Battle In Seattle; Menggempur Pasar Bebas di Kandang Kapitalisme

images1

Rahman Andi Mangussara

“…Perdagangan bebas dan hubungan seksual bebas akan lebih berguna ketimbang cara lain dalam mengembangkan peradaban…”

James Wilson, seorang pendukung setia perdagangan bebas di Inggris, mengatakan kutipan di atas pada tahun 1843. Begitu kuatnya kepercayaan Wilson akan argumen Adam Smith tentang perdagangan bebas, ia pun menerbitkan majalan The Economist yang didedikasikan untuk perdagangan dan pasar bebas. Dari Inggris, setelah negara ini siap betul bertarung di pasar bebas, perdagangan bebas dikumandangkan ke seantero bumi.

Kini, kata-kata Wilson itu seperti menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hubungan seksual bebasnya yang saya maksud  (tidak jelas kenapa Wilson mengatakan hubungan seksual bebas dalam satu tarikan nafas dengan perdagangan bebas) melainkan perdagangan dan pasar bebasnya yang nyaris tak terbendung.  Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bersama dua lembaga yang dibentuk setelah perang dunia ke dua: Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia — yang oleh penentangnya sering diolok-olok sebagai trinitas tak suci — bersama-sama mempromosikan perdagangan dan pasar bebas. Hasilnya, ya.. itu tadi, hampir tak terbendung. Bahkan negara atau organisasi pemerintah yang relatif kuat sekali pun tak berkutik dibuatnya. Siapa yang tak mengikuti garis yang dibuat oleh tiga lembaga tadi dianggap sebagai lawan yang harus dimusuhi.

Maka, tak ada yang menyangka, setidak-tidaknya tidak ada yang memperdulikan, ketika sekitar 10 ribu orang menggelar demosntrasi di penghujung November yang membeku pada 1999 di Seattle, Amerika.  Demontrasi gabungan advokasi konsumen, pencinta lingkungan, pecinta binatang, organisasi buruh, mahasiswa dan tentu saja tak ketinggalan kaum anarkis membuat polisi kewalahan dan berhasil menunda pembukaan sidang WTO.

Dunia tersentak. Ternyata, masih ada kekuatan yang bisa melawan hegemoni tiga lembaga itu dan negara – negara kapitalis yang mendukungnya. Hebatnya lagi yang melakukan perlawan itu adalah masyarakat sipil yang selama ini dianggap tak berdaya dan tak mampu mengorganisasikan diri.

Hasil dari demontarsi yang berlangsung masif selama lima hari penuh itu adalah ditundanya pembicara menyangkut pemberlakukan perdagangan bebas atas sejumlah komoditi termasuk sektor kesehatan yang dituding kelewat komersial sehingga membuat banyak orang miskin mati tanpa pengobatan. Tidak itu saja. Pesan yang dikirimkan  oleh para pendemo ini justru jauh lebih penting dari sekadar diakomodasinya sejumlah kepentingan negara berkembang yang dirugikan oleh perdagangan bebas yakni masyarakt sipil belum mati dihadapan kekuatan hegemonik negara dan korporasi multinasional. Gaung dari peristiwa ini terasa hingga sekarang.

Cerita itulah yang diangkat dalam film Battle In Seattle oleh sutradara Stuart Townsend. Film yang bisa dibilang setengah dokumenter ini memperlihatkan bagaimana masyarakat sipil itu melakukan demonstrasi dengan rantai komando yang begitu banyak tapi berhasil membuat polisi putus asa.

Jika Anda membayangkan film ini hanya menceritakan demsotrasi tanpa konflik, opss.. jelas itu salah. Di sini ada konflik keluarga antara seorang polisi dengan istrinya yang tengah hamil tua. Pak polisi ini harus meninggalkan sang istri yang tengah terbaring di rumah sakit setelah dihajar polisi anti huru – hara karena dikira salah seorang demonstran saat terjebak di tengah-tengah massa yang tengah kacau. Sang istri tak mau tahu dengan semua alasan suaminya dan mulai membeci polisi yang menyebabkan ia keguguran anak pertamanya.

Jadi, ini bukan film yang hanya wajib ditonton kaum anarkis dan demostran sejati, Anda juga bisa.  Masalahnya, untuk penonton Indonesia, film dengan jenis seperti ini yang bintangnya bukan aktor papan atas, mungkin sekali tak akan ditayangkan di jaringan bioskop XXI. Paling-paling Anda bisa berharap pada Blitz yang biasanya mau mengimpor film-film indie atau film yang mencerahkan. Atau, kalau mau menonton dengan kualitas suara dan gambar yang tak terlalu bagus datanglah ke tokoh penjual dvd bajakan.

2 Responses to “Battle In Seattle; Menggempur Pasar Bebas di Kandang Kapitalisme”

  1. Blog liputan6 » Battle in Seattle; Menggempur Pasar Bebas di Kandang Kapitalisme Says:

    […] Kini, kata-kata Wilson itu seperti menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hubungan seksual bebasnya yang saya maksudkan (entah kenapa Pak Wilson ini mengatakan hubungan seksual bebas dan perdagangan bebas dalam satu tarikan napas) melainkan perdagangan dan pasar bebasnya yang nyaris tak terbendung. Perdagangan dan pasar bebas nyaris tak terbendung. Selengkapnya klik di sini […]

  2. chikal Says:

    pertamaxxx………..
    kaya boleh juga tuuh di tonton kira2 kpn ya ada di blitz?
    mampir dong!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: