Balibo

Ini  film versi Australia ihwal tewasnya 5 orang wartawan mereka di Balibo, Timor Leste. Kelima wartawan ini adalah reporter Greg Sachkleton, kamerawan Gary Cunningham dan penata suara Tony Stewart, mereka bekerja untuk Channel  7 yang berkedudukan di Melbourne. Sedangkan 2  wartawan lainnya  adalah reporter Malcolm Rennie dan kamerawan  Brian Peters yang berkerja untuk stasion Channel 9. Kedua TV ini adalah Televisi swasta di Australia yang bersaing dalam hal pemberitaan. Sebelum mereka masuk  Di film ini sempat juga di singung adanya wartawan dari ABC ( stasion milik pemerintah Australia ) yang sempat berada di Dili.

Film ini mengambil angel cerita Juliana, anak seorang pengurus Hotel Tourismo tempat para wartawan menginap.  Juliana menceritakan  Roger East seorang wartawan senior Australia. Roger masuk ke Timor Leste setelah dibujuk oleh Jose Ramos Horta, Menteri Luar Negeri  Republik Demokratik Timor Leste. Awalnya Roger di minta untuk  menyuarakan  nasib rakyat Timor Leste  ke dunia internasional.  Tapi kemudian pertemuan kedua orang ini di Darwin pada bulan Desember 1975 juga menghasilkan kesepakatan  mencari 5 orang wartawan  yang hilang pada bulan Oktober 1975.

Roger  memulai investigasinya dari hotel Tourismo, tempat di para wartawan itu mengingat saat pertama mereka menjejekan kaki di Timor Leste. Di sinilah awal pertemuan Roger East dan Juliana.  Dari Hotel ini, mereka menuju ke Maubara untuk mencari tahu keberadaan para wartawan muda itu. Di Maubara, Horta mempertemukan Roger sempat bertemu dengan Ximenes (catatan: penulis menduga ini adalah David Ximenes yang kemudian menjadi Pemimpin CNRT  setelah Xanana Gusmao tertangkap – CNRT adalah Conselho Nacional da Resistencia Timorense atau Congress for the Reconstruction of East Timor – ) Ximenes lah  yang menjadi supir dan penunjuk jalan bagi para wartawan ini.

Ximenes mengaku membawa para reporter ini ke sebuah tempat di wilayah Bobonaro yang kemudian diketahui sebagai desa  Balibo. Mereka mendatangi Balibo karena yakin bahwa dari tempat inilah pasukan Indonesia akan masuk ke Timor Leste.  Dalam perjalanan ke Balibo, di ceritakan  perjalanan para wartawan bertemu dengan penduduk, sekolah misi hingga ikut dalam operasi patrol dengan  pasukan Falintil.

Pada Bulan Desember 1975, Balibo menjadi tempat yang sulit untuk dikunjungi. Setelah sampai di Maubara,  East memaksa Horta untuk mengantarnya ke Balibo, tempat di mana diyakini para wartawan itu melakukan peliputan terakhir mereka. Diperjalanan, East sempat bertemu dengan Sabika, yang tengah menginterogasi seorang Timor yang diduga menjadi kaki tangan Indonesia. Dari mulut orang ini muncul informasi   tentang keberadaan  terakhir ke 5 jurnalis.  (catatan: Sabika nantinya menjadi salah satu komandan tempur Falintil bersama Lere Anantimur, Taur Matan Ruak – kini berpangkat Brigadir Jendral menjadi Panglima Angkatan Bersenjata Timor Leste – Falur Rate Laik dan Ular Ryhnyk . Mereka membagi Timor Lest ke 4 Region. Pemimpin Falintil ini sendiri adalah Xanana Gusmao, dan kemudian digantikan oleh Taur Matan Ruak saat Xanana di penjara di Jakarta )

Para Jurnalis ini tinggal di sebuah rumah kampung, yang mereka sebut “ Kedutaan Besar Australia. “ Di rumah ini mereka mengambar bendera Australia pada sebuah dindingnya.  Tapi rakyat setempat menyebut rumah ini  nama rumah Cina. Beberapa hari mereka di sini mereka menanti  saat terjadinya serbuan darat dari pihak Indonesia.  Penantian itu akhirnya berbuah hasil, saat subuh serangan itu terjadi. Mereka memburu gambar ke medan paling depan, saat semua orang, termasuk tentara Falintil melarikan diri. Di garis depan,  ada soal teknis, di mana kamera harus menunggu beberapa saat agar memperoleh cahaya  matahari. Kelambatan mereka menunggu moment inilah yang mengakibatkan mereka  terkepung ( versi Indonesia – terjebak ) dalam pertempuran.  Merekapun berlarian kembali menuju rumah  “ Kedutaan Besar  Australia itu “ , rumah yang kemudian sempat di kunjungi Roger East.

East pulang dari Bolibo kembali ke Dili dengan perjalanan yang mendebarkan. Ia mulai menyuarakan apa yang terjadi di Timor Leste termasuk nasib ke 5 wartawan ini. Roger  pantas kecewa karena saat itu pemerintah Australia tidak memberikan perhatian pada nasib para wartawan mereka .  Di Dili Roger kembali bertemu dengan Horta.  Horta memperkirakan Dili akan segera jatuh dan sempat meminta agar Roger  meninggalkan Timor Leste bersamanya, tapi hal ini di tolak Roger“ tidak ada seorang pun yang akan melaporkan kondisi di Timor Leste jika aku pergi “  jiwa kewarawannya yang tinggi inilah yang kemudian harus dibayarnya dengan harga mahal. Tak terlalu Horta pergi , pasukan Indonesia diterjukan ke Dili dan pasukan darat masuk ke jantung kota, tempat hotel Tourismo berada.

Roger East di yakini sebagai wartawan pertama yang memberitakan masuknya pasukan Indonesia ke Dili. Saat memberikan laporan inilah tentara membawanya keluar ruangan.  Julianalah yang menyaksikan dibawa  keluarnya  Roger East dari dalam hotel menuju ke pelabuan Dili. Apa yang di saksikan Juliana  24 tahun lalu ini  kemudian di jadikan testimonti pda  Komisi  Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi . Komisi ini bekerja  beberapa bulan setelah hasil referendum  bulan Agustus 1999 memutuskan rakyat Timor Leste keluar dari NKRI.

Ini adalah film dengan versi Australia.  Pengarapannya sutradara Bob Conolly  cukup baik, ada lagu tradisional Timor Leste dan beberapa intercut gambar pemandangan Timor Leste yang cukup menarik.  Tapi  apakah memang ke lima wartawan ini mati dengan cara seperti yang ada pada film itu, serta apakah benar adanya pembantaian besar-besaran di Pelabuhan di kota Dili ?

Masalah ini tidak terselesaikan  selama 34 tahun, pemerintah Indonesia berdalih mereka tewas karena terjebak dalam peperangan. Tapi tidak adanya informasi yang terbuka menyebabkan masalah ini  selalu menjadi ingatan para jurnalis di Australia. Belum lagi janda Greg Shackleton, Sirley  menjadi pendukung yang vocal bagi East Timor’s fight for Independence.  Bukan hanya Sirley tapi sejumlah keluarga dari para wartawan ini aktif menuntuk keadilan atas persitiwa ini. Selain pihak keluarga, ada banyak saksi mata warga Timor Leste yang menjadi saksi kejadian ini.

Seharusnya masalah ini berani dibuka oleh Indonesia – Australia, demi kepentingan nasional kedua Negara .  Munkin tokoh Juliana tidak pernah tertulis dalam sejarah Timor Leste,  tapi ada ribuan orang seperti  Juliana yang bisa bercerita bagaimana pasukan Indonesia masuk ke Timor Leste dan mendudukinya selama 24 tahun. Selan itu  jika masalah ini tidak terselesaikan, maka hubungan kedua Negara akan terus mengalami ketegangan akibat pemberitaan yang dibuat oleh Pers Australia. Contohnya di era Soeharto ada Tulisan David Jenkins di Sydney Morning Herald soal harta kekayaannya dan di blow upnya Insiden Dili tahun 1991. Dan contoh paling kongkrit  9 September lalu,  Polisi Federal Australia mengumumkan penyidikan atas adanya dugaan  kejahatan perang atas tewasnya ke 5 wartawan Australia di Balibo. Ini kemudian semankin seru dengan peluncuran film Balibo Five, yang resminya dilarang beredar di Indonesia.

(Raymond Kaya, Kepala Peliputan Liputan 6 SCTV,  menjadi reporter  saat Jajak Pendapat di Timor Timur Agustus – September 1999 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: