kelompok-kelompok Islam gais keras itu. Sewaktu Ed harus memilih antara keluarga dan organisasi, Ed lebih memilih organisasi. Ed pun menjadi akrab dengan semboyan: Allah adalah Tuhan kami. Muhammad adalah pemimpin kami. Al-Quran adalah konstitusi kami. Jihad adalah jalan kami. Mati syahid adalah cita-cita kami.

Lalu sampailah pada suatu hari yang sangat menentukan perjalanan keagamaan Ed Husain. Hari itu, seorang pemuda Kristen asal Nigeria tergeletak tewas di depan kampus, setelah terjadi perselisihan di meja bilyar sehari sebelumnya. Yang membunuhnya adalah Said, seorang anggota Hizbur Tahrir yang biasa membawa pisau. Ed pun tergelegak. Kekerasan, apalagi pembunuhan, bukanlah sesuatu yang ada dalam pikirannya. Bukan itu yang dicita-citakannya. Ed mulai melakukan retrospeksi, dan akhirnya mengambil kesimpulan bahwa apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam garis keras itu, hakikanya sangat jauh dari cita-cita Islam yang sebenarnya. Jauh dari apa yang dicita-citakan Muhammad, yakni sebuah dunia yang damai, penuh keselamatan dan rahmat (kasih) bagi seluruh alam.

Dalam pandangan Ed selanjutnya (setelah ia mengkaji ulang sejarah Islam), ternyata banyak hal keliru yang difahami kelompok-kelompok Islam garis keras itu. Misalnya saja pemakaian jilbab dan hijab di kalangan Muslimah, itu sebenarnya berasal dari budaya masyarakat Kristen di Levant, suatu daerah di wilayah Suriah, yang kemudian ditiru para Muslimah. Lalu kewajiban mengenakan celana dan jubah yang ujungnya harus berada di atas mata kaki, itu berasal dari sebuah cerita di zaman Nabi.

Begini ceritanya. Saat itu, orang-orang kaya dari kalangan Yahudi sangat suka menggunakan gamis (jubah) dari bahan mewah, yang ujungnya menyapu tanah. Penampilan mereka sangat arogan, karena memang pakaian yang mereka kenakan itu dimaksudkan sebagai pamer kekayaan. Lalu Rasulullah Muhammad SAW mengatakan kepada para sahabatnya, ”Jangan tiru kelakuan para Yahudi yang sombong itu. Jangan menggunakan jubah yang ujungnya menggapai tanah seperti mereka. Pakailah jubah yang ujungnya berada di atas mata kaki, supaya kamu tidak sombong.” Lalu Abubakar Shiddiq, sahabat terdekatnya bertanya: ”Jadi, mulai sekarang saya tidak boleh memakai jubah yang ujungnya menggapai tanah?” Apa jawab Sang Nabi? ”Tidak perlu, karena kamu bukan orang yang sombong.”

Menemukan Sufisme

Setelah menyatakan diri keluar dari Hizbut Tahrir, Ed Husain melakukan perjalanan ke Suriah dan Arab Saudi. Di dunia negeri di kawasan jazirah Arab itu, ia menemukan kontroversi yang sangat kontras. Di Saudi, ia bertemu dengan masyarakat yang hipokrit. Masyarakat yang menerapkan faham Wahhabi sepenuhnya di depan publik, dengan memisahkan secara tegas perempuan dan laki-laki, dan tidak ditemukan seorang perempuan pun yang tidak menggunakan hijab dan jilbab. Tetapi di dalam tenda dan rumah-rumah mereka, mereka berpakaian meniru orang Barat, seraya bergelimang kemewahan. Namun tetap saja mereka membenci Barat dan non-Muslim meskipun gaya hidupnya mereka tiru.

Di Suriah, Ed menemukan masyarakat yang berperilaku sebaliknya. Masyarakat yang sangat toleran, bergaul dengan umat beragama lainnya tanpa hambatan sedikit pun. Bagi Muslimah di Suriah, jilbab bukanlah keharusan, melainkan hanya sekedar mode, karena tak sedikit Muslimah di sana yang tidak menggunakan jilbab. Kehidupan keagamaan mereka tidak ditunjukkan dalam atribut-atribut fisik seperti di Saudi.

Di Suriah pula, Ed Husain mendalami sufisme Jalaluddin Rumi yang penuh dengan ajaran-ajaran spiritual yang universal. Dan, sekembalinya ke London, Ed mulai menjalin kontak dengan Imam Hanson (Syekh Yusuf Hamza Hanson), seorang Sufi besar yang bermukim di Amerika. Bahkan kemudian Ed mengundang sang Imam untuk berceramah di London.
Dari Imam Hanson (dan sebelumnya Jalaluddin Rumi), Ed Husain mendapatkan pelajaran tentang Islam yang pluralis. Sufisme menjadi jawaban pamungkas segala pertanyaan Ed tentang Islam. Dengan kata lain, apa yang diajarkan kakeknya dulu (yang juga seorang sufi) adalah hal yang sebenarnya harus disebarkan Islam ke seluruh dunia, karena wajah Islam yang damai seperti itulah, wajah Islam yang sebenarnya. Ed Husain (yang tentunya sudah bukan pemuda lagi) kini mengajarkan pemikiran Islam moderat di London, untuk membendung ekstremisme yang sudah terlanjur merebak di kota tersebut.

Itulah sekelumit memoar Ed Husain dalam bukunya yang menjadi best seller di Eropa: The Islamist, yang di Indonesia diterjemahkan dengan judul: Matinya Semangat Jihad (Jakarta: Penerbit Alvabet, Juli 2008). Terjemahannya cukup bagus, dengan gaya tutur yang mengalir. Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi indeks, yang menjadi salah satu ciri buku bermutu. Saya tidak tahu apakah di buku aslinya juga tidak ada indeks. Yang jelas, di Indonesia, buku ini sepi dari pembicaraan, padahal isinya menentang arus mainstream gerakan Islam politik di Indonesia.

Masukan buat Pemerintah Inggris

Ketika pemerintah kerajaan Inggris memberikan tempat bagi minoritas Muslim untuk berkiprah di London Timur, mereka tampaknya sama sekali tidak mengira bahwa kaum Muslim, yang sebagian besar berasal dari Pakistan, India dan Bangladesh itu, akan berkembang menjadi Muslim garis keras yang lambat laun akan mengganggu stabilitas politik di negeri tersebut.

Ada kesan, pemerintah Inggris menganggap remeh kehadiran masyarakat Muslim di London Timur, karena secara populasi memang sangat sedikit. Mereka diberi kebebasan menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaannya dengan fasilitas yang cukup lengkap, tetapi dengan tujuan melokalisir kegiatan mereka. Pemerintah Ingris tampaknya kurang menyadari bahwa dari kawasan London Timur itulah, gerakan Hizbut Tahrir Internasional dikendalikan dan menyebar ke seluruh dunia.

Hizbut Tahrir, walau bagaimana pun, adalah organisasi politik Islam yang tidak mengakui eksistensi negara, karena mereka mencita-citakan suatu pemerintahan Islam Internasional alias Khilafah Islamiyah. Dengan kata lain, mereka juga mencita-citakan lenyapnya kerajaan Inggris pada suatu ketika nanti, sementara mereka menyusun perjuangannya dengan fasilitas yang diberikan kerajaan.

Buku memoar karya Ed Husain ini tentunya menjadi bahan masukan yang sangat berharga tidak hanya bagi pemerintah Inggris, tetapi juga bagi pemerintahan-pemerintahan di belahan dunia lainnya, yang memberikan tempat berkiprah bagi gerakan Hizbut Tahrir. Yang paling harus waspada adalah pemerintah Indonesia, karena organisasi ciptaan Taki Nabbani ini, tumbuh subur di negeri ini.

8 Responses to “Dari Radikalisme Menuju Sufisme”

  1. antonius Says:

    APAAN SIH JIHAD!
    JIHAD ITU TERORIS TAHU!
    BODOH YANG JIHAD, DARI KATANYA JELAS JIHAD = JAHAT

    TUHAN MELARANG BUNUH DIRI, ALASAN APAPUN KARNA ITU ADALAH DOSA TERBESAR YANG TAK TERAMPUNI! KARNYA KUASA PADA KITA HANYA ADA PADANYA! BIARLAH TAKDIR BERJALAN APA ADANYA! JANGAN KITA MENENTUKAN TAKDIR KITA! TAPI JALANIN YO! NAH KALO MO MASADEPAN BAIK, BUKAN MENCIPTAKAN MASA DEPAN! TAPI MENITI TAKDIR KITA KE ARAH YANG BAIK! KITAKAN DIBERIKAN PILIHAN, PILIHLAH YAN GBAIK! HASILNYA BAKALAN BAIK KOK!

    NGAPAIAN LAGI SIBUK MIKIRIN JIHAD? CKCKC
    MENDING YANG ADA PIKIRAN JIHAD, SEKARANG JUGA JADI AJA TUH SUKARELAWAN UNTUK JADI ORANG TUA ASUH ANAK-ANAK TERLANTAR! ATO JADI SUKARELAWAN UNTUK DONOR! ATO SUKARELAWAN UNTUK JADI GURU DI PELOSOK TANAH AIR, SO KITA JADI PINTER SEMUA

  2. buku anak muslim Says:

    buku yang sangat menarik
    terima kasih infonya

  3. kombayana Says:

    duh kapan yah aku bisa dapet buku tersebut…..gmn nih..ada yang bisa bantu saya ga?..sekarang saya ada di qatar…gmn cara membelinya..minta di infokan ke email saya..

  4. wawa Says:

    hmmmm, cara untuk melemahkan perjuangan islam

  5. Daddee Says:

    @antonius : hati-hati kalau bicara. Jangan asal jeplak dan bicara tanpa ILMU nya. Kata Jihad bukan mengandung arti teroris dan Jihad tidaklah jahat.

    Menutup aurat adalah salah satu syarat wajib untuk muslim yang mengaku ISLAM. Dan itu ada tercatat dalam Al Qur`an. Jadi bukan karena ADAT-ISTIADAT yang ditiru. (..Misalnya saja pemakaian jilbab dan hijab di kalangan Muslimah, itu sebenarnya berasal dari budaya masyarakat Kristen di Levant, suatu daerah di wilayah Suriah, yang kemudian ditiru para Muslimah.) dan jelas itu mempunyai MANFAAT tersendiri. Berapa banyak perempuan di perkosa karena MEMBUKA AURATNYA?

  6. kombayana Says:

    @daddee : namanya saja antonius…klo dia muslim dan ngerti islam ga kan comment kyk gitu…

  7. Adil Says:

    @daddee…. bener di Al Quran tercatat tentang jilbab dan aurat, karena memang Quran itu niru dari dari adat istiadat tadi, bukan kata Allah, cuma kata2 nabi Muhammad doang yang kesel ama orang yahudi. Anda bisa bandingin, mana lebih banyak kejahatan wanita, di negara yang banyak orang berjilbab apa negara barat yang gak ada jilbab. Pernahkah anda denger berita pemerkosaan pembantu di USA?, liat orang2 Arab, yang sudah terkenal tukang siksa wanita dll…

  8. Taruno Bumi Says:

    Jihad adalah jalan yang wajib ditempuh oleh setiap umat apapun agamanya, yang jadi masalah tidak semua orang paham apa itu jihad karena ilmu yang terbatas, maka mari kita perjelas apa itu jihad. Jihad adalah berjuang dijalan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka jihadlah sesuai dengan asma Allah. untuk penjelasan selanjutnya belajarlah pada para habib yang santun dan mengajarkan perdamaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: