Berapa Harga Sebuah Perang? Tak Dapat Dihitung

3-triliunPerang US$3 Triliun:Bencana Ekonomi di Balik Invasi AS ke Irak

Penulis : Joseph Stiglitz dan Linda Bilmes

Penerbit :Mizan 2009

Halaman 272

Oleh Raymon Kaya

Ada berbagai motif Amerika akhirnya menyerbu masuk ke Irak. Yang terungkap adalah motif keamanan atau security, dimana Amerika menuduh Irak menyimpang senjata pemusnah masal. Hingga kini tudingan Amerika Serikat ini tidak terbukti. Motif lainnya adalah Prestise Amerika, setelah tragedi 11 September maka Amerika ingin menunjukan kembali prestisenya sebagai Globo Cop yang mampu mengatasi masalah terorisme dengan menyerang Negara yang dianggap sebagai basis terorisme . Motif idiologi yang menjadi pertimbangan penting , dimana buku-buku, Brzezinski , Hutington dan Fukuyama mendoktrin Amerika menjadi satu-satunya barometer demokrasi serta menjadikan “ Islam Fundamentalis “ sebagai musuh bersama.


Secara khusus, Fukuyama dalam bukunya America at the Crossroads: Democracy, Power, and the Neoconservative Legacy (New Haven and London: Yale University Press, 2006

Tentang perang imperialis terhadap Irak, Fukuyama menulis: ”Pemerintah Bush mendasarkan kasus perangnya terhadap Irak atas tiga argumen: pertama, fakta bahwa Irak punya senjata pemusnah massal (SPM) dan sedang dalam proses untuk membangun lebih banyak; kedua, bahwa Irak punya kaitan dengan Alqaidah dan organisasi teroris lainnya; dan ketiga, bahwa Irak adalah sebuah kediktatoran tirani, rakyat Irak wajib dibebaskan daripadanya.” (Hlm. 78-79).

Motif lain yang ternyata masuk akal adalah motif ekonomi. Kuat dugaan, penguasaan terhadap pasar minyak akan memberikan tambahan pada penghasilan devisa Amerika sendiri. Ini bukan tanpa alasan, dalam sebuah buku yang mengupas tentang Dinasti Saud, jelas dikemukakan keluarga Bush dan Saud telah melakukan kerjasama dalam masalah minyak ini sejak awal tahun 70-an.

Joseph Stiglitz pemenang hadiah nobel ekonomi membuat sebuah buku “ The Tree Trillion Dollar War : The True Cost of Iraq War conflict “ . Dalam buku ini diprediksikan untuk perang Irak diperlukan tiga trilyun dolar. Biaya ini sama dengan 12 tahun perang di Vietnam dan dua kali lipat dibandingkan dengan perang di Korea.

Prakiraaan awal perang menjadi awalan dalam buku ini. Di halm. 37 ada prakiraan awal 200 milair dollar, tapi Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan saat itu menolak anggapan besarnya biaya hingga 200 miliar. Tapi Rumsfeld kemudian mengunkap biaya sektiar 50 hingga 60 miliar dolar. Dan semua ini bukan hanya biaya dari Amerika.

Kesan congkak jelas terlihat dalam sebuah wawancara di ABC. Pembangunan Irak hanya diperlukan 1,7 miliar dolar. Dalam wawancara antara Ted Koppel dari ABC yang mewawancarai Andrew Natsios pejabat dari BAdan Pembanguan Internasional ditegaskan Irak bias dibangun kembali dengan biaya 1,7 miliar dollar.

Dalam wawancara ini juga terungkap bahwa jika AS menguasai Irak maka akan ada pendapatan 20 miliar per tahun dari minyak.

Tapi berdasarkan hitungan Stiglitz ada factor-faktor yang membengkakan pengeluaran ( halm. 39 sampai 59 ) misalnya saja ada jaasa kontrak dengan Blackwater security yang jumlahnay 27 juta dolar untuk menjaga Paul Bremer ( Otoritas Sementara Koalisi ,Otoritas pendudukan AS di Baghdad ). Kontrak ini diperpanjang sampai 100 juta dolar setahun kemduian. Pada tahun 2007 saja, otoritas ini memiliki kontrak 1,2 miliar dolar untuk Irak dan memperkerjakan 845 tenaga kontrak swasta.

Gaji seorang tentara Blackwater mencapai 1.222 dollar perhari jauh diatas seorang Sersan yang gajinya 190 Dollar perhari.

Yang diuntungkan adalah perusahaan pembuat mesin perang seperti General Dynamics yang memproduksi F-16 sahamnya naik (134 %) Atau Northrop Grumman yang memproduksi F-14 ( naik 78 % ) – sekedar catatan mereka juga membuat F – 20 Tigershark yang merupakan pengembangan dari F – 5 E Tiger. Selain itu Lockhead Martin ( naik 105 %) . Persuhaan Lockhead memproduksi pesawat Hercules 130 yang dipakai oleh Indonesia . Persahaan ini kini mengembangkan F -22 JSF.

Stiglitz mantan kepala ekonomi di Bank Dunia ini jgua mengunkap di era perang dunia kedua, biaya per tentara jika sampai meninggal 100.000 ( jika di konversi dengan nilai sekarang ) tapi di perang Iraq mencapai 400.000 / tentara ( untuk tunjangan dan asuransi jiwa )

Biaya lain yang diungkap dalam buku ini adalah biaya nyata merawat veteran AS. Di Halm. 113 sd 117. Biaya untuk ini saja mencapai angka antara 422 miliar dolar hingga 717 miliar dolar

Biaya yang diungkap buku ini juga terlihat pada halm 167 dimana ada biaya melakukan renovasi dan mencat 20 kantor polisi yang mencpaai 25 juta dolar padahal jika mengunakan perusahaan Irak hanya 5 juta dolar.

Dibagian akhir masih ada cerita seorang sersan yang tewas di Irak bukan karena peluru tetapi tewas di kamar mandi barak tentara. Akibat kesalahan kabel, Sersan ini tewas kesetrum.Setelah melalui proses pengadilan maka kelaurga sang Sersan ini memperoleh US $ 500.000

Hingga sekarang data resmi untuk perang serta rehabilitasi di Irak telah keluar uang sebesar US $ 600 miliar

Bisa jadi akibat membengkaknya biaya-biaya ini ekonomi Amerika ikut tergerus. Pemerintah tidak bisa membayar pada Industri militer ( MICs), padahal industri militer inilah yang menjadi tulang pungung perekonomian AS. ( catatan : konsep MICs Military Industrial Complex yang dikembangkan oleh Eisenhower di awal tahun 60-an )

Perak Irak bukan saja membawa kebangkrutan buat Amerika Serikat. Dalam sebuah survey ( lihat halm. 183) negara-negara tradisional yang mengagumi Amerika mulai memalingkan muka. Jika pada tahun 1999 – 2000 misalnya 75 % masyarakat Indonesia memiliki pendapat yang bagus tentang AS, maka pada tahun 2007 menurun 29 persen, atau hanya sekitar 46 persen rakyat Indonesia yang memiliki pendapat yang bagus tentang Amerika.

Bukan sekedar biaya tapi yang tidak bias di bayar oleh uang adalah kemartian ratusan ribu tentara AS, serta hancurnya prestise AS yang tidak mampu “ menaklukan “ Irak secara total.

Jika dibandingkan dengan Indonesia. Untuk anggaran militer indonesia 2008. Departemen Pertahanan meminta dana 100 trilyun rupiah atau kurang dari 10 Milyar dollar // Realisasi atau yang kemudian disetujui 3.000.000.000 miliar dollar (atau sektiar 3 miliar dolar) // Inipun masih dengan catatan, Dephan diminta untuk berhemat. Jadi jika Irak memerlukan 3.000.000.000.000 dollar ( tiga triliun ) untuk Irak, maka jumlah ini sama dengan hampir 1000 tahun Departemen pertahanan Indonesia beroperasi.

One Response to “Berapa Harga Sebuah Perang? Tak Dapat Dihitung”

  1. pipin Says:

    Bang Daeng.
    Bila buku ini menggambarkan sebuah kenyataan, maka Film Lord of War (2005) yang dibintangi Nicholas Cage sebagai peran utama adalah cerita fiksinya. Film ini juga menggambarkan betapa besarnya keuntungan yang diperoleh Yuri Orlov (Nicholas Cage) ketika men-suply senjata untuk perang saudara di Afrika.

    Bila dalam buku “Perang US$3 Triliun:Bencana Ekonomi di Balik Invasi AS ke Irak” yang diuntungkan perusahaan perusahaan senjata seperti General Dynamics, Northrop Grumman, Lockhead Martin dan lain-lain, maka di film ini yang diuntungkan adalah pribadi-pribadi. Jenderal penguasa gudang senjata milik Uni Soviet setelah beberapa negaranya melepaskan diri.

    Tapi sekali fiksi tetaplah fiksi. Bumbu romantisme, intrik menjadi bumbunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: